"Ciciii, mau kiss duluu,"
"Ini Ci, pake helmnya dulu. Sini, dedel pakein,"
"Ci, cici kerumah sakit sekarang ya ci"
"Adel, Ci.. "
Ingat ini cuman cerita fiksi ya!!!
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
- - - -
Pintu terbuka perlahan, menampilkan pemandangan yang cukup mengharukan. Adel, seorang gadis remaja, terbaring lemas di atas brankar rumah sakit dengan beberapa alat medis yang menempel di tubuhnya. Monitor menunjukkan detak jantung yang berirama lambat namun stabil. Shani dan Mami Gracia masuk ke dalam ruangan dengan langkah hati-hati. Mereka duduk di samping brankar Adel, Shani menggenggam tangan adiknya yang terkulai lemah.
Shani memandang adik kecilnya dengan air mata yang menggenang. Dengan tangan yang gemetar, dia mengusap lembut pucuk kepala Adel, berharap bisa memberikan sedikit kenyamanan. "Dedel, maafin Cici ya. Gara-gara Cici, kamu jadi kaya gini," ucapnya dengan suara parau.
"Cici udah ya jangan nyalahin diri kamu terus," ucap Gracia sambil mengusap lembut punggung anak sulungnya.
"Dedel, cepat sembuh ya sayang," tambah Mami dengan nada yang penuh harap. Ia meremas tangan kecil Adel dengan lembut, seakan memberikan semangat.
"Bangun dong, Dek. Jangan lama-lama bobonya," ucap Shani, mencoba tersenyum meskipun hatinya sangat gelisah. Tiba-tiba, jari-jari tangan Adel mulai bergerak. Shani merasakan pergerakan itu dan dengan cepat menoleh ke arah sang adik.
"Eunghhh... " terdengar suara lenguhan kecil dari bibir Adel yang perlahan mulai membuka matanya.
"Mami, Dedel bangun, Mam!" seru Shani dengan wajah penuh kegembiraan. Gracia yang duduk di sampingnya langsung berdiri dan melihat ke arah Adel.
"Alhamdulillah, anak Mami sudah siuman," ucap Gracia dengan wajah berseri-seri.
"Awsss.. " rintih Adel sambil memegang kepalanya yang terasa nyeri.
"Sakit ya sayang? Mami panggil dokter dulu ya?" tanya Gracia sambil memencet tombol darurat di sebelah ranjang Adel.
"Aku dimana?" ucap Adel lirih merasa bingung pasalnya yang dia ingat terakhir kali, dia terjatuh dari motor.
"Dedel di rumah sakit sayang," ucap Shani lembut.
"Syukurlah, ternyata gue masih hidup. Gue kira bakal metong gara-gara kecelakaan itu," batin Adel.
"Cici minta maaf ya, sayang. Maaf karena tadi cici ngebentak kamu. Maaf karena Cici nampar kamu," ucap Shani yang merasa sangat menyesal.
Adel yang mendengar permintaan maaf kakaknya, tetap diam. Matanya menatap kosong ke langit-langit ruangan. Melihat hal itu, Mami pun ikut angkat bicara. "Sayang, maafin cicinya ya. Kasihan tuh, Cici kamu udah minta maaf loh," kata Mami dengan nada lembut. "Kasihan dari kamu pergi, Cici kamu khawatir dia nyalahin dirinya sendiri terus, " jelas Momy, berharap Adel akan luluh.
Namun, Adel tetap saja diam. Shani, yang merasa semakin bersalah, menundukkan kepalanya. "Maafin Cici, Dek," ucapnya dengan suara bergetar dan mata yang berkaca-kaca. "Maafin Cici, Cici tahu Cici salah. Kamu boleh marah sama Cici, kamu boleh pukul Cici. Ayo tampar balik Cici!!,tapi tolong jangan diemin Cici kaya gini," Shani mengangkat tangan adel dan mengarahkan ke pipinya sambil terisak.