47 | Penjara Bawah Tanah

2.6K 153 12
                                        


⚜️⚜️⚜️

PENJARA bawah tanah itu adalah tempat yang mengerikan dan sangat tidak layak huni. Terletak di bawah istana, tempat ini memiliki kondisi yang sangat gelap, lembap, dan sempit. Ketika tahanan dibawa masuk ke penjara ini, mereka akan melalui terowongan sempit sebelum akhirnya tiba di ruangan kecil tanpa jendela atau ventilasi yang memadai. Udara di dalamnya sangat tidak sehat dan berbau busuk. Tidak ada sinar matahari yang bisa masuk, hanya tetesan air dari dinding yang dingin yang menambah kesan suram.

Nicholas duduk termenung, memandangi cahaya redup dari lentera yang menerangi selnya. Udara lembap yang dingin menyentuh kulitnya, sementara bau busuk yang menyengat memenuhi ruangan. Selama ia berada di sana, satu-satunya suara yang terdengar hanyalah gemericik tikus yang berkeliaran di atas lumpur basah.

Ceklek!

Pintu besi sel tempat Nicholas ditahan berderit tanda dibuka. Agast datang mengunjunginya dengan penuh kekhawatiran. Namun, Nicholas tampak tidak menggubris kedatangannya. Sedikit pun ia tidak menoleh, tetap tercenung dalam pemikiran yang dalam.

"Apa yang sedang kau pikirkan, Nicholas?" tanya Agast. Ia duduk di sebelah Sang Pangeran yang tampak lusuh dengan pakaian seadanya.

Nicholas tidak segera menjawab. Ia terus merenung dalam kesendirian, mencoba memahami semua yang telah terjadi sejak dua hari lalu ia ditahan di sana.

Agast menghela napas panjang, melihat betapa Nicholas telah berubah sejak terakhir kali mereka bertemu. Sahabatnya itu banyak kehilangan berat badan. Wajahnya terlihat kusam dan suntuk.

"Nich?" Agast menepuk pelan bahu Nicholas yang akhirnya membuat Nicholas menoleh.

"Mau apa kau kemari?" tanya Nicholas dengan suara parau.

"Tentu karena aku ingin melihat keadaanmu," jawab Agast.

Terjadi keheningan selama beberapa detik. "Aku sudah mendengar semua ceritanya dari seorang pengawal dan langsung meminta izin untuk mengunjungimu di sini," lanjutnya.

Nicholas kembali menunduk. "Apa kau juga akan berpihak pada Raja Luther dan menganggapku berbohong tentang Madeleine?"

Agast kembali menghela napas. "Sejujurnya, ketika melihatmu seperti ini, aku yakin bahwa kau tidak melakukan hal itu pada Putri Madeleine."

"Aku memang tidak melakukannya," sela Nicholas.

Agast membiarkan Nicholas mengatur napas yang tiba-tiba meningkat saat membantah tuduhan yang selama ini mengarah padanya. Nicholas tampak sensitif, dan Agast memberi waktu agar sahabatnya bisa tenang. Ia memahami bahwa tuduhan semacam itu sangatlah tidak nyaman.

"Kenapa hidupku seperti ini, Gast?" tanya Nicholas dengan suara lirih. "Aku belum sembuh dari kesedihan karena kehilangan Ramond, dan sekarang aku dihadapkan dengan kenyataan bahwa aku harus bercerai dengan Anastasia agar bisa dinikahkan dengan Madeleine. Apakah takdirku seburuk ini?"

"Nicholas, jika kau menanyakan itu padaku, aku tidak tahu harus menjawab apa karena bukan aku yang berkuasa atas hidup ini. Aku pun hanyalah seorang pendosa yang tidak memahami banyak hal. Namun, aku yakin, cepat atau lambat, kebaikan akan berpihak padamu."

Nicholas terdiam. Ia mengangkat wajahnya dan memandang Agast dengan tatapan sayu yang penuh harapan. Mungkin saat ini hanya Agast yang bisa ia andalkan, karena hanya Agast yang berpihak padanya. "Apakah kau bersedia membantuku, Gast?" tanyanya pelan.

"Aku akan membantu sebisa yang aku mampu. Apa ada sesuatu yang terlintas dalam pikiranmu?"

Nicholas mengangguk. "Aku mohon padamu. Tolong cari di mana keberadaan Madeleine. Aku yakin dia sedang merencanakan sesuatu yang buruk untuk menjatuhkan aku dan Raja."

Marrying A PrinceTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang