"Ciciii, mau kiss duluu,"
"Ini Ci, pake helmnya dulu. Sini, dedel pakein,"
"Ci, cici kerumah sakit sekarang ya ci"
"Adel, Ci.. "
Ingat ini cuman cerita fiksi ya!!!
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
- - - -
"Ci, ini beneran nggak serem, kan?" tanya Adel dengan suara pelan, setengah ragu, matanya terus melirik layar laptop yang menampilkan video horor.
Shani tersenyum lembut, matanya tetap fokus pada layar. "Tenang aja, gak bakal serem. Cuma film, kok," jawab Shani dengan suara menenangkan, mencoba meyakinkan adiknya.
Namun, tepat saat Shani selesai berbicara, sebuah adegan muncul di layar-sesuatu yang gelap dan menyeramkan tiba-tiba muncul, disertai jeritan yang membuat Adel langsung terlonjak kaget.
"AHHH!! Itu apaan?! Aaaaa!" Adel langsung menutupi wajahnya dengan selimut sambil berguling ke sisi ranjang.
Shani hanya tersenyum tipis, ekspresinya tetap tenang. "Gitu doang udah takut?" ujar Shani dengan nada menggoda.
Adel meremutkan bibirnya, merasa sedikit malu. "Dedel gak takut, cuma kaget aja," jawabnya, tapi matanya tetap melirik layar dengan cemas.
"CIICIIII! Ganti! Ganti! Adeknya takut!" teriak Adel sambil langsung menutup dirinya dengan selimut. Matanya hanya terlihat sedikit di balik selimut yang ia gunakan.
Shani tertawa geli melihat tingkah adiknya yang panik. "Hahaha! Baru juga opening, Dek. Itu baru suara jeritan sama tangan keluar loh, belum hantunya nongol."
"JERITAN KATANYA! Itu suara apa sih? Jelek banget, serem lagi. Udah ganti nonton Upin Ipin aja!" rengek Adel sambil bersembunyi lebih dalam di balik selimut.
Shani menoleh ke arah adiknya dan berkata, "Kamu tuh ya, ngajakin nonton horor, tapi malah kamu yang panik duluan."
Adel melipat tangannya di dada, tetap menghindari pandangan Shani, meskipun suara ketawa Shani membuat hatinya sedikit lebih tenang. "Beneran, Ci, ganti deh. Nonton yang lucu aja."
Shani hanya menggelengkan kepala, masih tertawa ringan. "Yaudah deh, ganti. Cici juga gak tega liat kamu gemeteran gitu."
Mereka tertawa bersama. Suasana malam itu hangat, penuh candaan, seperti malam-malam mereka sebelumnya. Meski usia mereka terpaut cukup jauh, hubungan Shani dan Adel sangat dekat. Kalau nggak bercanda, ya ribut. Kalau nggak ribut, ya saling nempel kaya perangko sama kertas.
Dari luar kamar, terdengar suara langkah kaki mendekat.
"Anak-anak, udah malam. Besok Adel sekolah, Shani juga ada meeting pagi bantuin Papi. Ayo tidur!" ucap Gracia setelah membuka pintu kamar Adel.
"Iyaa, Mami," jawab mereka berbarengan. Setelah kepergian Ibunya Shani beranjak dari ranjang Adel.
"Nontonnya lanjut besok, ya. Sekarang tidur gih udah malem, besok kan sekolah. Cici juga harus ikut Papi meeting, siangnya mau ketemu temen lama Cici, " ucap Shani lembut.