"Ciciii, mau kiss duluu,"
"Ini Ci, pake helmnya dulu. Sini, dedel pakein,"
"Ci, cici kerumah sakit sekarang ya ci"
"Adel, Ci.. "
Ingat ini cuman cerita fiksi ya!!!
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
- - - -
Sambil dengerin lagu biar enak.
Adel tiba di Taman Pemakaman Cakrawala dengan perasaan campur aduk. Matanya masih basah oleh air mata, tetapi ia mencoba menenangkan dirinya. Motor yang dikendarainya berhenti dengan bunyi rem yang berdecit. Hujan mulai turun saat Adel memarkirkan motornya di depan pemakaman Cakrawala. Tetes-tetes air membasahi jaketnya, seperti ikut merasakan beban di hatinya. Ia melepas helmnya dengan tangan gemetar. Matanya terpaku pada gerbang pemakaman dengan tulisan besar berwarna hitam. Dia menarik napas panjang, berusaha menguatkan diri sebelum melangkah masuk.
Kakinya terasa berat, seakan menolak membawanya lebih dekat ke kenyataan yang tak ingin dia hadapi. Ia mencari makam Shani, jantungnya berdegup kencang, seiring langkahnya yang semakin mendekat ke sebuah nisan bertuliskan:
Shani Anastasia Maheswara binti Antonio Maheswara
Badan Adel terasa kaku. Matanya memerah, air mata mengalir deras tanpa bisa ditahan. "Cici…" bisiknya pelan, suaranya hampir tak terdengar di tengah guyuran hujan. Lututnya lemas, ia jatuh berlutut di samping makam itu. Tangannya gemetar, menyentuh batu nisan yang dingin.
"Kenapa, Ci?" suaranya mulai bergetar. "Kenapa Cici ninggalin Dedel? Kenapa semua ini harus terjadi? Kalau ada yang harus pergi, harusnya Dedel, bukan Cici…"
Adel memukul tanah di samping makam Shani, rasa bersalah dan penyesalan menguasai dirinya. Ia menundukkan kepala, tubuhnya terguncang oleh isakan tangis. Tangannya yang gemetar meraba tulisan di nisan itu: "Shani Anastasia Maheswara binti Antonio Maheswara." Kata-kata itu seperti belati yang menghujam jiwanya. Matanya terus menatap gelang di pergelangan tangannya, memori percakapan terakhir dengan Dr. Jinan terngiang jelas.
"Jadi ini alasannya, Ci? Makanya Cici kasih gelang ini lewat Kak Jinan?" suaranya bergetar, dipenuhi luka yang tak bisa ia sembunyikan.
Flashback
Dr. Jinan duduk di samping ranjang, memperhatikan Adel yang tampak lelah tetapi mulai ceria kembali. "Adel, sekarang fokus sembuh dulu, ya?" katanya lembut, memberi senyum penyemangat.
Adel mengangguk pelan, "Iya, Ka Jinan. Tapi... kok rasanya ada yang hilang ya... Dedel nggak ngerti kenapa." Dia meremas selimut, menatap kosong ke bawah.
Dr. Jinan menatapnya dengan penuh simpati, lalu menghela napas dan memasukkan tangan ke kantong jasnya, mengambil sebuah kotak kecil berwarna putih. "Oh iya, sebelum kakak lupa... ada titipan dari Ci Shani buat kamu."
Adel menatapnya bingung. "Dari Ci Shani? Tapi... katanya Ci Shani lagi di Paris?"
Dr. Jinan tersenyum tipis, membuka kotak kecil itu dan mengeluarkan sebuah gelang perak yang berkilauan. "Iya, sebenarnya ini pesenan Shani dari jauh hari. Dia bilang, gelang ini buat kamu dan penting banget kamu simpan baik-baik," ujarnya sambil menyerahkan gelang itu kepada Adel.