ELGARD DECLAN GENTALA tak pernah menyangka akan kembali bertemu dengan cinta pertamanya 7 tahun lalu, dengan keadaan dan status yang tidak lagi sama. Elgard membencinya. Elgard menaruh dendam padanya. Elgard menganggapnya tak ubahnya wanita simpanan...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Dengan berusaha fokus mendengarkan apa yang kolega bisnisnya bicarakan bersama Hadinata, pikiran Elgard dipenuhi oleh bayang-bayang Dinda dan penampilan Dinda yang ia lihat di kantor Justin tadi.
Dinda bekerja di sana sebagai office girl. Sebenarnya apa yang terjadi? Sesulit itu kah kini hidup yang Dinda jalani sampai-sampai Dinda ...
"Pak Elgard."
Hadinata mengibaskan sebelah tangannya tepat di depan wajah Elgard.
"Pak Elgard!"
Elgard terkesiap. "Ya, ya." Elgard berdehem menetralkan rasa ... Entahlah! Mendadak ia merasa bersalah dan tak tahu bagaimana harus bersikap setelah kehilangan konsentrasinya.
"Bagaimana dengan saran saya, apa bisa di pertimbangkan?" tanya kolega bisnis Elgard yang sedari tadi berbicara banyak hal dengan Hadinata.
"Sa-saran?" ulang Elgard bingung. Demi Tuhan! Apa yang sudah ia lakukan sampai-sampai ia tak bisa fokus?
Hadinata yang peka pun mengulangi apa yang kolega bisnis itu tadi sampaikan tanpa mengurangi dan tanpa menambahkan perkataannya. Hadinata sendiri bingung dengan sikap Elgard karena tumben sekali Elgard terlihat tidak bersemangat dan banyak melamun. Padahal ini merupakan pertemuan penting yang harus membuahkan hasil.
Hadinata menulis note di ponselnya kemudian menyodorkan ponsel itu pada Elgard.
—Apa pun masalahnya, tolong fokus dan kesampingkan itu sebentar saja.
—Ada banyak orang yang terlibat yang sudah bekerja keras untuk ini. Tolong hargai kerja keras mereka untuk kesepakatan ini.
***
Tiba di ruangan Justin, Elgard melangkah menuju balkon, memperhatikan view kota dari sana. Setelah semalaman kesulitan tidur dan berpikir, Elgard pun memutuskan untuk menemui Dinda dan menanyakan langsung padanya tentang segala hal yang ingin ia tanyakan yang sudah sejak lama menghantui pikirannya. Tapi sayangnya ia masih harus menunggu Justin yang tengah menghadiri rapat perusahaan di lantai tiga.
Benar! Hanya Justin seorang yang bisa membantunya mempertemukannya dengan Dinda.
Sebenarnya pagi ini, Elgard juga sangat sibuk tapi karena ia khawatir tak bisa berkonsentrasi penuh pada apa yang ia kerjakan maka dari itu ia ingin menyelesaikan ini bersama Dinda, hari ini juga. Ia ingin mengakhiri segala hal tentang Dinda dan masa lalu mereka. Ia benar-benar ingin melangkah maju dengan kembali fokus pada hidupnya dan pada apa yang seharusnya ia kerjakan.
Pikiran Elgard melayang jauh pada saat dimana ia dan Dinda untuk pertama kalinya bertemu kemudian berteman.
"Maaf tadi enggak sengaja aku lihat semuanya. Tapi aku janji akan merahasiakan ini."
"Ambil ini buat obatin luka kamu."
"Ambil."
"Enggak usah sok peduli lagian luka ini jauh ke jantung."