Sembilan

356 28 2
                                        

"Jadi, ini tinggal kelas X IIS 2 dan XII MIPA 4 aja yang formulirnya belum ada, ya?" Tanya Karuna pada para anggotanya.

Mereka tengah rapat evaluasi saat ini, membahas perihal formulir para murid SMASDALI yang akan ikut meramaikan acara festival musik di sekolah.

"Hm, kak Aru, nanti aku aja yang mintain formulir ke kelas sepuluh IIS dua, boleh? Tadi, temenku yang di kelas itu bilang katanya mau ngasih besok, pas istirahat kedua, soalnya mereka masih bingung siapa yang mau naik panggung. Kakak 'kan tau sendiri, di kelasnya Mada itu banyak yang bisa nyanyi, jadi mereka susah buat milih orangnya," Tutur Miranti menawarkan dirinya, ia adalah salah satu anggota OSIS yang memang memiliki kawan dekat di kelas X IIS 2, kelasnya Mada, Rian dan Juanda.

Karuna yang mendengar perkataan Miranti lantas mengangguk paham, "Boleh, kok. Kalo gitu minta tolong kamu mintain, ya, ke kelas mereka, nanti biar dua belas MIPA empat aku yang mintain, itu 'kan kelasnya mas Ji, jadi gampanglah aku mintanya. Oh, iya, kalo bisa sih besok pagi udah ada di meja aku, tapi kalo memang mereka janjinya udah begitu, yaudah, gapapa. Terima kasih, ya, Miranti."

Miranti mengangguk sebagai balasan dengan senyum cerah merekah begitu pun dengan dua ibu jari tangannya yang terangkat sebagai tanda setuju. Anggota yang lain pun hanya diam memperhatikan dengan mengulum senyum yang hampir saja muncul di kedua sudut bibir mereka. Berusaha merahasiakan sesuatu dari si Ketua OSIS.

Pagi, jam masih menunjukkan pukul lima lewat lima menit, seorang pemuda beranjak remaja itu bangkit dari lelapnya perlahan setelah mendengar dering alarm yang mengganggu tidurnya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Pagi, jam masih menunjukkan pukul lima lewat lima menit, seorang pemuda beranjak remaja itu bangkit dari lelapnya perlahan setelah mendengar dering alarm yang mengganggu tidurnya.

Madanapala, ia melirik ke arah meja nakas, meraba permukaannya untuk mencabut ponselnya dari kabel charger-nya, sebelum akhirnya mematikan alarm berisiknya itu. Kembali memejamkan mata selama beberapa saat, kemudian bergerak membalik tubuhnya menjadi telungkup di atas ranjangnya, membuat selimut yang menutupi tubuhnya tersingkap sedikit dan menampakkan bahunya yang polos tanpa sehelai benang pun.

Ia mengerang pelan, meregangkan ototnya yang cukup kaku sebab bangun tidur. Lantas, kembali membalik tubuhnya, kedua matanya membuka, menatapi langit-langit kamarnya yang sebenarnya gelap bukan main, hanya ada sedikit bayangan cahaya matahari dari jendelanya yang tertutup rapat dengan gorden.

"Mada!! Udah bangun belum lu, Dek?!" Teriak Yudha, sang kakak, dari depan kamarnya sembari menggedor pintunya.

"Udah!!" Balas Mada, berteriak dengan suara paraunya.

"Oke. Bangun, Dek. Mandi, siap-siap terus sarapan. Lu mau jemput Aru dulu, 'kan?" Titahnya sebelum meninggalkan kamar Mada dan turun ke bawah.

Mada menggeliat pelan, kemudian bangkit duduk di ranjangnya, "Iya, denger. Inget gua, Bang," Jawabnya malas, masih mengantuk.

Jujur, sebenarnya, Mada belum terbiasa bangun sepagi ini untuk berangkat pergi ke sekolah. Tapi, semenjak berpacaran dengan Karuna, si Ketua OSIS, jelas Mada harus menjaga sikap. Ia tidak boleh membuat kekasihnya kerepotan dengan tingkah nakalnya lagi seperti sebelum mereka memiliki hubungan spesial ini. Yah, walaupun Mada sebenarnya tidak pernah atau jarang terlambat datang sekolah sebelum mengenal Karuna sekali, pun. Emang anaknya iseng aja, biar bisa deketin kakak gemesnya dengan alasan telat datang sekolah. Padahal, mah, modus aja itu dia.

LOVE MOONTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang