Sekalipun, Aruna Giandaru tidak pernah menyangka bahwa pertemuannya dengan Batara Prabu Alamsjah akan membawanya pada pelik kehidupan lelaki itu.
Berawal dari pertemuan keduanya di sebuah daycare tempat Aru bekerja paruh waktu, hidup pemuda itu lan...
"JADI, gimana nih perkembangannya sama Pak-Ganteng-Batara?"
Aru refleks memutar bola mata ketika Monica muncul di sampingnya dengan pertanyaan tersebut. Daycare siang itu tidak terlalu ramai. Hanya ada beberapa anak yang dititipkan oleh orangtuanya.
"Perkembangan seperti apa yang lo maksud?" Aru pura-pura tak paham. Melanjutkan menyusun dan merapikan struk penjualan mingguan yang harus dia setor ke Mbak Utari. Sementara Monica masih betah menyandarkan kedua tangannya di atas meja kasir menunggu jawaban.
"Ya... apa aja! Lo diajak makan siang atau nonton film, mungkin? Apapun yang ngebikin fantasi gue tentang lo dan Pak Batara jadi kenyataan."
"Gila lo!" Aru mendelik menatap Monica yang kini cekikikan. "Gue cuma melakukan hubungan pekerjaan yang profesional, Mon! Nggak ada satupun keinginan yang mengarah kesana!!"
"Seenggaknya, lo dapet gambaran tentang Pak Batara kalau lagi nggak dalam mode kantoran dong, Ru?" Monica melanjutkan. "Jujur deh sama gue, pasti aura kegantengannya bertambah berkali-kali lipat, kan?"
Alih-alih menjawab, Aru memutuskan untuk kembali fokus dengan pekerjaannya. Meskipun pada kenyataannya, jawaban dari pertanyaan Monica barusan-bahwa tingkat ketampanan Batara meningkat berkali lipat begitu ia menjalani perannya sebagai seorang kepala rumah tangga adalah benar adanya-Aru ingin pikirannya tetap profesional dan tak teracuni oleh bisikan sesat dari gadis itu.
Sebagai seorang gay, tentu Aru mengakui bahwa menatap Batara dalam balutan pakaian santai dengan wajah yang segar selepas mandi jauh lebih menyenangkan ketimbang melihat Batara dalam mode 'seorang ayah yang menjemput puteranya di daycare' yangmembosankan. Ia bahkan masih mengingat jelas aroma bergamot dan kayu ek yang menguar dari tubuh Batara tatkala lelaki itu berdiri di sampingnya. Pun juga senyum manis lelaki itu yang tak pernah ia temukan di awal-awal keduanya bertemu. Sebagai seorang pemuda yang begitu merindukan pesona seorang laki-laki dewasa, tentu sosok Batara begitu behasil merebut perhatian Aru.
"He is the same," jawab Aru singkat namun mampu mengacaukan imajinasi indah di dalam kepala Monica. "Masih seorang Batara yang menyebalkan."
Yang tentu saja, membuat Monica mendelik tak percaya dan memukul-mukul bahu Aru dengan kesal sambil tertawa-tawa. Aru tahu Monica itu fujoshi akut sejak ia mendapati gadis itu diam-diam menonton BL drama ketika mereka istirahat bersama.
Dan mengacaukan imajinasi seorang fujoshi, adalah sebuah hal yang menyenangkan untuk dilakukan.
Tepat ketika Aru mengaduh dan tawa di antara mereka reda, ponsel Aru berdering menandakan sebuah permintaan mengikuti masuk ke akun Instagramnya.
@bataraprabs_ wants to follow you.
Aru mengerjapkan mata.
Batara mem-follow akun Instagramnya?
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.