BAB 6

6.9K 504 16
                                        

----

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

-
-
-
-

"Hiks... Hikss... Hiksss,"

"Cici nampar Dedel, Cici ngebentak Dedel,"

"Cici udah ga sayang lagi sama Dedel," Adel menangis sambil memegang pipinya.

"Ehh... Dek, maaf. Maafin Cici, Cici gak sengaja. Maaf, Dek, Cici kebawa emosi karena kamu ngebentak Papi sama Mami," ucap Shani dengan nada menyesal. Ini pertama kalinya Shani bersikap kasar terhadap adik kesayangannya. Shani selalu berusaha menjadi kakak yang baik, dan tak pernah terpikir olehnya untuk melukai perasaan adiknya.

"Hiks... Hikss... Hiks... Cici jahat, Cici jahat," tangisnya pecah, dan hatinya terasa sakit dibentak oleh Shani yang selama ini selalu melindunginya.

"Dedel, maafin kita ya sayang. Sini duduk dulu kita obrolin lagi pelan-pelan," ucap Papi dengan suara lembut, berharap bisa meredakan kesedihan Adel.

"Iya, sayang. Maafin Cicinya ya. Cici pasti gak sengaja, iya kan Ci?" ujar Gracia sambil menatap Shani dengan harap agar situasi bisa kembali tenang.

Shani merasa hatinya tercabik-cabik melihat adiknya seperti itu. "Iya, Dedel sayang, Cici minta maaf ya. Cici kelepasan, maaf..." ucapnya sambil beranjak untuk memeluk Adel.

Namun, Adel yang masih kecewa berusaha memberontak saat Shani mendekat. "Lepasin! Hikss... Cici jahat! Dedel gak mau dipeluk Cici," ucap Adel sambil memukul-mukul dada Shani dengan tangannya, menunjukkan betapa hatinya hancur.

Shani, yang juga mulai berkaca-kaca, berusaha merangkul Adel dengan lembut. "Maafin Cici sayang, maaf," ucapnya sambil terus berusaha merangkul adiknya.

"Lepasin! Hikss... Hikss..." Adel menangis sambil berusaha melepaskan diri dari pelukan Shani.

Adel berlari keluar rumah dengan tangisan yang masih terisak-isak. Tangannya yang gemetar meraih kunci motor di saku celananya. Ia tak tahu harus pergi kemana, tetapi hatinya terasa begitu sakit dan marah. Sambil menangis, ia menyalakan mesin motor dan melaju dengan cepat meninggalkan rumah.

"Dedel, mau kemana? Dek, maafin Cici! Cici gak sengaja, Dek," teriak Shani memanggil adiknya, namun usahanya sia-sia. Adel sudah melaju dengan motornya, meninggalkan perasaan berat di hati Shani.

Panik dan merasa bersalah, Shani berlari kembali ke dalam rumah. "Pi, Mam! Gimana ini? Dedel pasti marah sama Cici. Dedel pergi gak tahu kemana, Mam. Ini udah malam, Dedel pergi sambil nangis," ucap Shani dengan air mata yang mengalir deras di pipinya. "Ini salah Cici. Harusnya Cici gak emosi kayak tadi, harusnya Cici gak nampar dan ngebentak Dedek."

"Udah jangan nyalahin diri kamu sendiri,gapapa Ci mungkin Dedek butuh waktu buat menenangkan diri," ucap Momy berusaha menenangkan anak sulungnya.

"Iya, bener kata Mami, Ci. Kadang kita semua butuh waktu sendiri untuk merenung dan menenangkan diri," timpal Papi, mencoba memberikan pengertian.

I'M ADELIACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang