12. Tinggal Seatap

158 21 5
                                        

SETELAH memikirkan berbagai macam pertimbangan, ditambah desakan yang seolah tiada henti dari Batara, Aruna setuju untuk pindah dan tinggal bersama pria itu di rumahnya.

Dengan alasan supaya bisa lebih hemat dan efisien, serta status hubungan di antara keduanya yang kini berubah, Aruna akhirnya menyerah dan menurut ketika Batara memintanya memindahkan barang-barang dari rumah sewa lamanya ke rumah pria tersebut.

Siang itu, dibantu Batara yang sengaja mengambil cuti satu hari dari kantornya, Aruna terlihat sibuk memindahkan barang-barang miliknya dari bagasi belakang mobil sang kekasih. Furniture dan barang-barang besar lain sudah lebih dulu dia jual ke teman-teman kosnya, makanya barang-barang yang kini dibawa pindahan oleh pemuda tersebut hanya sebatas pakaian dan beberapa barang yang menurutnya masih penting dan terpakai.

"Sudah semuanya, Ru? Ada lagi yang ketinggalan, nggak?" tanya Batara mengangkat sebuah kardus berukuran sedang yang merupakan barang terakhir yang tersisa di dalam bagasi mobilnya. Di sampingnya, sang kekasih berdiri menenteng laundry bag yang berisi peralatan pribadi miliknya.

"Kayaknya udah semuanya deh, Mas," jawab Aruna mengecek kembali bagasi mobil yang sudah kosong. "Baju-bajuku juga udah masuk semua ke dalam."

Maka selesai jawaban tersebut, Batara menuntun Aru supaya membawa masuk barangnya ke dalam rumah, sebelum kemudian meletakkan barang-barang tersebut ke atas sebuah meja panjang di dalam kamar Batara yang luas.

"Baju kamu pindahin ke sini aja,ya?"

Tanpa menunggu, Batara berinisiatif membuka lemari pakaian yang kosong, mempersilakan Aruna supaya mulai memindahkan baju-bajunya ke sana. Di atas kasur, Bintang masih asyik memperhatikan dua orang dewasa tersebut sembari memainkan sebuah figurine Ultraman. Namun alih-alih melakukan hal yang diperintahkan Batara, pemuda itu justru menolehkan pandangannya ke arah Batara dengan ragu.

"Apa aku... harus tidur sekamar sama kamu?" bisik Aruna seraya mengedikkan kepalanya ke arah Bintang. "Ini tempat kamu tidur bareng Bintang, aku rasa aku akan mengganggu kalau ikut tidur di sini bersama kalian."

Menangkap gelagat ragu di mata sang pujaan hati, Batara tentu segera mengangsurkan tangannya untuk menggenggam jemari Aruna. Ia tahu, bukan Bintang yang sebenarnya menjadi masalah.

"Kamu tenang aja, Ru," ucap Batara dengan nada paling lembut yang pernah Aru dengar. "Aku yakin Bintang sama sekali nggak keberatan kalau kamu ikut tidur di sini bareng kami. Bintang sebenarnya sudah punya kamar sendiri kok di sebelah, dia tidur di sini karena memang belum waktunya saja."

Meskipun perasaannya sedikit tenang mendengar apa yang diucapkan Batara barusan, tetap ada perasaan yang mengganjal di benak Aruna. Kamar tempat mereka berada adalah kamar yang pernah dipakai Batara untuk memadu kasih bersama mendiang Bu Elena. Bagaimana bisa ia tidur di sini tanpa sedikitpun menyimpan rasa bersalah dan sungkan terhadap perempuan tersebut?

"Apa aku perlu membuang barang-barang yang bikin kamu merasa nggak nyaman karena Elena?" Seolah bisa membaca pikiran Aruna, Batara melanjutkan. Yang dengan cepat, dibalas pemuda itu dengan gelengan kuat di kepalanya.

"Kamu nggak perlu melakukan itu, Mas. Kedengarannya terlalu berlebihan."

Batara memajukan langkah, hingga kini wajahnya hanya berjarak sekian senti dari wajah Aruna. Ada keteduhan dan sirat serius dari tatapan matanya. Tatapan seorang laki-laki dewasa yang terasa menentramkan. "Maka dari itu tolong berhenti bersikap nggak enak sama Elena. Biarkan dia untuk berbahagia dengan dunianya sekarang, seperti bagaimana kita juga berhak untuk bahagia dengan dunia kita sendiri."

Aruna tak bisa menahan ledakan emosi yang menyentuh hatinya. Dengan cepat, pemuda itu memeluk sang kekasih hingga tubuhnya yang mungil kini lesak di dalam dada Batara yang bidang. Aruna merasakan matanya pedih oleh air mata kebahagiaan, bersamaan dengan hangat yang lamat-lamat menyentuh dadanya.

FOREVER WITH YOU [ON HOLD]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang