22. CHAPTER 22

35 1 0
                                        

hallooo
gimana kabar kalian? Aku harap kalian baik dan juga bahagia






HAPPY READING

Flashback on...

"Zriel pulang," ucap remaja 16 tahun berseragam putih biru saat memasuki sebuah rumah.

"DASAR BRENGSEK KAMU MAS!!"

"SIAPA PEREMPUAN TADI, HAH?! BERANI SEKALI KAMU SELINGKUH DARIKU MAASS!!"

"KAMU PIKIR AKU SELINGKUH KARENA
SIAPA? YA KARNA KAMU!!" Bantah seorang pria pada wanita di depannya.

"PERGI DENGAN LAKI-LAKI LAIN DENGAN ALASAN KERJA? CUIH! SUDAH BERAPA PRIA YANG KAU GODA?!"

"JANGAN SEMBARANGAN YA KALAU NGOMONG! HARUSNYA KAMU BERTERIMAKASIH PADAKU KARENA AKU KELURGA INI BISA MAKAN! BUKANNYA MALAH MENUDUHKU!" teriak wanita itu yang tak lain adalah ibu dari Azriel.

"HARUSNYA KAMU SADAR! KAMU KEPALA RUMAH TANGGA, KAMU YANG HARUSNYA KERJA!"

Berisik sekali, sungguh...

Azriel hanya terdiam melihat dan mendengar semuanya. Ia cukup paham. Kedua orangtuanya tidak sedang dalam hubungan yang baik.

Ia baru saja pulang sekolah. Seperti layaknya keluarga ia ingin disambut dengan senyum oleh kedua orangtunya. Ditanya bagaimana tentangnya saat di sekolah.

Layaknya Ibu yang antusias saat anaknya pulang sekolah. Menyiapkan makan siang dan bercerita tentang segala hal di meja makan dengan penuh kebahagiaan.

Sirna, semuanya telah sirna

Harapan itu hanya khayalan belaka untuk Azriel

Teriakan dan makian yang justru ia dapatkan

Kecewa dan rasa sakit yang sayangnya harus ia terima

Tuhan, Azriel tidak tahan lagi dengan semua ini. Setiap bangun dan membuka mata ia selalu melihat orangtuanya bertengkar. Berdebat akan sesuatu yang terkadang tak dimengerti oleh Azriel sendiri.

Mata Azriel memanas melihat itu semua. Tangannya mencengkram erat tas yang ia pegang. Manatap nanar penuh kecewa kepada orangtuanya saat ini. Dengan langkah berat, ia berjalan melewati orangtuanya yang masih berdebat dan masuk ke dalam kamarnya.

Azriel bersandar pada pintu sebentar untuk mengambil nafas kemudian menghembuskannya dengan kasar. Dengan gerakan cepat ia membuka lemari baju lalu memasukkan beberapa pakaian ke dalam tas sekolahnya.

Setelahnya ia mengambil hoddie yang ada di meja kamarnya lalu memakainya. Azriel terdiam sebentar saat melihat kondisinya dipantulan kaca yang terpasang di dinding kamarnya.

Matanya yang memerah karena menahan tangis. Nafasnya tercekat karena mencoba menahan marah.

Namun, pertahanannya pun hancur

tes

tetesan demi tetesan airmata turun menuruni pipi tirusnya. Azriel yang menyadari hal itu langsung menghapusnya dengan kasar.

Lemah, pikirnya.

Haaaah...

Helaan nafas panjang terus terusan terdengar dari remaja itu.

Azriel kembali pada kesadarannya. Ia mengambil tas yang sudah berisi beberapa pakaian miliknya. Sedangkan buku-buku sekolahnya? Entahlah, dirinya bahkan sudah berpikir bahwa ia tidak akan kembali ke sekolah.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jul 06, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

RAVANKGAS || [ON GOING]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang