Di lorong rumah sakit yang sepi, Agrain duduk di salah satu kursi yang berada di sana. Tangannya saling bertaut dengan kepala menunduk, ada rasa takut dan khawatir dalam benak nya. Bukan, Bukan karena dia takut akan disalahkan karena dia tidak bersalah. Tapi Agrain khawatir dengan keadaan Rezan.
Terlebih Agrain memiliki trauma dengan darah.
Drtt!
Berulang kali ponselnya bergetar karena Penasaran Agrain membuka ponselnya itu.
Lambe turah BN
Guys! Viral! Katanya salah satu murid yang famous and pemain kunci futsal terlibat kasus. Omg gak nyangka banget mimin aja shock dengernya
Buat yang penasaran chek akun @annonim_Vel
Buruan deh sebelum di track down
♡ 5980k 💬 1997k ➢ 1081k
Komentar:
@yours.matcha
Ga nyangka, tampang aja polos
@Secret_aja
Nyesel si pernah suka sama dukung dia ternyata kelakuannya...
@Grianaa111
Ih ini bohong kan???? Nggak percaya guaa
@Graldo_kece
Bangsattt gara-gara dia temen gue kritiss! Yang tau rumahnya sherlock mau gua datengin
@Ka_vello
Gue pastiin dia bukan lagi bagian anggota gue
Agrain mematikan ponselnya dengan perasaan pasrah. Masa bodo dengan mereka yang beranggapan apapun tentang dirinya, karena dia tidak bersalah, seseorang mengambing hitam kan dirinya.
"Gue bakal buktiin, kalau bukan gue pelakunya."
*****
"Berita itu.... Bener kamu pelakunya?"
Baru saja menginjakan kaki rumah Agrain langsung dihadiahi interogasi dari Andrean.
Andrean menatap Agrain serius, dengan tangan sedikit bergetar. Ini masalah besar menyangkut masa depan Agrain, sendiri. Sudah cukup permasalahan selama ini yang di pikul pundak nya. Dan sekarang bertambah satu.
"Psikis Mama kamu aja masih buruk, bayangin kalau dia tahu berita ini? Papa yakin dia makin gila."
Mata Agrain terbelalak kaget. Bisa-bisanya mengatakan lontaran itu.
"Kenapa? Iyakan kalau mama kamu udah gila. Harusnya jaga sikap, jangan buat dia semakin gak waras!"
"Jangan sekali-kali bilang kalau Mama gila. Mama gak gila, Mama—"
"Sekarang pikirin gimana caranya bersihin nama kamu, Agra. Kalau sampai orang-orang tau reputasi keluarga kita bisa hancur!"
Agrain menggeleng tidak percaya. "Bukan Agra pelakunya! Berapa kali aku harus bilang, kenapa semua orang cuman lihat dari sebelah sudut tanpa tau kebenarannya? Termasuk Papa sendiri?"
Andrean menggebrak meja lumayan keras. Emosi nya sekarang sudah berada di ujung kepala, kurang sabar apa dirinya selama ini? Jika orang lain yang berada di posisinya mungkin sudah dari lama meninggalkan.
"Kalau bukan, kenapa kamu ada disana, Agra?! Dan kalaupun emang bener kamu gak bersalah apa bisa ngelurusin pikiran orang-orang tentang kamu hah?! Bisa?"
"—kalau mau jadi pahlawan seenggaknya tau sikon." Lanjut Andrean.
Setelah mengatakan itu Andrean pergi meninggalkan Agrain yang masih berdiri di posisinya tanpa membalas perkataan Andrean.
"Haha.. Papa gue sendiri aja bilang gitu, gimana sama temen-temen gue?"
******
Agrain berjalan di koridor seorang diri dan hal itu tak luput dari pandangan siswa-siswi yang berlalu lalang memperhatikan Agrain dengan beraneka ragam. Tentang Desas-desus berita kemarin yang sempat ramai, tentunya masih jadi perbincangan, bahkan beritanya sampai ke sekolah tetangga.
Tak banyak orang yang meng-hate dirinya.
Di kelas, orang-orang sempat menghentikan aktivitas mereka beberapa detik. Memperhatikan Agrain dengan tatapan yang sama.
"Berani banget masuk sekolah, kalau gua mah malu." Ujar siswa yang sedang duduk berkumpul itu.
"Jangan gitu, Bro. Lo mau berakhir kayak si Rezan, Rezan itu?"
"Ups dah, takut."
Agrain menggeleng kan kepalanya pelan. Dia memilih duduk di bangku nya. Disana juga ada Larva, Raska, Damian dan Gara. Mereka tidak menyapa nya? Mungkin kemakan omongan orang lain. Agrain pasrah.
"Berita itu.."
"Kalau lo percaya, yaudah diem aja." Balas Agrain cepat.
"Sensi amat, Larva cuman nanya aja, Btw." Timpal Raska.
"Mau nyudutin gue? Bilang aja kalau lo semua percaya,"
"Gra. Gak ada yang mau nyalahin lo. Lagian kalau bukan lo pelakunya jangan pasrah aja, cari bukti. Dengan lo santai gini, yang ada masalah gak akan kelar."
Baru kali ini Raska berbicara sangat serius. Biasanya cowok petakilan itu selalu acuh, dan mungkin sekarang karena dia muak.
"Percuma."
"Sejak kapan lo jadi gini? Sadar gak sadar lo udah jerumusin diri lo sendiri ke lubang masalah. Ini gak bisa di anggap sepele, gue yakin orang tua nya si Rezan bakal terus nelor lo. Bisa juga pengaruhin orang juga." Sambung Raska.
"Gue setuju. kita gak bisa diem aja." Ucap Damian.
"Iya gue juga!" Timpal Larva.
"Pulang sekolah kita ke TKP." Ucap
Gara dengan wajah santainya.
TBC.
Makasih yang udah mampir 👋
Gimana ceritanya? Moga ngga ngebosenin ya hehe
Jangan lupa vote Dan komen nya biar aku makin semangat buat terus update
Segitu aja
See you next part
KAMU SEDANG MEMBACA
AGRAIN: Life After
Teen Fiction"Apa Mama lo perduliin lo?" Ucap Larva bertanya dengan emosi tertahan. "-Apa Mama lo anggap lo ada?" "Sadar! Jangan bego! Lo cuman dijadiin bayang-bayang sama nyokap lo! Sampe kapan lo gini? Dari kecil Gra, Dari kecil! Berapa tahun lo harapin kasih...
