Ch 3

0 0 0
                                        

Kejadian di gang sempit itu membuat Raya diliputi rasa khawatir. Dia tidak tega melihat Raffa menjadi bulan-bulanan anak-anak nakal tersebut. Namun, dalam benaknya juga muncul rasa cemas. Selama ini, Raya selalu berusaha menghindari konflik. Menghadapi Raffa yang diganggu seolah memaksanya untuk keluar dari zona nyamannya.

Keesokan harinya, Raya berjalan bersama Raffa menuju sekolah. Suasana pagi yang biasanya tenang kini terasa berbeda. Rasa was-was menghantui Raya, takut jika mereka kembali bertemu dengan anak-anak yang mengganggu Raffa kemarin.

"Ra, kamu yakin nggak apa-apa berangkat sekolah?" tanya Raya dengan nada khawatir.

Raffa tersenyum tipis. "Nggak apa-apa kok, Ray. Ada kamu di sampingku aku jadi lebih tenang."

Raya membalas senyum Raffa, meski dalam hatinya masih ada sedikit keraguan. Sepanjang perjalanan, mereka berdua saling berbincang, berusaha mengalihkan perhatian dari bayang-bayang ketakutan.

Sesampainya di sekolah, suasana tampak aman. Mereka berjalan menuju kelas masing-masing tanpa hambatan. Namun, ketenangan itu sirna saat jam istirahat tiba. Raffa memberitahu Raya bahwa anak-anak yang mengganggunya biasanya muncul saat jam istirahat di sekitar lapangan basket.

Raffa mengajak Raya duduk di bangku taman yang agak jauh dari lapangan. Mereka menghabiskan waktu istirahat dengan berbincang-bincang dan sesekali melirik ke arah lapangan, berharap tidak ada hal buruk terjadi.

Tiba-tiba, bel tanda berakhirnya jam istirahat berbunyi. Para siswa berhamburan keluar kelas, termasuk anak-anak yang biasa mengganggu Raffa. Mereka berjalan dengan langkah angkuh, sesekali matanya melirik ke kanan dan ke kiri mencari mangsa.

Perasaan Raya tidak enak melihat tingkah mereka. Dia memegang tangan Raffa erat-erat, seolah ingin memberikan kekuatan. Raffa merasakan kegelisahan Raya dan tersenyum meyakinkan.

Belum genap semenit bel berbunyi, anak-anak nakal itu sudah menghampiri Raffa dan Raya. Mereka berjumlah tiga orang, semuanya bertubuh lebih besar daripada Raffa.

"Hei, anak baru," ucap salah satu anak nakal itu dengan nada sinis.

"Uang jajan mana?"

Raffa mengepalkan tangannya kuat-kuat, berusaha menahan rasa takut. Dia melirik Raya, mencari dukungan.

Raya berdiri tegak, menatap anak-anak nakal itu dengan tatapan tajam dan suara tegas yang tidak seperti biasanya.

"Dia nggak punya kewajiban untuk ngasih uang ke kalian! Pergi sana, ganggu orang lain aja!"

Anak-anak nakal itu terkejut melihat keberanian Raya. Mereka saling berpandangan, seolah bingung harus berbuat apa.

"Heh, siapa lo mau ngatur-ngatur? Lo nggak takut sama kita?" tanya anak nakal yang lain sambil mendorong tubuh Raya.

Raya nyaris terjatuh, namun dengan sigap Raffa menahannya. "Jangan sentuh dia!" Raffa berusaha mendorong balik anak nakal tersebut.

Tindakan Raffa memancing emosi anak-anak nakal itu. Mereka bertiga langsung mengeroyok Raffa. Melihat sahabatnya terdesak, naluri melindungi Raya bangkit. Dia tidak bisa tinggal diam melihat Raffa disakiti.

Dengan mengumpulkan seluruh keberaniannya, Raya berlari menghampiri keributan itu. Dia berteriak sekencang-kencangnya, berharap bisa menarik perhatian orang lain.

"Tolong! Ada yang berkelahi!" teriak Raya sambil berusaha memisahkan Raffa dari anak-anak nakal itu.

Untungnya, teriakan Raya didengar oleh Pak Budi, guru olahraga yang kebetulan sedang melintas. Pak Budi segera berlari ke arah mereka dan melerai perkelahian tersebut.

Anak-anak nakal itu langsung kabur saat melihat kedatangan Pak Budi. Raffa terengah-engah, merapikan seragamnya yang kusut. Raya berdiri di sampingnya, lega karena bahaya sudah berlalu.

Pak Budi menatap ke arah anak-anak nakal yang kabur, kemudian beralih ke Raffa dan Raya.

"Kalian kenapa? Ada apa ini?"

Raffa dan Raya saling berpandangan sejenak. Mereka ragu untuk menceritakan kejadian yang sebenarnya, takut dianggap sebagai pembuat onar.

Pak Budi melihat raut ketakutan di wajah mereka. Beliau berlutut di depan Raffa dan Raya, suaranya lembut dan meyakinkan.

"Jangan takut, ceritakan apa yang terjadi. Kalian tidak akan kenapa-napa."

Setelah didesak oleh Pak Budi, akhirnya Raffa menceritakan bahwa mereka sudah beberapa kali diganggu oleh anak-anak nakal tersebut. Pak Budi mendengarkan dengan seksama, sesekali mengangguk tanda mengerti.

"Kalian sudah berbuat hal yang benar dengan melawan mereka," kata Pak Budi.




Tbc..

Dear Hope [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang