"Ciciii, mau kiss duluu,"
"Ini Ci, pake helmnya dulu. Sini, dedel pakein,"
"Ci, cici kerumah sakit sekarang ya ci"
"Adel, Ci.. "
Ingat ini cuman cerita fiksi ya!!!
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
- - - -
Oniel, yang mulai sadar akan seriusnya situasi ini, segera mengeluarkan ponselnya dan menelpon Dr. Jinan. "Kak, ini Adel pingsan lagi. Apa yang harus kita lakuin?"
Lama sekali Dr. Jinan baru mengangkat, dan saat dia berbicara, suara di ujung sana terasa tegas. "Jangan panik. Itu reaksi tubuhnya, dia belum siap untuk mengingat. Pastikan dia tenang dan nggam tertekan. Ini berbahaya kalau terus dipaksa."
"Oke kak... tapi apa ini ga bahaya?" Oniel masih mencoba bertanya dengan hati-hati, meski kecemasan di wajahnya tak bisa disembunyikan.
"Kasih dia waktu, Oniel. Jangan paksa dia. Kalau bisa, biarin dia tenang dulu."
Setelah beberapa menit, tubuh Adel mulai bergerak perlahan. Matanya terbuka, namun tatapannya kosong, bingung.
"Adel! Lo sadar!" Lulu langsung memegang tangan Adel. "Lo bikin gue panik banget, tau nggak!"
Adel menatap sekeliling dengan bingung. "Kenapa gue di sini? Tadi gue di mana? Kok kepala gue berat banget?"
Semua orang saling pandang. Lulu dan Flora tampak ragu, sementara Olla dan Oniel menunggu siapa yang akan memulai. Akhirnya, Adel membuka suara lagi.
"Lo semua pada tau sesuatu, kan? Gue nggak bodoh. Lo semua nyembunyiin sesuatu dari gue. KELUARIN SEMUANYA SEKARANG!" Nadanya meninggi, meski tubuhnya masih lemas.
Olla menenangkan. "Del, santai dulu. Lo baru aja pingsan. Jangan marah-marah dulu."
"JANGAN NYURUH GUE SANTAI!" Adel menatap Olla tajam, matanya memerah. "Lo pikir gue bisa santai kalau nggak tahu apa-apa? Gue tahu lo semua nyembunyiin banyak hal soal gue!"
Oniel menghela napas panjang. "Adel... kita nggak nyembunyiin karena kita nggak peduli. Kita cuma... nggak mau lo kena efek buruk kalau lo maksa ingat sesuatu."
Flora menambahkan. "Dokter Jinan udah bilang. Kalau lo maksa ingat, resikonya parah. Tadi lo pingsan, itu udah bukti."
Adel membuang pandangannya dengan frustrasi. "Itu alasan lo semua? Kesehatan gue? Kalau gue nggak tahu, gue nggak bakal bisa tenang! Jadi JELASIN, kenapa gue bisa kayak gini?"
Lulu menunduk, menggigit bibirnya. "Del... soal itu, lo harus tanya sama nyokap-bokap lo."
Adel mengernyit. "Kenapa mereka nggak bilang langsung? Gue cuma mau tahu apa yang sebenarnya terjadi. Sama satu lagi..." Dia terdiam sejenak, suaranya melembut. "Apa ini ada hubungannya sama Ci Shani? Gue ingat sewaktu gue koma, gue sempat mimpi tentang Ci Shani. Dia bilang, 'Dedel, kamu harus kuat. Bangun. Mereka butuh kamu.' Kenapa lo semua nggak bilang apa-apa soal itu?"
Semua orang diam. Oniel, yang biasanya paling bisa bicara, malah mengalihkan pandangan. "Del, soal Shani... gue nggak bisa jawab. Itu bukan hak gue. Lo harus tanya mereka."