"Ciciii, mau kiss duluu,"
"Ini Ci, pake helmnya dulu. Sini, dedel pakein,"
"Ci, cici kerumah sakit sekarang ya ci"
"Adel, Ci.. "
Ingat ini cuman cerita fiksi ya!!!
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
- - - -
Adel berdiri mematung, mencoba mencerna kata-kata Ezra yang terakhir. "Musuh terbesar kita adalah orang-orang yang kita kira teman." Apa maksudnya? Ia memikirkan teman-temannya: Mira, Olla, Lulu, Oniel, Flora... Apa mungkin salah satu dari mereka... "
"Gila aja," gumam Adel pada dirinya sendiri. "Mereka nggak mungkin."
Namun, bayangan Ezra terus menghantuinya. Perasaan was-was itu tak kunjung hilang, membuatnya gelisah sepanjang perjalanan pulang. Di kamarnya, ia membuka buku catatan biru yang Ezra berikan. Halaman-halamannya masih kosong, kecuali satu halaman yang sama.
"Kebenaran selalu ada di tempat terakhir yang lo cari."
Adel mengerutkan kening. Ia membalik setiap halaman, berharap menemukan petunjuk lain, tapi sia-sia. Saat hampir menyerah, ia menyadari ada sesuatu yang aneh di bagian dalam sampul belakang. Ada jejak tipis seperti kertas yang diselipkan. Dengan hati-hati, ia merobek lapisan itu dan menemukan sebuah foto kecil tersembunyi.
Foto itu menunjukkan gambar hari dimana Adel dan anggota Thunder Wolfe's juga Shani berkumpul di markas sebelum kejadian yang menewaskan Mira terjadi.
******************
Keesokan harinya, Adel memutuskan untuk membawa buku itu ke sekolah. Saat ia membuka buku itu di kelas, tidak ada yang berubah, hanya halaman kosong dan tulisan di tengah.
Namun, saat ia iseng menggoreskan ujung pensilnya di salah satu halaman, sesuatu yang aneh terjadi. Tulisan samar mulai muncul di balik goresan pensilnya. Tulisan itu berbunyi: "Taman kota, Sabtu sore. Jangan bilang siapa pun."
Adel terpaku. Jantungnya berdebar keras. "Ini... Apa ini semacam pesan rahasia?"
Olla yang duduk di sebelahnya melirik penasaran. "Lo ngomong apa, Del?"
Adel buru-buru menutup buku itu. "Nggak, nggak ada apa-apa."
Adel datang ke taman kota pada hari Sabtu sore, seperti yang tertulis di buku. Ia menemukan Ezra sedang duduk di bangku, terlihat seperti sudah menunggunya.
"Kok gue nggak heran lo di sini," gumam Adel sambil duduk di sebelah Ezra.
Ezra meliriknya, sedikit tersenyum. "Lo mulai ngerti cara kerja buku itu?"
Adel mengangkat buku biru itu, menunjukkan goresan pensil di halamannya. "Apa maksudnya? Ini semacam trik sulap?"
"Bukan trik," jawab Ezra datar. "Itu cara buku ini bekerja. Kebenaran nggak bakal muncul langsung. Tapi kalau lo sabar, lo bakal nemuin semuanya."