Cerita ini hanya sebuah fiksi penggemar. Pembaca di mohon mengerti. Karakter di sini juga tidak mencerminkan, kepribadian karakter asli.
°
Happy Reading
Sunghoon menghela nafas dan membuka pintu rumahnya, helaan nafasnya terdengar lebih keras ketika ia melihat keadaan rumahnya yang berantakan.
Botol minuman keras, sisa-sisa puntung rokok.
Sunghoon tertawa sarkas, namun mau mengeluh pun tidak bisa lantas ia memilih untuk membersihkan semuanya.
Sunghoon kira hidupnya akan lebih bahagia ketika ia mendapatkan orang tua angkat, mereka sepasang suami istri yang baik dan ramah.
Tahun ke dua ketika mereka mengadopsi Sunghoon, Sunghoon bisa merasakan kasih sayang kedua orang tuanya. Dicintai oleh seorang ayah dan ibu, namun tahun ketiganya semua berubah.
Ibunya yang selalu pulang malam, ntah pergi kemana ia hanya menjelaskan kepada Sunghoon bahwa ia bekerja, kemudian ayahnya yang selalu pulang dengan keadaan tubuh yang bau alkohol.
Setiap hari, setiap malam selalu bertengkar.
Barang-barang rumah pun banyak sekali yang berterbangan dan pecah.
Sunghoon hanya bisa berdiam diri dikamarnya, memeluk lututnya. Ia benci sitausi seperti ini, bahkan tidak jarang ketika Sunghoon yang saat itu berumur delapan tahun sedang belajar ia mendapat pukulan dari sang ibu.
Beberapa bulan setelah seringnya terjadi pertengkaran, Ibu angkatnya meninggal ketika sedang bekerja dan Sunghoon akhirnya tau dimana ibunya kerja selama ini.
Disebuah bar dikawasan hongdae.
Ketika ibunya meninggal, Ayahnya menjadi meradang.
Menyalahkan Sunghoon atas meninggalnya sang ibu, menuduh bahwa Sunghoon adalah pembawa sial.
Semenjak mereka mengadopsi Sunghoon, mereka menjadi sial.
Judi yang selalu kalah.
Dipecat dari pekerjaan kantoran.
Semua disalahkan kepada Sunghoon.
Setiap malam, Sunghoon selalu mendapat pukulan.
Lantas mengapa Sunghoon tidak kabur?
Ia hanya tidak tau harus kabur kemana? Keluarga terlilit hutang akibat sang ayah yang berjudi terus menerus dan akhirnya mereka harus pindah kesebuah rumah bawah tanah yang sempit.
Diumurmya yang menginjak 10 tahun, Sunghoon mulai mengambil kerja paruh waktu, seperti mengantar susu dan koran di pagi hari sebelum sekolah.
Setelah pulang sekolah, ia akan pergi ketoko penjual kerang untuk mencuci kerang-kerang yang baru di ambil dari para nelayan.
Untuk menikmati waktu tidurnya saja, Sunghoon rasa ia tidak mampu.
Bahkan ketika diumurnya sekarang, ia masih sering mengalami kekerasan oleh ayahnya. Ketika sedang berdiam diri, ayahkan akan datang tiba-tiba lalu memukulnya tanpa alasan apapun ataupun kakinya akan di tempelkan oleh rokok sang ayah yang masih menyala.
Sunghoon ingin rasanya lari dari kehidupannya yang pahit, tapi semua tetap percuma secara hukum ia tetap anak dari ayahnya ini.
Terkadang Sunghoon menyalahkan ibu panti yang membiarkan suami istri ini untuk mengadopsinya, mengapa bukan kedua lelaki yang selalu datang setiap sabtu dan minggu untuk mengajaknya bermain.
Apa Sunghoon masih bisa bertemu dengan kedua lelaki yang ia temui saat umurnya lima tahun tersebut? Apa jika mereka berhasil mengadopsi Sunghoon, kehidupan Sunghoon akan berubah?
KAMU SEDANG MEMBACA
Bitter Sweet || JAYHOON
FanfictionSunghoon always said "I don't deserve for to be happy" and Jongseong always said "No, you deserve to be happy"
