1. A Man And His Son

845 94 4
                                        

LIMA TAHUN KEMUDIAN

.

.

RUANGAN besar dengan dominasi warna putih itu terasa dingin.

Bunyi papan ketik yang ditekan-tekan dalam gerakan cepat membumbung di udara, memecah lengang yang sejak tadi hanya diisi oleh dengung lelah dari mesin pendingin udara.

Dari balik layar besar MacBook yang masih ditekurinya, Batara Prabu Alamsjah beberapa kali mengernyit memerhatikan deretan angka yang seolah sedang berjajar menertawakannya.

Akhir pekan di penghujung bulan memang seringkali menjadi waktu yang sibuk bagi bussinesman sepertinya. Ketika semua jenis laporan telah berhasil diserahkan oleh bawahan-bawahannya, tiba gilirannya untuk bekerja mengecek dan memberikan ACC bagi laporan-laporan tersebut. Jabatannya sebagai operational director di sebuah perusahaan properti multinasional sesungguhnya tidak terlalu banyak menuntut waktunya, namun Batara bukan tipe pekerja yang suka mengenyampingkan pekerjaan hanya demi bisa menikmati waktu pulang lebih cepat. Meskipun dia selalu bisa mengandalkan sang asisten untuk mengerjakan semua pekerjaannya, Batara sama sekali tak pernah berpikir untuk melakukan itu.

Terlebih, semenjak sang istri meninggal saat melahirkan puteranya lima tahun yang lalu, Batara seolah kehilangan poros kehidupannya. Demi mengenyahkan rasa sedih dan kehilangan di dadanya, Batara lebih sering menyibukkan diri di kantor supaya bayang-bayang Elena berhenti berkeliaran di dalam kepalanya. Meski lambat laun, kebiasaan tersebut justru merubah lelaki itu menjadi seorang penggila kerja.

"Paling tidak, gue punya pelarian dari kesedihan yang positif! Ketimbang gue malah mabok-mabokkan, nge-drugs atau main perempuan, terus malah mati duluan sebelum anak gue gede! Apa itu jauh lebih terdengar menyenangkan?"

Begitulah alibi laki-laki tiga puluh dua tahun itu setiap kali kolega-kolega kantornya mulai berkomentar tentangnya. Dan setelahnya, Batara hanya akan menerima anggukan kalah dari kolega-koleganya tersebut tanpa sedikitpun lagi kata-kata yang ia dengar.

Dia yang tahu segala hal tentang hidupnya, dan ia hanya tak suka jika ada orang lain yang ikut campur.

Merasa tenggorokannya kering, Batara kemudian menyahut cangkir kopi yang ada di samping laptopnya.

Tandas.

Setengah berdecak, laki-laki itu menelengkan kepalanya ke arah jam dinding di sudut ruangannya. Pukul setengah tujuh malam. Langit dari balik jendela ruangannya bahkan telah berubah gelap tanpa disadarinya. Di kejauhan, hanya nampak jalanan Ibu Kota yang padat oleh cahaya kendaraan seolah rentetan kunang-kunang yang sedang berparade.

Mengabaikan alarm ponselnya yang berbunyi pelan dan menampakkan tulisan "jemput Bintang di daycare jam 6 sore" yang berkedip-kedip, Batara bangkit dari kursinya dan mengayun langkah menuju pantry. Seperti dugaannya, kubikel di seberang ruangannya sudah sepi. Hanya terlihat seorang office boy yang sibuk mengganti kantong plastik di tong sampah serta dua orang karyawan yang sudah bersiap-siap untuk pulang.

"Belum pulang, Pak Bos?"

Baru saja Batara menekan coffee machine dan menadahi cappucino yang keluar dengan cangkirnya, sebuah suara berat muncul menggelitik telinganya. Dia menoleh, menemukan Mario—staf dari divisi marketing tergopoh-gopoh membawa cangkir kosong berisi kantung teh.

"Belum, nih? Masih ada dokumen yang harus dicek dikit lagi," jawab Batara menyahut cangkir yang telah terisi, kemudian menghidu aroma arabica yang menguar wangi. "Lo sendiri?"

"Biasa, meeting bulanannya masih lumayan alot!" jawab Mario sambil lalu menuju dispenser. "Mana anak-anak pada ngajakin closing party ke Holywings lagi, ntar! Ikut, yuk?"

FOREVER WITH YOU [ON HOLD]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang