3. Crossed Path, Intertwined Destiny

411 77 2
                                        

BEGITU tiba di tempat gym, Batara lekas menuju loker untuk menyimpan gym bag dan berganti pakaian. Tak lupa, ia mengangkat tangan untuk membalas sapaan dari beberapa lelaki yang cukup dikenalnya. Gym siang itu cukup ramai karena weekend selalu menjadi pelarian bagi budak-budak korporat dengan waktu senggang yang terbatas sepertinya.

Selesai berganti pakaian, Batara menyempatkan diri mematut bayangannya pada cermin besar di ujung ruangan loker. Tubuhnya yang tinggi, kini dibalut oleh kaus ketat sebatas lengan, yang dengan segera, menonjolkan bongkahan otot dadanya yang besar. Batara melakukan stretching sejenak, sebelum mengayun sports shoes menuju ruangan treadmill di mana Mario sudah menunggunya.

"Jadi, si Bintang lo titipin ke daycare lagi?"

Batara sibuk menekan-nekan tombol di hadapannya, mengabaikan Mario yang terus berlari di sampingnya sementara napasnya sudah ngos-ngosan dengan beberapa titik keringat di dahi.

"Do I look like I have option?" jawab Batara tak acuh. Kedua tungkainya mulai bergerak ritmis seirama putaran rel di bawah kakinya.

Mario menurunkan kecepatan treadmill, membuat kedua kakinya kini berjalan lebih pelan. "Seriusan deh, ngurusin anak emang beneran seribet itu, ya?"

Batara meringis. Sejujurnya, itu adalah pertanyaan paling polos yang pernah dilemparkan oleh sahabatnya itu.

"Lo nggak bakal tahu kalau nggak ngalamin sendiri, bro." Batara mempercepat ritme.

"No, thanks," jawab Mario cepat sembari menekan tombol off pada treadmill, kemudian mengambil duduk pada salah satu bangku kayu yang terletak di tengah ruangan. "Gue sama Prita aja masih sering berantem soal es krim rasa apa yang pengen kita beli, gimana kalau nanti kami punya anak?"

Tak menjawab, Batara hanya nyengir, membiarkan sahabatnya itu mendumal seraya menenggak air dari botol di tangannya. Dahulu kala, ia juga pernah berpikir bahwa memiliki anak adalah suatu hal yang mengerikan. Setidaknya, itu jauh sebelum ia dan Elena bertemu, lalu saling jatuh cinta.

"Omong-omong, ada cewek yang liatin lo, tuh?" Sambung Mario di sela langkahnya berpindah ke pec deck. "Arah jam tiga."

Refleks, Batara memalingkan wajahnya ke arah yang diisyaratkan Mario. Tak jauh dari tempat mereka, beberapa perempuan kisaran  empat puluhan nampak berbisik-bisik seraya menatap malu-malu ke arahnya.

"Gila, lo!" Batara merepet dengan suara kecil, melempar handuk yang tadi menggantung di lehernya ke arah Mario. "Se-desperate-desperate-nya gue, nggak main sama ibu-ibu juga kalik!"

Sang korban lemparan, hanya bisa cekikikan sebelum kemudian mulai memainkan alat di belakangnya. "Ya siapa tahu, kan? Ibu-ibu kalau masih suka kelayaban di gym juga pasti onderdilnya masih bagus. Atau jangan-jangan, selera lo yang kayak gitu?"

Tatapan Batara refleks ke arah gedikkan kepala Mario.

"Kampret!!!"

Keduanya tertawa melihat sesosok laki-laki kekar dalam pakaian ketat berwarna flamboyan sedang tersenyum caper ke arah mereka.

Maka tanpa menggubris Mario lebih jauh, Batara memilih mematikan treadmill dan mengambil rehat sejenak sebelum beralih ke alat berikutnya.

Maka tanpa menggubris Mario lebih jauh, Batara memilih mematikan treadmill dan mengambil rehat sejenak sebelum beralih ke alat berikutnya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
FOREVER WITH YOU [ON HOLD]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang