Bab 4

422 81 12
                                        


Yanti menyentuh dada kiri kembali meski ia tak bisa melihat sosok Gigih. Dentuman keras yang masih bisa dirasakannya sejak melihat senyum pria yang dulu pernah mengisi hatinya, masih bisa ia rasakan. Helaan napas panjang mengiringi laju kendaraan tak membuat semuanya terasa lebih mudah.

"Ibu di rumah atau toko?" tanya Yanti ketika mendengar suara ibunya di ujung sambungan setelah menurunkan Dara di depan rumah kost mereka berdua.

"Udah di rumah. Kenapa, Nduk?" jawab ibunya yang tak mau berhenti bekerja. Usaha toko kelontong yang dimulai sejak kedua orang tuanya berpisah, kini masih berjalan dan semakin besar setelah ibunya menjadi agen beras lima tahun lalu. "Mau pulang? Ada pesanan?" tanya ibunya. Selama ini, Yanti selalu mengerjakan pekerjaan sampingan di rumah ibunya.

"Iya. Kangen botok jeroan bikinan ibu." Sejak kuliah dan bekerja, Yanti memutuskan untuk tinggal sendiri. Rumah kost yang tak jauh dari kampus menjadi pilihannya, karena tak ingin menempuh jarak panjang ke rumah kedua orang tuanya yang berada di kota sebelah. Namun, setelah pertemuannya bersama Gigih, ia perlu merasakan pelukan sang ibu yang selalu memberinya kehangatan dan kenyamanan.

***

"Bu, dulu pernah di ghosting orang enggak?" tanya Yanti tanpa membuka mata yang terpejam sejak ia menyandarkan punggung di samping ibunya. "Pernah di PHP, enggak?"

Yanti merasakan gerakan ibunya, tapi ia masih enggan untuk membuka mata. "Jaman kalian ini terlalu banyak istilah yang menurut Ibu itu terlalu ... mengada-ada. Dari jaman dulu, orang udah biasa tiba-tiba ngilang—ghosting yang kamu bilang—atau berhenti deketin kita. Buat Ibu itu semua proses yang terkadang memang menyakitkan, tapi anak-anak sekarang lupa kalau itu semua adalah hal yang baik. Itu namanya Tuhan menghindarkan kita dari seseorang yang buruk bagi kita. Tuhan mengeliminasi orang-orang yang tidak membawa kebaikan untuk kehidupan kita. Kenapa kita jadi marah, sedih atau bahkan terpuruk? Harusnya bersyukur dan berterima kasih, dong!"

Yanti menegakkan punggung dan memandang ibunya. "Itukah yang Ibu rasakan saat Bapak pergi?" tanyanya dengan penuh hati-hati.

Tidak ada kesedihan ataupun marah di wajah wanita yang melahirkannya, hanya senyum dan kelegaan membuat keningnya mengernyit. "Kita tahu kalau jodoh itu hak prerogatif Tuhan. Saat Bapak pergi, ibu enggak memiliki waktu dan keleluasaan untuk memendam marah ataupun dendam. Semua itu karena kamu." Ia semakin menekan wajahnya ketika tangan lembut ibunya menangkup kedua pipinya. "Ibu sadar, jodoh ibu dan bapak berhenti hanya sampai di situ, buat apa menghabiskan waktu untuk marah, sedih atau meratapi nasib. Ibu memilih untuk mengalihkan konsentrasi padamu dan bersyukur dengan semua yang Tuhan berikan. Dengan begitu, ibu jadi lebih bahagia. Harusnya itu juga yang kamu rasakan, jangan memusatkan semua rasa pada sakit, karena itu hanya sesaat. Terima dengan rasa syukur, itu jauh lebih bagus."

Mendengar nasehat ibunya, Yanti seakan baru tersadar dari kebodohan yang membelenggunya selama ini. "Ya ampun, Bu," matanya takjub. "Aku enggak pernah berpikir seperti itu. Rasanya ak—"

"Karena kamu terlalu fokus dengan rasa sakit hatimu," sela Nina—ibunya—yang mendapat anggukan kepala darinya. "Fokus dengan rasa sakit yang seharusnya rasa syukur membuatmu melewatkan banyak hal. Sekarang, kenapa tiba-tiba tanya PHP atau ghosting?"

Enggak Sengaja Jatuh Cinta, lagi!Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang