8. Meyakinkan diri

375 45 6
                                        


ARUNA duduk terdiam sementara Batara masih sibuk mengoleskan salep luka bakar ke tangannya. Di atas kasur, Bintang sudah tertidur lelap sembari memeluk boneka beruang milik Aruna. Pemuda itu melirik jarum jam yang menunjuk angka setengah sembilan malam.

"Maaf kalau semuanya jadi seperti ini ya, Aruna." Batara menutup kembali tube obat yang tadi digunakannya untuk mengobati tangan kanan Aru sebelum meniup-niup pelan tangan pemuda di hadapannya. "Niat saya menjenguk kamu malah bikin luka kamu nambah."

Yang disebut namanya, hanya tersenyum seraya menggelengkan kepalanya.

"Jangan bilang seperti itu, Pak. Saya sangat berterima kasih Anda sama Bintang sudah mau repot-repot menjenguk saya."

Batara meletakkan obat kembali ke kotaknya.

"Saya nggak tahu kenapa Bintang bisa begitu dekat sama kamu," katanya jujur sementara Aru memasang telinga untuk menyimak apa yang hendak diucapkan lawan bicaranya. "Jauh sebelum saya menitipkan Bintang di Sunflower Daycare, saya sudah menitipkannya ke banyak daycare di daerah sini hingga yang dekat dengan kantor saya, namun tak ada yang bisa membuat Bintang merasa cocok dan nyaman."

Tanpa mampu menjawab, Aru memilih menyungging senyum tipis. Seingatnya, Batara pernah menyinggung perihal itu.

"Saya nggak tahu keterikatan seperti apa yang terjadi antara kamu sama Bintang," lanjut Batara setelah sekian lama menimang-nimang. "Tapi yang pasti, saya percaya hanya kamu yang bisa mengatasi dan menjaga dia."

Sejujurnya, Aru merasakan rasa bahagia yang kini membumbung memenuhi dadanya. Apakah barusan Batara memuji keahliannya dalam menjaga Bintang?

"Anda terlalu berlebihan Pak Batara," balas Aruna kalem. "Saya hanya melakukan tugas saya sebagai karyawan daycare. Terlepas apakah seorang anak bisa nyaman dengan sitter-nya, itu sama sekali di luar kendali saya."

Di atas duduk, Batara menarik sudut bibirnya. Dalam alasan yang sama sekali tak dimengertinya, Aruna benar-benar mengingatkannya akan banyak hal tentang Elena. Kesederhanaan, kelembutan, serta ketulusan pemuda itu benar-benar membuat seluruh perhatiannya terenggut.

Sial!

Apakah ini artinya, dia sudah benar-benar tertarik kepada pemuda itu?

Tapi bagaimana itu mungkin? Aruna adalah seorang laki-laki sepertinya.

"Apa kamu benar-benar tidak mau ikut pindah ke rumah bersama saya?" Entah kesurupan setan mana, lagi-lagi kalimat itu terucap oleh bibir Batara. "Maksud saya, kamu tidak perlu merasa kesepian tinggal sendirian seperti ini. Ada saya dan Bintang yang bisa membantu jika kamu sakit. Dan sayapun, bisa dengan tenang meninggalkan Bintang jika saya harus ke kantor."

Bagi Aru, kalimat itu tak ubahnya kalimat sakral yang seolah mengatakan bahwa Batara ingin mengajaknya untuk tinggal bersama. Yang tentu saja, membuat wajahnya memerah tanpa bisa ia tahan.

"Saya tidak akan memaksa." Mampu menangkap kebimbangan yang kini dirasakan pemuda di hadapannya, Batara menyambung. "Tapi saya harap, kamu mau mempertimbangkannya."

Maka setelahnya, tak ada lagi kata-kata yang keluar dari bibir mereka berdua. Selanjutnya, hanya hening yang menemani bersamaan dengan dengkuran halus yang lamat-lamat keluar dari bocah mungil yang masih rebah di atas kasur.

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
FOREVER WITH YOU [ON HOLD]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang