31 | Tuntaskan Segera!

2.4K 151 16
                                        


⚜️⚜️⚜️

"STASIA, aku pulang," ujar Nicholas seraya membuka pintu kamar dan menampakkan  kepalanya dari balik pintu.

Tidak ada jawaban. Hanya suara gemeretak  kayu dari perapian yang menyala untuk menghangatkan ruangan kamar  mereka.

Nicholas mengarahkan pandangannya ke arah ranjang. Di sana Anastasia sudah tertidur lelap. Wajar saja, mengingat hari sudah sangat larut  malam. Nicholas berkeliling desa dan kota terlalu lama, sehingga pulang  ke kastil terlambat sekali.

Nicholas  masuk ke dalam kamar dengan langkah hati-hati, mendekati ranjang tempat Anastasia berbaring. Dengan lembut, ia menarik selimut untuk menutupi tubuh istrinya hingga ke leher, lalu duduk di tepi ranjang. Ia  meletakkan kedua tangannya di sisi kepala Anastasia, menunduk dan  mencium hangat kening istrinya itu.

Kecupan itu membuat Anastasia terbangun. Dengan masih sedikit terpejam, ia membuka mata dan mendapati wajah Nicholas tepat di depannya. "Kau baru  pulang?" tanyanya dengan suara serak karena baru terbangun.

"Iya."

"Sudah makan?"

"Sudah, Stasia. Kau sudah?"

Anastasia mengangguk lalu melingkarkan tangannya di leher Nicholas, mengusap jemarinya dengan lembut di atas rambut belakang pria itu. "Kenapa pulangnya begitu lama?"

Nicholas menghela napas. "Aku mengunjungi banyak desa dan kota. Semuanya dalam keadaan kacau balau. Rasanya aku sangat kesal dan ingin segera membuat kebijakan agar masalah di wilayah ini segera terselesaikan."

"Kau sudah memulainya dengan baik. Aku yakin kau pasti bisa mengatasinya. Bersabarlah. Semua ada waktunya."

Nicholas mengangguk, lalu mencium bibir Anastasia sekilas. Walaupun hanya kata-kata, tapi ucapan istrinya membuat Nicholas tenang.

"Hari ini kau tidak nakal, kan?"

"Tidak, hari ini aku patuh dan mengingat semua pesanmu. Kalau kau ragu, boleh tanyakan pada pengawal yang ikut denganku."

"Baguslah kalau begitu. Aku percaya padamu. Nanti akan kuberi hadiah," ujar Anastasia sambil tersenyum.

"Dua ronde, ya?" goda Nicholas dengan senyum nakal.

"Heh! Kau ini. Hadiah yang aku maksud tidak sama seperti yang ada di  pikiranmu, Nicholas," ujar Anastasia sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Oh, begitu. Aku kira..." Nicholas menghentikan ucapannya, diikuti dengan  gelak tawa kecil. "Lalu, bagaimana harimu di sini? Apa semuanya  baik-baik saja?"

"Semuanya baik-baik saja, Nich. Aku menghabiskan waktu di kebun bersama Irene."

"Sepertinya harimu sangat menyenangkan. Berbeda denganku," sahut Nicholas dengan ekspresi lesu, bibirnya sedikit terlipat.

"Ada apa lagi?"

"Tadi, ketika aku makan di kedai makan terkenal yang sering dikunjungi kaum  bangsawan. Di sebelahku ada pasangan suami istri yang begitu mesra,  membuatku merindukanmu," cerita Nicholas.

Anastasia hanya tertawa kecil. Ia mengira ada masalah serius yang akan  dibicarakan, ternyata hanya itu. "Tapi sekarang aku sudah di sini di depanmu," ucapnya sambil tersenyum.

"Iya, aku tahu. Tapi ada satu hal lagi yang membuatku sedih."

Anastasia mengernyit. "Apa itu?"

"Aku mendengar mereka memiliki panggilan sayang satu sama lain. Sedangkan kita tidak punya. Itu membuatku sangat iri."

Marrying A PrinceTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang