"kita akan pergi tanpa Ziva?"
"ya"
"kemana?"
"nanti aku akan beri tahu kamu"
"tapi bagaimana dengan Ziva?"
"kita akan ajak Ziva jalan-jalan setelah kita pulang. Aku bisa minta Inah untuk siapkan Ziva selama kita pergi, setelah selesai kita akan jemput Ziva dan pergi kemanapun Ziva inginkan, how?"
"oke...whatever you want" Kean mengecup bibir Syd. Kean perlahan melumat bibir Syd yang selalu manis. Kean memeluk pinggang Syd dan menikmati bibir Syd dengan tidak sabar. Syd mulai menaikkan lengannya melingkari leher Kean. Kean perlahan menyudutkan Syd ke tembok dan mulai menciumnya lebih dalam. Tubuh Syd mulai tak karuan menerima serangan Kean.
"Bun....da?" Ziva bergumam pelan menatap Syd dan Kean. Kean langsung menghentikan aktivitasnya saat mendengar suara Ziva. Syd dengan cepat mengembalikan dirinya yang sedang melayang-layang di udara karena serangan Kean. Syd menahan tawanya melihat reaksi Kean yang super terkejut.
"h....hai sayang, morning" Syd menjawab santai, sedangkan Kean memilih bersembunyi di balik pelukan Syd. Nafas Kean masih memburu.
"aku lupa mengunci pintu" Kean berbisik di telinga Syd.
"it's okay" Syd mengusap punggung Kean yang masih berada di pelukannya. Kean lalu melepaskan pelukan Syd dan duduk di pinggiran ranjang. Ziva menghampirinya dan mencium pipi Kean.
"apa Bunda dan Ayah akan pergi?"
"ya, Ayah dan Bunda ada urusan, nanti setelah urusan Ayah dan Bunda selesai, kita akan jemput Ziva untuk pergi jalan-jalan"
"oke" Ziva mengecup bibir Syd dan Kean lalu berlari ke kamarnya. Syd dan Kean berpamitan dan meminta Inah menyiapkan Ziva.
Pagi itu Syd sudah diam di balik kemudi, sementara Kean mengernyitkan dahinya. Syd tampak bersemangat pagi itu, entah kenapa. Namun Kean yakin, pasti ada sesuatu hal menyenangkan yang ingin Syd tunjukkan padanya. Kean semakin mengerutkan dahinya saat Syd membelokkan SUV nya ke The Ritz Hospital.
"untuk apa kamu kesini? Aku libur praktek hari ini sayang" Kean masih enggan melepas safetybelt nya.
"aku ada janji, kamu ikut atau ingin tunggu disini?"
"ikut" Kean berkata tegas. Kean menggenggam tangan Syd. Mereka bertemu dengan beberapa suster yang mengenal Kean. Mereka menuju lift dan Syd menekan tombol 5.
"kamu akan ke lantai 5? Obgyn center?" Syd mengangguk mantap, sementara Kean ternganga.
"aku ada janji dengan dokter Indah. Aku akan mengabulkan permintaan Ziva. Tapi sebelumnya aku ingin berkonsultasi dulu dengan dokter" Syd tersenyum simpul dan menarik Kean keluar dari lift. Kean masih ternganga dengan apa yang di katakan Syd. Mereka duduk di kursi tunggu setelah Syd melakukan registrasi ulang.
"are you serious?"
"so so so so so serious"
"kamu tidak terpaksa melakukan ini?"
"no, kamu sendiri yang meminta aku mengusahakan ini, Right?"
"ya" Kean mengangguk, dirinya masih agak terkejut. Syd dan Kean memasuki ruangan dokter Indah. Mereka sudah saling mengenal. Syd banyak menanyakan tentang hal-hal yang tidak di ketahui sebelumnya tentang seputar kehamilan. Syd pun menjalani serangkaian pemeriksaan oleh dokter Indah.
"bagus, tidak ada masalah. Ibu Sydney juga subur sehingga peluang memiliki anak nya besar. Tidak ada masalah apapun dengan Ibu Sydney. Memang sudah berapa lama kalian menunda?"
"3 tahun ini dok" Kean menjawab dengan santai, dokter Indah hanya tersenyum penuh pengertian.
"ya pasangan muda memang senang menunda, mungkin sekarang sudah saat nya dokter Keanu dan ibu Sydney memiliki anak" Syd hanya mengangguk.
Setelah puas bertanya Syd dan Kean pun pulang. Senyuman tak pernah terlepas dari bibir Kean.
"thanks sayang, kamu mau melakukan ini untuk aku dan Ziva"
"you're welcome" Kean mengecup bibir Syd berkali-kali. Syd lalu merangkum wajah Kean, menghentikan kecupannya.
"kita harus berusaha lebih giat lagi agar bisa secepatnya memberi Ziva adik, tampaknya dia sudah tidak sabar"
"ya...."
"so, aku tidak perlu lagi memakai pengaman kan?" Kean terkekeh melirik Syd.
"of course caroooo !!!" Syd menganggukkan kepalanya mantap. Syd merasa bahagia melihat Kean. Syd yakin, ini keputusan terbaiknya. Syd mencoba melawan rasa takutnya untuk memiliki anak. Ini akan menjadi hadiah terbaik untuk Ziva. Ziva pasti akan menjadi orang yang paling bahagia, karena sekarang kebahagiaan Ziva adalah hal terpenting bagi Syd dan Kean. Semuanya demi Ziva....jika bukan karena Ziva, Syd tidak mau melakukan ini.
***
"amare....Sydney"
Syd terlihat menggigil malam itu. Kean menepuk pelan pipi Syd.
"Kean....." Syd bergumam pelan, matanya perlahan membuka. Syd memegang pipi Kean yang memandanginya.
"aku akan bawakan kamu parasetamol, wait sayang" Kean beranjak menuju kotak obat. Mencari tablet parasetamol untuk Syd. Setelah mendapatkannya, Kean langsung membantu Syd meminumnya. Syd kembali tertidur hanya saja Kean agak panik melihat Syd sakit.
"I'm okay Kean, aku hanya demam, aku ga sangka kamu selalu sepanik ini setiap aku sakit. Kamu kan dokter" Syd berkata serak, Kean mengangkat Syd ke dalam pelukannya.
"ya, aku selalu panik. Aku khawatir sayang" Kean mengusap kepala Syd.
Kean menunggu Syd hingga Syd kembali tertidur. Kean akhirnya kembali melanjutkan tidurnya.
Pagi hari, Syd di bangunkan dengan perasaan yang tidak karuan. Isi perutnya bergolak meminta di keluarkan. Syd berlari ke toilet. Demam nya sudah turun. Mungkin demamnya berpindah ke perut, gumam Syd dalam hati. Syd memuntahkan isi perutnya yang kosong. Syd bercermin, wajahnya sangat pucat pasi. Sepertinya hari ini tidak akan masuk kantor, ujarnya. Syd meraih ponselnya, mencoba menghubungi Merry. Syd duduk di single sofa, menopang kepala dengan lengannya. Tangannya sibuk mengurut kepalanya yang sangat pening.
"Mer, saya sakit. Atur ulang jadwal meeting hari ini"
"baik bu, semoga ibu cepat sembuh"
"thanks Mer"
Syd tak sanggup kembali berbaring karena perutnya terasa bergolak seperti ada yang meremas. Syd menengadahkan kepalanya menatap langit-langit. Oh God !! Apa yang aku makan sebelum hari ini??? Syd terus mengingat apa yang dimakannya kemarin, 2 hari yang lalu bahkan 1 minggu yang lalu. Tapi Syd selalu konsisten dalam hal makanan, Syd memang sangat menjaga pola makannya. Apa yang masuk ke dalam mulut Syd semua konsisten setiap harinya.
"morning Bunda" Ziva mengintip di balik pintu, setengah berlari menghampiri Syd dan langsung bertengger di pangkuan Syd sambil menghadapnya.
"morning, Ziva kamu bisa sedikit pelan untuk duduk di pangkuan Bunda sayang?" Syd mengerang karena Ziva membuat kepalanya semakin pusing dan perutnya semakin bergolak. Syd menggosok wajah dengan tangannya lalu merangkum wajah Ziva. Mencium kening dan bibirnya.
"sorry Bunda" Ziva menilik Syd dan memasang wajah seperti merasa bersalah.
"beautiful girl" Syd tersenyum melihat Ziva yang memakai baju ballet hari ini, dengan rok toetoe berwarna pink dan rambut yang di cepol rapi.
