Sejak beberapa bulan lalu, Aldrich telah memiliki rencana untuk mengakhiri hubungannya dengan Gisel.
Alasannya hanya satu, Aldrich merasa bahwa ia tidak mencintai wanita itu lagi.
Egois memang! Tapi itulah kebiasaan Aldrich apabila telah bosan dengan wanitanya.
Ia tidak segan-segan meninggalkan wanitanya, tanpa memperdulikan apa yang akan terjadi kepada mereka.
Seperti saat ini, saat ia ingin mengakhiri hubungan dengan Gisel. Wanita yang di kencaninya setahun belakangan ini.
"Aku ingin kita putus!" Ucap Aldrich memperjelas pernyataannya kepada Gisel.
"Apa?! Putus?! Nggak! Aku nggak mau! Lagian bukannya kita baik-baik aja?! Kenapa tiba-tiba kau ingin putus?" Tanya Gisel kepada Aldrich.
"Aku hanya merasa tidak mencintaimu lagi! Aku akan memberikanmu uang, sehingga kau bisa membelanjakannya semaumu!" Ucap Aldrich.
"Uang?! Jadi selama ini kau menganggap aku wanita seperti itu? Setelah semua yang kita lakukan, kau menganggap dengan uang aku bisa melupakannya? Terserah apa katamu, tapi aku tidak mau putus!" Ucap Gisel marah dan segera meninggalkan kantor Aldrich dengan menangis.
Sesampainya di apartment mewahnya, Gisel kemudian mengambil minuman beralkohol daru mini barnya, kemudian langsung meneguknya berharap dapat merdahkan amarahnya.
"Putus?! Kau pikir semudah itu untuk memutuskanku?" Ucap Gisel bermonolog, kemudian tertawa.
"Uang yang kau berikan mungkin banyak sampai separuh usiaku mungkin tak akan habis. Tapi buat apa aku memunggut uang tersebut, sementara aku bisa mendapatkan penghasil uang tersebut!" Lagi kata Gisel kepada dirinya.
"Kau tunggu saja. Kita akan lihat, apa kau bisa meninggalkanku setelah aku melakukan rencanaku!" Lagi ucap Gisel bermonolog.
Waktu menunjukan pukul 9 malam ketika Aldrich tiba di rumahnya.
"Selamat malam tuan!" Ucap salah satu pembantunya ketika sudah membuka pintu rumahnya tersebut.
"Apa istriku sudah tidur?" Lanjut Aldrich bertanya, seolah tidak mendengarkan pernyataan pembantunya tersebut.
"Hah?! Maafkan saya tuan. Ah iya. Maksud saya, iya nyonyah sudah tidur kira-kira sejam yang lalu!" Jawab pembantu tersebut.
"Ya sudah, siapkan makan malam. Sebentar lagi aku turun!" Ucap Aldrich kemudian menaiki tangga menuju kamarnya.
"Ceklek!" Pintu kamarpun terbuka, menampilkan Sisi yang tengah tertidur di atas sofa kamarnya.
Aldrich kemudian mendekati istrinya, kemudian mengangkatnya dan memindahkannya ke tempat tidur.
Tiba-tiba saja, mata Sisi terbuka dan menampakan wajah suaminya di depan wajahnya.
"Emm! Maafkan aku. Aku ketiduran. Kau ingin makan malam sekarang?" Tanya Sisi menyembunyikan kegugupannya.
Aldrich yang melihat tingkah menggemaskan istrinya tersebut hanya bisa terkekeh menahan tawanya.
"Apakah setiap melihatku, yang terlintas di pikiranmu hanya makanan saja?" Tanya Aldrich menggoda istrinya.
Aldrich kemudian meninggalkan sisi dan berlaku ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri kemudian mengganti pakaiannya.
Setelah selesai, Aldrich langsung turun ke bawah dan mendapati istrinya yang sudah menunggu di samping tempat biasanya dia duduk makan.
"Kau ingin apa?! Akan kuambilkan." Ucap Sisi ketika melihat Aldrich sudah mendudukan dirinya.
"Duduklah Si. Mulai sekarang jangan berdiri di sampingku lagi ketika makan. Duduklah di sampingku seperti ini, dan temani aku makan!" Ucap Aldrich lembut seraya mendudukan Sisi di samping tempat duduknya.
Sisi yang diperlakukan lembut tersebut, hanya bisa tersenyum sambil menyembunyikan rona merah wajahnya.
Beberapa menitpun berlalu, Aldrich telah selesai makan dan hendak kembali ke kamarnya.
"Biarkan mereka yang membereskannya! Ayo ke kamar. Masih ada hal lain yang perlu kau bereskan di diriku ini!" Ucap Aldrich kepada pembantunya sambil menggoda Sisi.
Sesampainya di dalam kamar, Sisi di buat bengong dengan kondisi sofa tempat tidurnya yang penuh dengan segala macam barang.
"Kenapa?! Kan kasur kita lumayan besar. Jadi ngapayn kamu masih tidur si situ?! Ayo cepetan tidur di sini, aku ngantuk banget!" Ucap Aldrich sambik membaringkan Sisi di tempat tidur kemudian memeluknya.
"Si, maafkan sikapku selama ini yach. Kita mulai lagi hubungan kita dari awal. Kau mau kan?" Bisik Aldrich di samping telinga Sisi.
Sisi yang mendengar pernyataan Aldrich tersebut, hanya bisa tersenyum dan menganggukan kepalanya.
Aldrich kemudian membalikan posisi Sisi jadi menghadap dirinya. Memandangi wajah cantik istrinya, kemudian mendekatkan wajahnya dan mencium bibir mungil istrinya.
Perlahan-lahan ciuman mereka menjadi semakin panas, memburu, serta menuntut. Yang diakhiri dengan penyatuan tubuh keduanya, hingga mendapatkan pelepasan mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Possesive Ex Husband
Romantik"Setelah bertahun-tahun, akhirnya aku menemukanmu! Kali ini aku tidak akan pernah melepaskanmu! Aku tidak akan melakukan kesalahan yang dulu lagi sayang" Aldrich Kenneth William "Kenapa harus dia lagi? Kenapa hatiku tetap berdebar meskipun setelah...
