Ketukan di pintu membuat lelaki yang tengah fokus bekerja itu menghentikan gerakannya sejenak, menurunkan sedikit kacamatanya lalu mengalihkan pandangannya dari PCnya ke arah pintu yang selanjutnya terbuka. Bibirnya berubah tersenyum lebar melihat siapa yang memasuki ruang kerjanya, seorang gadis yang tangannya membawa penuh barang-barang beserta tas tangannya.
Gadis itu menghela napas lelahnya, ia berjalan mendekati meja lelaki yang menyambutnya dengan senyuman itu.
"Sebentar saja, beri aku lima menit untuk menyelesaikan ini," ujar lelaki itu sembari menunjuk PC nya dengan matanya.
Gadis itu meletakkan es kopi kesukaan kekasihnya, Sandwich dan sebungkus kentang goreng di meja kerja. Ia tak mendengarkan dan menuruti ucapan lelaki tersebut, Gadis itu malah memutar kursi kerja lelaki itu lalu berkata, "Iaaan... kurasa aku sakit," keluh gadis itu sembari melepas kacamata Sebastian lalu meletakkannya di meja. Gadis itu duduk di pangkuan Sebastian sembari meletakkan kepalanya ke lekukan leher kekasihnya itu serta memeluknya.
"Sudah kubilang ayo periksa ke dokter, kau sudah tidak enak badan selama hampir seminggu," ucap Sebastian sambil melingkarkan lengannya memeluk badan gadisnya. Tangannya mengusap badan mungil kekasihnya itu.
"Aku hanya butuh kau saja," balasnya."Setelah ini, pasti akan baik-baik saja."
Jawabannya selalu begitu. Sudah hampir seminggu gadisnya itu terlihat lemas tetapi jika ia menghubungi dokternya untuk memeriksa, gadis itu akan menangis tidak ingin diperiksa. Maka dari itu, dirinya hanya bisa konsultasi saja melalui ponsel dan hanya memberikan vitamin sesuai dengan yang dianjurkan oleh dokter.
"Bagaimana pekerjaanmu?" tanya Sebastian.
"Aku sudah menyelesaikan pemotretanku hingga besok, kurasa aku ingin istirahat saja di rumah."
"Jangan terlalu dipaksakan Jean, aku yang akan berbicara dengan manajermu."
Yasmine menggeleng, "Aku menangis di lokasi tadi."
"Ada apa, Babe? Apa ada yang menyakiti hatimu?"
"Ian, sepertinya ada yang salah dengan badanku."
Sebastian menghela napas panjang, "Kita akan periksa malam ini."
"Bukan sakit yang seperti itu. Maksudku bukan hanya badanku yang lemas, aku juga sangat sensitif oleh hal-hal kecil. Jika ada yang melakukan kesalahan, entah kenapa aku tidak menegurnya tetapi malah menangis di depannya," Yasmine mengucapkannya dengan pelan seperti berbisik atau lebih seperti berbicara sendiri.
"Tidak ada yang sensitif, kau hanya sedang Moodswing kurasa," ucap Sebastian.
Yasmine mengangguk, ia memejamkan matanya sembari bersandar ke dada Sebastian tak lagi membalas ucapan lelakinya itu karena ia juga beranggapan sama.
Sebastian kembali mengulurkan tangannya ke keyboard setelah memasukkan kedua tangan Yasmine ke dalam jasnya serta memastikan bahwa gadis itu tidak kedinginan karena remote AC tidak berada di dekatnya sehingga ia tidak bisa mengatur AC untuk sedikit lebih hangat. Sebastian bekerja lagi dengan Yasmine yang tidur dalam pangkuannya, Lelaki itu juga sesekali meminum es kopi yang dibawakan oleh gadisnya itu untuk dirinya.
Untuk beberapa saat ia tenggelam kembali dengan pekerjaannya sembari mendengarkan dan merasakan napas teratur Yasmine yang membuatnya tenang dan lebih fokus itu tiba-tiba sesuatu terlintas dalam otaknya yang sedang bekerja keras itu. Sesuatu yang membuatnya gugup sekaligus perasaan gembira yang tak beralasan hanya karena memikirkannya saja membuatnya dengan sigap mengganti layar PCnya yang semula pekerjaan berubah ke aplikasi Chat. Ia mengetikkan sesuatu membentuk sebuah kalimat lalu mengirimkannya ke seseorang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Perfect Scandal
RomanceKisah seorang pria dan wanita melakukan 'one night stand' hingga menimbulkan skandal besar di pertemuan pertama mereka. Tak seperti skandal-skandal mereka lainnya yang bisa mereka lepas dibantu oleh campur tangan keluarga besar, kini mereka harus me...
