20. CHAPTER 20

31 2 0
                                        

hai hai hai




HAPPY READING

Di sini lah Hana sekarang.

Gadis itu sedang duduk di kursi tunggu rumah sakit. Ia hanya diam dan menunduk, tubuhnya bergetar ia meremat jari-jarinya karena panik, takut, khawatir semuanya menjadi satu.

Beberapa orang melihat Hana dengan rasa kasihan dan miris karena Seragam sekolah yang Hana pakai sudah berlumuran dengan darah. siku dan pelipis Hana bahkan terluka dan mengeluarkan darah.

Sebenarnya Hana juga merasakan sakit pada kakinya mengingat tadi sempat terjepit di mobil saat kecelakaan.

"Hana,"

Panggilan dari Rey bahkan tidak dihiraukan oleh Hana. Sedari tadi Rey berdiri di depannya untuk membujuknya mengobati lukanya tapi Hana terus menolak. Tangan Rey bergerak mengelus kepala Hana pelan.

"Gio akan baik-baik saja."

Hana menggelang pelan dan kembali terisak pelan membuat Rey menghela napas pelan.

Derap langkah ramai terdengar memasuki rumah sakit. Beberapa dari mereka bahkan berlari dengan perasaan khawatir. Rey melihat siapa yang datang lalu sedikit menyingkir memberikan mereka tempat.

Alam berlari dan begitu melihat Hana ia langsung memeluk tubuh lemas Hana dengan erat. Alam mendudukkan dirinya di samping Hana dengan tetap mendekap tubuh sang adik.

Tangis Hana langsung pecah disaat Alam membisikkan kata penenang untuknya. Alam tau adiknya pasti masih Syok karena kejadian tadi.

Saudaranya yang lain berdiri mengelilingi mereka. Hati mereka terasa sesak ketika melihat keadaan Hana. Mereka khawatir apalagi memikirkan bagaimana keadaan Gio di dalam sana, di ruang ICU yang sedang ditangani oleh dokter.

"Ayo kita obati dulu luka kamu." Alam melepas dekapannya kemudian menggendong Hana ala bridal style dengan sigap.

Revan yang mengerti langsung memanggil suster. Alam yang melihat para suster membawa bankar rumah sakit langsung saja menidurkan Hana di sana. Kava juga melepas jaketnya untuk menutupi kaki Hana.

Hana hanya terdiam pasrah menatap kosong orang-orang disekitarnya. Lidahnya terasa kelu untuk sekedar berbicara. Hana yang mulai merasakan sakit disekujur tubuhnya perlahan menutup mata kemudian tidak sadarkan diri. Suster yang melihat itu sontak mempercepat jalannya sambil mendorong bankar.

Flashback on....

Tengah berdiri seorang pria di dalam sebuah ruangan yang berada di salah satu gedung pencakar langit.

Pria berkemeja hitam dengan lengan tergulung itu tengah melihat ke luar gedung, lebih tepatnya ke arah jalan raya di bawah sana.

"Sebentar lagi. Hanya hitungan detik," ucap Pria itu melihat sebuah mobil berwarna putih yang berhenti di belakang pengendara motor dikarenakan lampu merah di perempatan jalan.

"Tiga...dua..." Mata pria itu melirik ke arah jalan lain, ia melihat sebuah tronton bermuatan pasir hitam melaju kencang ke arah perempatan. Pria itu menyeringai bak iblis. Lampu lalu lintaspun berubah menjadi hijau.

"Satu."

Suara ledakan mesin kendaraan terdengar menggelegar ketika saat tabrakan itu terjadi.

Terdengar pula gesekan kasar besi baja dari berbagai kendaraan dengan aspal yang sangat memekakkan telinga.

Banyaknya percikan kaca terlihat beterbangan dan jatuh tak beraturan.

RAVANKGAS || [ON GOING]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang