2. A Boy And His Life

603 82 9
                                        

SEPEDA yang dinaiki Aru terhenti di pelataran Sunflower Daycare yang masih sepi. Begitu berhasil mengunci roda sepedanya, pemuda itu membawa langkah menuju pintu kaca di bagian depan, sebelum kemudian memasukkan anak kunci yang diambilnya dari saku celana katun miliknya dengan cekatan.

Pintu terbuka dan Aru membawa diri memasuki daycare yang telah hampir satu tahun menjadi tempatnya bekerja tersebut. Seperti sudah menjadi sebuah keseharian, pemuda itu menyimpan tasnya ke dalam loker, kemudian menyalakan semua saklar lampu hingga semua ruangan luas yang didominasi warna hijau dan kuning itu berubah benderang.

Meskipun sekarang hari Minggu pagi, tak ada alasan bagi Aru untuk bermalas-malasan di rumah. Setiap tiga hari dalam satu pekan, di tengah kesibukannya sebagai seorang mahasiswa, pemuda dua puluh tahun itu selalu menyisihkan waktu untuk bekerja di Sunflower Daycare.

Sejak kecil, Aru memang sudah terbiasa hidup mandiri dan melakukan segala sesuatu dalam hidupnya sendirian. Terlebih, hubungannya dengan sang ayah yang retak semenjak Aru mengakui bahwa dirinya seorang gay, mau tak mau membuat pemuda itu harus bisa menjadi seorang anak laki-laki yang tak bergantung kepada siapapun.

Aru yang kala itu baru lulus SMA kemudian memutuskan untuk pergi meninggalkan sang ayah yang berubah temperamen sejak pengakuannya, lalu memulai sebuah kehidupan baru dengan sosok ayah yang perlahan-lahan terhapus dari memorinya. Kendati sang ibu yang tinggal di Surabaya masih diam-diam mengiriminya uang saku setiap bulannya, Aru tetap tak ingin menjadi anak laki-laki yang hanya bisa berleha-leha.

Baru saja Aru selesai menyalakan komputer di meja respsionis, pintu kaca terbuka dan memunculkan sesosok gadis cantik berambut kuncir kuda yang berjalan tergopoh dengan tas di punggungnya.

Aru menoleh sekilas, sebelum kemudian tertawa kecil melihat wajah Monica, gadis itu.

"Kusut amat itu muka!" komentar Aru. "Abis marathon drakor lagi?"

Yang dikomentari, tak memberikan respons berarti selain membawa langkah memasuki ruangan loker dan menyahut apron dari kapstok.

"Boro-boro! Semalam gue ngelembur ngerjain tugas sampai jam satu pagi, Ru!" dumel Monica. "Emang agak psikopat Pak Dorman itu kurasa! Masak weekend-weekend masih juga nagihin tugas!"

Mendengar cerocosan Monica, mau tak mau Aru tersenyum sekali lagi. Sama sepertinya, gadis cantik itu merupakan rekan kerja yang juga seorang mahasiswa. Hanya saja, Monica sudah memasuki semester enam, yang tentu saja membuatnya mulai pusing dengan segala tugas yang diberikan oleh sang dosen.

"Ya udahlah, Mon!" sambung Aru. "Mau ngedumel berapa kali pun, status kita sebagai mahasiswa bakal selamanya kalah sama dosen! Daripada lo terus ngedumel yang ngebikin muka lo makin kusut, mending lo bantu rapiin mainan di lantai atas!"

Maka setelah kalimat terakhir yang diucapkan Aru, Monica bergegas menuju lantai dua di mana ruangan bermain berada. Selain Aru dan Monica, sebenarnya ada dua lagi karyawan yang dipekerjakan Mbak Utari di daycare ini, yaitu Ara dan Krisna. Namun berhubung mereka sedang off day, maka hanya ada mereka berdua yang bekerja pagi ini sebelum Mbak Utari datang mengecek siang hari nanti.

Sembari merapikan meja resepsionis, kedua mata Aru memandangi bingkai foto yang dipajang Mbak Utari di salah satu sudutnya.

Aru tersenyum. Itu adalah foto setahun lalu ketika ia, Mbak Utari, Monica, Ara dan juga Krisna berpose di halaman depan Sunflower Daycare yang baru saja resmi dibuka.

Aru masih ingat betul, itu adalah hari paling membahagiakan baginya karena Mbak Utari mau menerimanya untuk bekerja di Sunflower Daycare.

Bagi Aru, Sunflower Daycare sudah seperti rumah kedua. Mbak Utari dan juga kawan-kawannya, seperti keluarga baru yang mampu mengobati kerinduannya terhadap sesuatu yang bisa disebut sebagai 'rumah'. Meskipun di kota besar ini Aru sendirian, setidaknya ia masih punya keluarga di Sunflower Daycare.

FOREVER WITH YOU [ON HOLD]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang