Semenjak Yanti kembali ke kampus, Gigih semakin sering menemukan perempuan itu menyendiri di bawah pohon trembesi yang menjadi tempat favorit keduanya. Ia sering menghabiskan waktu berdua bersama Yanti ketika tidak ada pekerjaan yang harus diawasinya. Begitu juga dengan hari ini, Gigih kembali mendapati Yanti sibuk dengan novel di tangannya hingga tidak menyadari kehadirannya. Meskipun sudah lebih dari sepuluh menit Gigih berdiri tak jauh darinya. Hingga ia kembali menyanyikan lagu Aryati, perempuan itu menutup novel dengan keras sebelum mengangkat kepala dan menghunus pandangan tajam ke arahnya.
"Perasaan aku udah minta kamu untuk berhenti nyanyi lagu itu, Mas!" protes Yanti sesaat setelah ia menghentikan langkah tepat di depan perempuan yang harus mendongak menatapnya. "Mbencekno!"
"Itu, kan hanya perasaan kamu aja," kata Gigih menjatuhkan badan tepat di samping Yanti yang tak melepas pandangan darinya. "Ngapain semedi di sini?" Udara siang ini terasa lebih panas, tapi Yanti tak terlihat terganggu. Bahkan Gigih mendapati perempuan itu nyaman meski ia bisa melihat beberapa butir keringat di keningnya.
"Kamu ngapain, to, Mas?! Enggak ada kerjaan?"
Gigih mengedikkan pundak dan menjulurkan leher mencoba membaca novel di tangannya semakin membuatnya jengkel. "Kamu kok suka di sini, Ci? Enggak wedi dikancani ...."
Yanti menoleh mendengar pertanyaan anehnya, "Dikancani sopo? Setan?" Gigih mengangguk menjawabnya. "Lapo wedi! Buktine saiki aku mbok kancani."
"Jancuk! Aku mbok padakno setan, Ci!" umpatan Gigih membuat Yanti terkejut, tapi detik berikutnya perempuan itu tertawa terbahak-bahak mendapati wajah jengkelnya.
Angin sejuk yang berhembus membawa ketenangan tersendiri bagi Gigih. Ia merasa nyaman, meski Yanti terkadang jengkel karena ia menganggunya dengan pertanyaan atau kelakukan aneh yang menguji kesabaran. Seperti ketika ia mencabut ear buds di telinga kanan Yanti dan memakainya. "Dengerin apa, to?" tanya Gigih meski melihat alis Yanti menukik tajam. "Enggak usah mendelik, dari pada aku ngantuk." Yanti kembali meliriknya.
"Pulang, sana, Mas!" usir Yanti ketika ia mengubah posisi duduk dan mencari posisi paling nyaman. Rasa yang selalu muncul setiap kali ia bersama Yanti membuatnya harus menahan diri untuk tidak merokok didekatnya. Gigih bisa merasakan lirikan Yanti meski saat ini ia memejamkan mata dan mengangguk pelan menikmati alunan lagu lama di telinganya.
Yanti terpekik ketika tiba-tiba ia membuka mata dan membuatnya terkejut karena tatapan mata mereka beradu. Dengan jarak mereka yang hanya sejengkal membuat Gigih bisa memandang wajah Yanti lebih dekat. "Ngopi, yuk, Ci!" ajak Gigih yang tak ingin terlalu lama memandang wajah Yanti, karena saat ini dorongan untuk memajukan wajah dan mengecup bibir merah itu terlalu kuat dirasakannya.
"Hah!" kata Yanti terdengar gugup di telinganya. "Males!" ucap Yanti ketus setelah kembali menunduk membaca novel di pangkuannya.
Gigih kembali mendekatkan kepala, meski saat ini jantungnya berdegup kencang. "Ci," panggil Gigih.
"Hhmm," gumam Yanti lirih tanpa menoleh ke arahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Enggak Sengaja Jatuh Cinta, lagi!
RomanceGigih Irawan menjadi pria yang memenuhi semua kriteria lelaki idaman Aryanti Citra Ramdhani saat keduanya masih duduk di bangku kuliah. Baik, ganteng, sabar, senyumnya membuat hati meleleh dan ngangenin. Namun, tiba-tiba dia menghilang tanpa kabar s...
