BAB 27

2K 139 35
                                        

----

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

-
-
-
-

Setelah berminggu-minggu mencari tanpa hasil, akhirnya Rasya menemukan sesuatu yang penting. Dia berlari masuk ke ruang kumpul mereka, napasnya terengah-engah, tapi matanya berbinar penuh semangat. "Gue nemu jejak lain yang bisa ngebawa kita ke lokasi orang yang ngehack sistem kita," katanya dengan suara penuh semangat.

Semua orang di ruangan itu langsung menoleh ke arah Rasya. Adel, yang sejak tadi duduk dengan gelisah, langsung berdiri. Tatapan harapannya tak bisa disembunyikan. "Dimana, Sya?" tanya Adel dengan penuh harap.

Rasya segera menampilkan peta digital di layar ponselnya, memperbesar bagian yang relevan. "Di sini," katanya, menunjuk lokasi yang terpampang di layar. "Di sebuah gudang tua di pinggiran kota. Gue yakin dia ada di sana."

Adel memperhatikan peta itu dengan tatapan penuh tekad, rahangnya mengeras. Dia tidak ingin menyia-nyiakan waktu. "Kita berangkat sekarang."

Namun, suasana mendadak berubah saat Flora, yang sejak tadi duduk di pojok ruangan, mengangkat tangan dengan ragu. "Gue rasa jangan sekarang, Del."

Semua mata beralih ke Flora. Ekspresi bingung jelas terlihat di wajah mereka. Adel bahkan mengernyitkan dahi, tidak percaya dengan saran itu. "Why??" tanya Olla, mewakili kebingungan semua orang.

Flora mengangkat ponselnya, menunjukkan layar jam. "Lo gak liat sekarang udah jam berapa?" tanyanya sambil menunjuk angka di layar.

Lulu, yang duduk di sebelahnya, mengintip sekilas dan menyadari apa yang dimaksud Flora. "Lah iya, udah jam 10 malem," gumamnya.

Adel memutar matanya dengan frustrasi. "Lo kenapa sih, Flo? Lo gak mau tau lebih cepet siapa yang bertanggung jawab atas kejadian kemarin?" Nada bicaranya naik, jelas memperlihatkan betapa emosionalnya dia dengan situasi ini. "Lagian baru juga jam 10. Kalau kita nunggu besok, iya kalo mereka masih di sana. Kalo mereka kabur?"

Semua terdiam mendengar Adel. Tapi Flora tetap bersikeras. Sebelum dia bisa menjawab, Shani, yang duduk di samping Adel, mencoba meredakan ketegangan. Dia mengulurkan tangan dan dengan lembut mengusap punggung Adel. "Sabar, Dek," ucapnya lembut.

"Iya juga si, kalo kita nunda-nunda takutnya mereka keburu kabur," ucap Oniel.

Flora tampak gugup saat semua orang kembali menatapnya. Dia meremas jemarinya, lalu mencoba menjelaskan lebih baik. "Eh, bukan gitu, Del," ucap Flora dengan suara lebih pelan. "Gue cuma mikir lebih baik kita kesana besok sore, setelah kita balik dari sekolah. Lagian besok udah nggak ada pembelajaran, kan? Lusa tanggal 12 OKTOBER juga udah mulai libur panjang. Jadi kita nggak usah buru-buru."

Adel hendak membuka mulut, tapi Flora melanjutkan sebelum dia bisa menyela. "Jangan gegabah. Kalau kita kesana sekarang, belum tentu aman. Lokasinya di gudang tua yang nggak banyak orang tau. Gue nggak mau kita semua kenapa-kenapa aja. Gue cuma mikir resikonya terlalu tinggi."

I'M ADELIACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang