Gigih merasakan perubahan sikap Yanti sejak ia menyebut nama Puput. Ia pun bisa merasakan lirikan tajam penuh selidik yang perempuan itu tujukan padanya setiap ada kesempatan. Terlebih lagi ketika Windy berkali-kali mencoba untuk mendekatinya dan Gigih bisa merasakan tatapan penuh amarah dari perempuan yang membuatnya ingin beranjak dan memeluknya erat seperti beberapa saat lalu.
Api yang membumbung tinggi ketika beberapa panitia kembali menambah potongan kayu di tengah lapangan diikuti tepukkan tangan ketika penampilan terakhir dari peserta memulai sesi santai antara panitia dan peserta. Gigih bisa melihat tawa di bibir Yanti dari sudut matanya. perempuan yang masih menghindar darinya tersebut berdiri di antara ketiga sahabatnya. Ia harus menahan diri untuk tidak melangkah dan menariknya masuk ke dalam pelukan ketika melihat Fauzan melingkarkan lengan di pundak Yanti. Hingga tepukan dan teriakan memanggil namanya membuyarkan lamunannya.
“Lah… aku ngapain?!” tanya Gigih menoleh ke kiri dan kanan mencoba mencari tahu apa yang terjadi. Wajah Putra—sahabatnya sejak SMA—pun tak memberinya jawaban.
“Ayo Mas mantan ketua, boleh kasih sambutan atau nyanyi juga enggak apa-apa. Kita semua nriman[1], kok!” teriak Windy yang bertugas menjadi MC malam itu sambil menunjuk gitar di sampingnya. Gigih menggeleng dan mencoba untuk menolak sambil mengedarkan pandangan. Namun, setiap mata yang tertuju padanya seolah memberinya semangat untuk maju, kecuali satu orang yang menolak untuk memandangnya.
“Oke,” katanya tanpa melepas pandangan dari Yanti yang masih menolak memandangnya. “Nyanyi aja ya!” teriaknya sambil berjalan meraih gitar dan menarik kursi plastik yang panitia sediakan. “Mungkin enggak semua orang tahu lagu ini. Lagu ciptaan Izmail Marzuki ini jadi lagu favoritku. Semoga suka … jangan ngantuk, ya!” katanya lagi tanpa melihat wajah Yanti.
Gigih memetik senar gitar dan menyanyikan lagu yang muncul di kepalanya sejak perempuan bermata sipit itu menyebut namanya.
Aryanti dikau mawar asuhan rembulan
Aryanti dikau gemilang seni pujaan.
Dosakah hamba mimpi berkasih dengan puan
ujung jarimu kucium mesra tadi malam.
Dosakah hamba memuja dikau dalam mimpi
hanya dalam mimpi.
Gigih bisa merasakan pandangan Yanti yang tertuju padanya. Ia tak tahu apakah perempuan yang ia maksud mengerti dengan lagu pilihannya. Saat ini, Gigih terus bernyanyi dan menyelesaikan lagu yang ditutup dengan tepukan tangan riuh dari semua orang. “Udah, ya. Jangan minta lagu lagi! Lagu kedua enggak gratis!” Tanpa mencari tahu keberadaan Yanti, Gigih berdiri untuk kembali ke tempat semula hingga teriakan Wisnu membuat gerakannya terhenti.
“Tunggu tunggu … kayaknya itu judulnya Aryati bukan Aryanti!” teriak Wisnu yang berdiri tak jauh dari Putra. Kedua orang yang saling mengenal itu terlihat mencurigakan, karena sesekali keduanya melirik ke arah perempuan bermata sipit dengan tatapan tajam.
“Tolong di jelasin dulu itu, keseleo lidah atau disengaja!” teriak Putra membuat semua orang menanti jawabannya. Pelototan matanya tak membuat sahabatnya mundur, bahkan beberapa panitia terlihat tertawa menanti jawabannya.
“Puput, ih… jangan gitu dong. Jadi malu, kan!” jawab Gigih dengan centil mengundang tawa semua orang sambil berjalan menuju Putra dan Wisnu yang tertawa penuh kemenangan. Semua orang menyambut lagunya dengan suka cita, kecuali Yanti yang menatapnya dengan sorot mata tak bisa ia mengerti.
Malam semakin larut, satu persatu peserta kembali ke tenda mereka setelah ketua panitia mengucapkan terima kasih dan menyatakan acara tahun ini selesai. Diiringi tepukan tangan dan tawa, semua panitia terlihat menghela napas panjang meski tugas mereka belum sepenuhnya usai. Gigih bersama beberapa senior yang malam itu sengaja datang masih bertahan di sekitar api unggun, bahkan ia meminta beberapa panitia bergabung bersama mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
Enggak Sengaja Jatuh Cinta, lagi!
RomansaGigih Irawan menjadi pria yang memenuhi semua kriteria lelaki idaman Aryanti Citra Ramdhani saat keduanya masih duduk di bangku kuliah. Baik, ganteng, sabar, senyumnya membuat hati meleleh dan ngangenin. Namun, tiba-tiba dia menghilang tanpa kabar s...
