Yanti berjalan cepat menuju kelas ketika mendengar panggilan dari seseorang. Namun, ketika ia berhadapan dengan wajah asing yang belum pernah dilihat atau dikenalnya, Yanti segera menyadari siapa mereka. "Iya aku Yanti," katanya. "Sebelum kalian mau konfirmasi, ngancam atau apapun itu ... ada yang mau aku tanyakan." Ia menegakkan kepala, tak ingin terlihat lemah ataupun takut di depan siapapun.
Dua orang perempuan yang terlihat memendam marah—meski tak dikenalnya—tak membuatnya mundur. "Siapa? Fauzan, Rizal atau Wahyu?" tanyanya dengan tenang. Yanti sudah terbiasa berhadapan dengan perempuan yang terbakar cemburu, dan ia tidak akan terintimidasi meski mereka mengancamnya.
Ketika tak ada satupun yang menjawab, ia mengerti siapa yang mereka maksud. "Aaa ... Mas Gigih." Yanti terdiam sesaat, karena sejujurnya ia tak tahu bentuk hubungannya dengan lelaki yang kini ada dalam hidupnya. "Kenapa? Ada yang mau kalian berdua tanyakan?"
"Kamu pacar Mas Gigih?" tanya perempuan berambut pendek yang melotot ke arahnya. "Jawab!" hardiknya sambil menggertakkan gigi terlihat menahan marah.
Yanti memandang sekitar gedung yang sepi karena semua sudah memasuki kelas masing-masing, kecuali dirinya. Ia menghela napas panjang sebelum melangkah mendekati dua orang yang tak melepas pandangan darinya. "Pertama, aku enggak punya kewajiban untuk ngejawab pertanyaan kalian berdua." Yanti mengamati wajah perempuan kedua yang terlihat sedih bukan marah, dan itu membuatnya tergelitik. "Yang kedua adalah, apapun hubungan yang aku punya sama Mas Gigih bukan urusan kalian berdua!"
"Kam—"
"Tam, sudah!" sela perempuan kedua yang menarik lengan temannya. "Sudah. Enggak akan ada bedanya juga, kan!" Nada sedih yang terdengar jelas, membuatnya bisa menebak siapa perempuan nomer dua. "Sorry, udah ganggu kamu."
Yanti masih terdiam di tengah lorong, memandang keduanya meski sudah tak terlihat. Perasaan jengkel yang beberapa saat lalu dirasakannya, kini menguap. Tergantikan dengan rasa penasaran yang tak bisa ia tahan. Setelah beberapa saat menimbang untuk meneruskan langkah ke kelas atau kantin, akhirnya ia memilih untuk pergi ke tempat yang selalu berhasil memberinya kenyamanan.
Salah satu yang membuat Yanti betah di kampus adalah banyaknya ruang hijau terbuka hampir di setiap sudut kampus. Pepohonan dan taman yang membuat udara menjadi sejuk dan nyaman menjadi daya tarik tersendiri. Salah satu tempat yang ia datangi di antara jam kuliah—atau ketika ketinggalan kelas—adalah bangku beton yang berada di bawah pohon Trembesi. Pohon yang terlihat berusia puluhan tahun tersebut seolah menaungi siapapun yang berada di bawahnya. Termasuk dirinya.
Yanti menikmati masa tenangnya duduk berselonjor kaki, tak mempedulikan rumput yang menjadi alasnya. Memasang musik oldies yang mengalun lembut di telinga, membaca novel yang membuatnya penasaran, dan menutup diri dari dunia luar. Tanpa mempedulikan lirikan beberapa orang padanya. Ia menikmati keheningan suasana yang membuatnya bisa berpikir atau terkadang melupakan kejadian beberapa saat lalu.
Entah berapa lama ia duduk menikmati lembar demi lembar yang memaku konsentrasinya. Ia bahkan tak menyadari sepasang mata yang tak melepas pandangan darinya sejak beberapa saat lalu. Seseorang yang berdiri tak jauh darinya, dengan senyum tersungging di bibir, dan tangan terlipat di dada, memandang Yanti.
KAMU SEDANG MEMBACA
Enggak Sengaja Jatuh Cinta, lagi!
RomantikGigih Irawan menjadi pria yang memenuhi semua kriteria lelaki idaman Aryanti Citra Ramdhani saat keduanya masih duduk di bangku kuliah. Baik, ganteng, sabar, senyumnya membuat hati meleleh dan ngangenin. Namun, tiba-tiba dia menghilang tanpa kabar s...