"thank you Bunda, Bunda sakit?"
"ya, perut Bunda seperti diserang monster" Syd tersenyum tipis pada Ziva, Ziva tampak khawatir.
"Ziva ga mau sekolah, Ziva akan jaga Bunda"
"no sayang, ada Ayah yang menjaga Bunda, Oke?"
"oke...." Ziva mengangguk setuju sambil menyingkap rambut Syd yang menghalangi pandangannya.
"kamu turun sarapan ya, Bunda akan menyusul. Bunda akan siapkan bekal untuk kamu"
"oke, love you Bunda" Ziva merangkum wajah Syd dan mengecup bibirnya.
"love you too my gorgeous daughter" Syd balik merangkum wajah Ziva dan menghujaninya dengan kecupan hingga Ziva tertawa terbahak-bahak. Ziva berlari menuju pintu dan menghilang di baliknya. Syd tersenyum melihat tingkah Ziva. Ziva selalu mampu menghiburnya dan membuatnya tertawa.
"morning"
"hai, morning" Kean baru saja keluar dari ruang wardrobe dengan Syd bangkit dari sofa dan seketika pandanganya kabur. Kean dengan sigap memeluk Syd. Syd menjatuhkan kepalanya di bahu Kean.
"Syd, you okay?"
"not really, kepala aku sangat berat" Kean langsung menggendong Syd menuju ranjang dan membaringkannya. Syd mengurut kepalanya sambil memejamkan kepalanya.
"kamu jangan banyak bergerak, aku akan minta Vita untuk memeriksa kamu, ya?"
"oke, kamu turun dan temani Ziva sarapan ya? Katakan sama Ziva aku ga bisa buatkan dia bekal hari ini, minta Inah untuk menyiapkan bekal"
"sure sayang, aku akan bawakan sarapan untuk kamu" Syd mengangguk pelan. Kean mengecup kening Syd dan menaikkan selimutnya.
***
"tidak ada masalah serius pada Syd, aku menangkap kecurigaan Kean"
Kean mendapat telepon penting dari Vita yang sudah memeriksa Syd tadi pagi. Kean mengernyitkan dahinya.
"kecurigaan apa?" Kean bertanya tidak sabar, khawatir ada hal serius yang menimpa istrinya. "aku curiga Syd.....hamil" Vita berkata pelan penuh penyesalan. Kean ternganga mendengar perkataan Vita.
"what?????"
"tapi....tapi, kamu jangan terlalu terkejut seperti ini Kean. Aku...aku sudah ambil sample darah Syd dan hasil lab nya akan keluar sore ini. Mudah-mudahan ini hanya dugaan aku saja Kean. Jangan....jangan khawatir"
"Vita, demi Tuhan jika ini benar aku sangat bahagia"
"what???? Apa Syd dan kamu menginginkan ini??"
"sure, aku menunggu ini sejak 3 bulan yang lalu. Aku dan Syd memang mengikuti program untuk kehamilan Syd 3 bulan yang lalu"
"oh...my...gosh !! Untuk apa aku ragu-ragu menyampaikan pesan ini sama kamu Keanu !!!" Vita menggeram, Kean tertawa terbahak-bahak mendengar sahabatnya ini setengah marah.
"oke, sorry Vit, memangnya kenapa kamu takut?"
"aku takut Syd berniat menggugurkan kandungannya. Huuuh, untunglah" Vita bernafas lega sambil mengusap dadanya, Kean terkekeh.
"thanks Vit, semua ini karena permintaan Ziva dan Syd bersedia mengabulkan permintaannya"
"really?"
"ya...."
"Ziva....dia mampu mengubah kekerasan hati kamu dan Syd"
"ya Vita, aku sama sekali ga menyangka pengaruh Ziva akan sebesar ini di kehidupan aku dan Syd. Terutama Syd"
"well, congratulation. Aku berharap berita ini benar adanya, aku akan kirim langsung hasil lab ke ruangan kamu sekaligus memberikan selamat"
"thank you Vit, bye"
"bye"
***
"kabar apa Ayah?" Ziva begitu excited ketika Kean mengajaknya bicara di kamar. Ziva memeluk boneka barney nya sambil tertidur di samping Syd. Syd mengernyitkan dahinya sambil memandangi Kean. Kean beranjak membawa sebuah amplop.
