"Ciciii, mau kiss duluu,"
"Ini Ci, pake helmnya dulu. Sini, dedel pakein,"
"Ci, cici kerumah sakit sekarang ya ci"
"Adel, Ci.. "
Ingat ini cuman cerita fiksi ya!!!
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Ketika kamu tahu siapa yang paling berharga dalam hidupmu, memberikan segalanya, bahkan dirimu sendiri, tidak lagi terasa seperti sebuah pengorbanan."
*********
Pria bertopeng hendak menuju mobil dan mengambil barang berbagi milik mereka, namun tiba-tiba suara mesin mobil besar terdengar mendekat. Papi datang bersama sopirnya dengan kecepatan tinggi. Mereka langsung turun dari mobil, dan melihat situasi genting yang sedang berlangsung. Papi, dengan wajah tegas dan penuh kemarahan, melangkah maju. "Kalian tidak akan menyentuh keluargaku!" teriak Papi dengan suara menggelegar, membuat para pria bertopeng itu terkejut.
Para pria bertopeng itu saling berpandangan, terkejut melihat kedatangan Papi yang tiba-tiba. Dengan keberanian yang baru, Adel memanfaatkan momen itu untuk melawan balik. Meski tangannya terikat, ia berusaha menyerang salah satu pria yang mengikatnya dengan tendangan kuat. Papi dan sopirnya juga ikut bergabung dalam pertarungan, tidak membiarkan para penjahat itu mendominasi situasi.
Mereka berhasil membuat para pria bertopeng itu kewalahan. Melihat situasi yang tidak menguntungkan bagi mereka, para pria bertopeng itu akhirnya memutuskan untuk melarikan diri dengan motor mereka.
Adel, dengan napas tersengal dan luka di lengannya, segera memeluk Shani yang masih ketakutan setelah ikatan di tangannya berhasil terlepas. "Cici gapapa kan?" tanya Adel dengan cemas, sambil memeriksa kondisi kakaknya.
Shani segera memeluk Adel yang terluka, air mata mengalir di wajahnya. "Maafin, Cici. Lagi-lagi gara-gara Cici kamu terluka," isaknya, merasa bersalah karena tidak bisa melindungi adiknya.
Adel mengusap rambut Shani dengan lembut, meski kesakitan. "Adel gapapa, Cici. Yang penting Cici dan Mami selamat," balas Adel dengan lembut, mencoba menenangkan kakaknya yang penuh dengan rasa bersalah.
Papi segera menghampiri Adel yang terluka. "Dedel baik-baik aja?" tanyanya dengan khawatir, menatap luka di lengan anaknya dengan cemas.
Adel mengangguk pelan. "Dedel baik-baik saja, Pi. Yang penting Cici dan Mami gapapa," jawabnya, berusaha menunjukkan ketenangan meski rasa sakit masih terasa di lengannya.
Mereka pun segera kembali ke mobil, dengan Papi yang membantu Adel masuk ke dalam kendaraan. Sopir Papi segera membawa mobil mereka dengan hati-hati, memastikan semuanya aman. Momy yang masih shock, berusaha tenang.
"Dedel tahan ya sayang, nanti kita obatin luka kamu di klinik bandara," ucap Mami.
"Iya Mam, Dedel gapapa ko," jawab Adel.
"Tahan del, luka kecil gini. Liat situasi Del simpen dulu sifat manja lo," batin Adel pada dirinya sendiri.
"Anjir perih juga ni tangan, mau nangis tapi alay," lanjut Adel. Kini kepalanya ia sandarkan ke bahu Shani dan matanya ia pejamkan untuk menetralisir rasa sakit dilengannya.