Jangan lupa vote yaaa...
•
•
•
•
•
HAPPY READING
Haaaah......
"Ini udah helaan napas lo yang ke delapan belas sejak gue duduk di sini, Han."
Mendengar ucapan Sagar barusan justru membuat Hana lagi dan lagi menghela nafas dan membuat Sagar semakin jengkel.
"Gue bosen tauk, Gar." Ujar Hana menatap Sagar yang juga menatapnya.
Sudah terhitung seminggu sejak Hana berada di rumah sakit dan itu benar-benar membuat Hana merasa bosan. Bahkan sekarang infus di tangannya juga sudah di lepas.
Ini semua karena papa yang mengikuti saran dari dokter. Meskipun telah kembali sehat, dokter masih harus memantau kaki Hana untuk menentukan kapan ia bisa terapi untuk bisa berjalan lagi.
Sekarang giliran Sagar yang menghela nafas karena tidak tau harus merespon Hana bagaimana. Ia berpikir sejenak kemudian mengetik sesuatu di ponselnya.
"Bentar, Han."
Hana melihat penasaran ke arah Sagar yang masih serius dengan benda pipih itu.
Tak berselang lama, Sagar selesai dengan ponselnya lalu memasukkannya ke saku kemeja kotak-kotaknya yang tidak dikancingkan karena ia masih memakai kaos putih pendek di dalamnya.
Sagar berdiri, mengambil kursi roda Hana lalu berjalan mendekat ke bankar Hana.
"Ngapain, sih?" gumam Hana keheranan.
"Mau jenguk bang Gio nggak?" tanya Sagar saat baru ingin membantu Hana duduk di kursi roda. Anggukan dari Hana, Sagar dapatkan sebagai jawaban.
"Tapi emang bang Gio udah boleh dijenguk ya?"
"Udah. Gue juga udah ijin sama papa tadi, terus dibolehin-"
Sagar membantu Hana menyingkirkan selimut rumah sakit yang Hana pakai. Dengan pelan dan perlahan Sagar menurunkan kaki Hana sehingga kedua kaki gadis itu menggantung.
-Kalau lo mau, setelah jenguk bang Gio nanti kita ke taman rumah sakit, gimana?"
"Gue mau! Gue mau!" Jawab Hana dengan semangat membuat Sagar tersenyum manis.
"Ayo, gue bantu duduk di kursi roda."
"Maaf yaa..." ucap Sagar dengan lembut, bermaksud permisi pada Hana karena harus menggendongnya agar bisa berpindah duduk di kursi roda.
Mendengar itu Hana mengangguk pelan. Dunia seolah melambat untuk Hana. Melihat wajah Sagar dari dekat membuat jantung hati Hana jedag jedug.
Sinar matahari pagi menjelang siang kini menembus jendela membuat Hana kaget karena cahanya langsung menyorot ke mata-nya. Hana menunduk menyembunyikan wajahnya di pundak Sagar.
Rezeki anak sholeh. Batin Sagar berjengit senang.
Sagar yang sadar akan hal itu langsung mendudukkan Hana di kursi roda. Karena Hana sudah tidak memakai infus jadi itu memudahkannya saat memakai kursi roda.
"Makasih, Gar." Ucap Hana pelan, merutuki hatinya yang baperan.
BRAKK
Saat Sagar baru akan mendorong kursi roda Hana, pintu ruangan tiba-tiba terbuka dengan tidak estetiknya.
Dan tampaklah para bocil kematian. Hana dan Sagar sontak mendengus malas. Azriel, Kava, Satya dan juga Venus sudah dengan setelan santai mereka. Ini hari minggu jadi mereka sedang libur sekolah.
"Ciri-ciri orang yang kismin akhlak ya kek gitulah tingkahnya," ujar Sagar diangguki setuju oleh Hana.
"Mau lo bawa kemana kakak gue, hah?!" tanya Kava nyolot sambil berdiri di depan Hana, menyetop Sagar.
KAMU SEDANG MEMBACA
RAVANKGAS || [ON GOING]
Fiksi Remaja__________ Beberapa tahun yang lalu, penyerangan brutal di markas Ravankgas menewaskan hampir seluruh anggotanya. Namun, semua orang mengira bahwa Ravankgas telah musnah termasuk generasi pertama yang seharusnya menjadi pahlawan. Dalam kebingunganny...
![RAVANKGAS || [ON GOING]](https://img.wattpad.com/cover/273911570-64-k780701.jpg)