"hasil cek lab" Syd menaikkan alisnya memperhatikan Kean. Syd menopang kepala dengan lengannya, wajahnya masih pucat.
"well, Ziva akan punya adik" Kean berkata pelan sambil tersenyum simpul pada Syd. Syd membelalakkan matanya, Ziva menarik nafas dan langsung memeluk Kean.
"really? Ziva akan punya adik bayi?" Ziva memandang Kean dan Syd bergantian. Kean mengangguk. Ziva langsung mencium Kean.
"thank you Ayah, thank you Bunda" Ziva sangat girang, bersorak sorai seolah baru mendapatkan lotere 1 milyar. Sementara Syd masih kebingungan.
"seriously?" Syd bergumam pelan sambil menatap Kean tak percaya. Kean mengangguk.
"ya" Kean tersenyum sambil menunjukkan kertas hasil cek lab. Syd tersipu. Kean langsung mengecup kening Syd.
"thank you Bunda" Kean berbisik, Syd hanya mengangguk.
"kapan adik Ziva lahir?"
"bagaimana kalau besok kita sama-sama mendatangi dokter untuk memeriksa adik Ziva?" Syd mengusap kepala Ziva, Ziva langsung mengangguk dan mencium pipi Syd.
"oke, sekarang Ayah akan antar Ziva ke kamar dan menidurkan Ziva"
"Ziva ingin Bunda"
"Bunda masih sakit, oke?" Ziva mengangkat bahunya tampak sedikit kecewa.
"night Bunda" Ziva mengecup kening dan bibir Syd.
"night sayang, have a nice dream"
"have a nice dream too, Bunda" Syd tersenyum lalu melambaikan tangannya pada Ziva yang nerada di gendongan Kean.
Syd lalu tertegun, masih bingung dengan apa yang baru saja di katakan Kean. Oh my God...are you serious? I'm pregnant? Syd meraba perutnya, rasanya tidak ada yang berubah atau sesuatu yang aneh didalam dirinya. Syd hanya merasa seperti zombi karena hari ini begitu lemas, tidak mau makan dan kepalanya sangat pusing. So hard to believe it !! Thank God !!
"Ziva sangat excited dengan kabar ini" Kean kembali ke kamar lalu melompat ke ranjang. Merangkul Sydney dan mengecup keningnya.
"aku masih belum percaya, aku ga merasakan hal aneh di tubuh aku atau aku....aku ga merasakan apa-apa Kean"
"ya, mungkin memang seperti itu. Besok kita akan cek dan mengajak Ziva. Aku sarankan besok kamu tidak masuk kantor dulu, oke?"
"oke, sure" Syd mendongakkan kepalanya memandang Kean.
"dan mulai sekarang, kamu harus lebih banyak menghabiskan waktu kamu untuk istirahat di rumah, kurangi waktu bekerja kamu"
"Kean, itu ga bisa"
"kamu bisa seandainya kamu mau usahakan ini. Aku hanya tidak mau terjadi apa-apa"
"yaaa, oke" Syd tersenyum, Kean memeluknya erat.
"oh...kamu sangat pucat, lebih baik kamu istirahat" Syd mengangguk lalu tertidur di dada Kean.
"night amare"
"night caro" Kean mengecup kening dan bibir Syd lalu mendekapnya erat. Kean masih belum bisa melepaskan senyum dari bibirnya. Kebahagiaan mendalam dirasakan Kean. Syd mau mengandung anaknya? Oh ini sebuah hal yang menakjubkan, ajaib dan sulit di percaya. Kean tak henti-hentinya mengucapkan syukur. Kean merasakan kebahagiaan yang tak pernah di rasakan sebelumnya. Dirinya tidak pernah bermimpi untuk ini, tapi ini tiba-tiba saja menjadi nyata. Thank God !!
***
KAMU SEDANG MEMBACA
The Break Principle
General FictionBagi Sydneyssa Mikhaila dan Dazzelo Keanu, pernikahan tidak selalu harus diikuti oleh kehadiran seorang anak. Sejak sebelum menikah, mereka sudah sepakat untuk menjalani hidup berdua tanpa tanggung jawab membesarkan anak-keputusan yang lahir dari pe...
