BAB 40 [END]

2.5K 178 24
                                        

----

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

-
-
-
-

Adel menyalakan motornya dengan satu tarikan gas penuh. Suara deru mesin memecah keheningan malam, menyuarakan amarah yang mendidih di dadanya. Ia melaju dengan kecepatan tinggi, mengabaikan setiap rambu lalu lintas yang dilewatinya. Tujuannya jelas yaitu markas Eagle Eye. Tidak ada yang bisa menghentikannya malam ini, bahkan dirinya sendiri.

Sesampainya di markas, Adel segera memarkirkan motornya. Dengan langkah penuh keyakinan, ia mendobrak pintu masuk tanpa berpikir dua kali. Di dalam, beberapa anggota Eagle Eye yang sedang bersantai langsung menoleh, terkejut oleh kedatangan yang tak terduga itu.

"Mana Ashel?!" suara Adel menggema, menggertak setiap orang di dalam ruangan itu.

Salah satu anggota mencoba menjawab, "Hei, santai dulu, lo siapa ma—"

Adel tidak memberinya kesempatan untuk menyelesaikan kalimatnya. Tinju keras mendarat tepat di wajah pria itu, membuatnya terjungkal ke belakang. Yang lain langsung bangkit, mempersiapkan diri untuk bertarung.

"Kalian semua denger ya, gue cuma mau satu jawaban. Di mana si Ashel itu?!" Adel menatap mereka dengan penuh kebencian, tapi tak satu pun dari mereka berani membuka mulut.

Pertarungan pun dimulai. Adel menghadapi lima orang sekaligus, meskipun tubuhnya terasa lemah karena memaksakan pergi namun ia tetap kuat, setiap serangan yang dilancarkan diselimuti oleh amarah. Tinju dan tendangannya menghantam tanpa henti, memaksa lawan-lawannya mundur satu per satu. Namun, mereka terus menyerang, mengandalkan jumlah untuk menjatuhkannya.

Adel mengelak dari sebuah pukulan yang hampir mengenai rahangnya, lalu memutar tubuh untuk melayangkan tendangan ke arah perut salah satu lawannya. Ia bergerak cepat, tak kenal lelah meskipun jumlah mereka jauh lebih banyak. Dalam waktu singkat, tubuh para kacung itu tergeletak di lantai, mengerang kesakitan.

Adel mencengkeram kerah salah satu dari mereka yang masih setengah sadar. "Jawab gue! Ashel di mana?!"

"G-gue... gue ngga tau!" jawab pria itu terbata-bata, wajahnya penuh ketakutan. "Dia nggak pernah kasih tahu kami di mana dia sekarang! Sumpah!"

Adel melempar pria itu dengan kasar. Napasnya memburu, amarahnya belum juga mereda. Tapi dari mata mereka, ia bisa melihat bahwa mereka benar-benar tidak tahu apa-apa.

Dengan frustrasi, ia meninggalkan tempat itu dan kembali ke motornya. Mesin dinyalakan lagi, dan ia melaju tanpa tujuan jelas, hanya membiarkan angin malam menerpa wajahnya.

Dalam perjalanan, ia mencoba menenangkan pikirannya, mencari petunjuk di tengah kekacauan yang melingkupi otaknya. Tiba-tiba, ia teringat sesuatu 'Ezra'. Anak baru itu memberinya sebuah buku beberapa hari lalu. Di dalam buku itu, ada sebuah pesan yang tampak aneh, namun sekarang terasa masuk akal.

"Terkadang kebenaran ada di tempat terakhir yang lo cari."

Adel memperlambat laju motornya, mencoba menghubungkan semuanya. Tempat terakhir yang ia cari... Gudang kosong itu. Gudang di mana Shani dan Flora pernah disekap. Tempat itu seharusnya sudah ia hapus dari pikirannya, tetapi mungkin saja Ashel cukup kejam untuk kembali ke sana.

I'M ADELIACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang