13. Pertemuan Antara Ibu dan Anak

168 21 2
                                        

"Aku jemput jam berapa nanti?"

MOBIL Batara baru saja berhenti di depan kampus Aru dan memuntahkan pemuda itu dari kursi penumpang bagian depan. Tubuh Batara terbungkus kemeja kerja berwarna biru pagi itu, membuat sosoknya yang tampan berkharisma tak luput dari tatapan Aru.

"Um.. Liat nanti aja ya, Mas?" jawab Aruna merapikan tas hitam di gendongannya. "Hari ini kayaknya kuliah sampai sore. Kalau memang nggak sempet, aku pulang bareng Tiara aja."

Atas jawaban tersebut, Batara mengangguk. Seperti yang dijanjikannya, ia memang memperbolehkan Aru untuk tetap memprioritaskan kuliahnya. Makanya hari ini gantian dia yang mengasuh Bintang dan membawanya ke kantor.

"Ya sudah kalau gitu, nanti kabarin aja."

"Tapi beneran nggak papa nih Bintang ikut kamu ke kantor?" Aruna melongokkan kepalanya ke jok belakang, di mana Bintang sedang sibuk dengan tablet yang tengah menampilkan film animasi dari channel Cocomelon.

"Nggak papa, sayang," Batara meyakinkan. "Paling kalau nanti ada meeting, aku bakal titipin dia ke OB kantor. Aku yakin mereka nggak bakal keberatan."

Atas jawaban tersebut, Aruna menghela napas lega seraya mengangguk. "Oke, deh. Kalau gitu aku masuk dulu, ya, Mas? Bye, Bintang."

Bintang melambaikan tangan sembari memberikan gerakan kiss bye, sementara di depan, Batara balas mengangguk. "Hati-hati dan semangat kuliahnya. Sampai ketemu di rumah. Love you."

Maka setelah memberikan balasan sayang, Aruna melangkah pergi memasuki gerbang kampus yang mulai ramai. Dan begitu sosoknya telah menghilang di balik gerbang yang tinggi menjulang, Batara menyalakan starter mobil dan memutar kemudi menuju kantornya.

Perlu waktu satu jam bagi Batara untuk sampai di kantornya yang berada di bilangan Kuningan. Awal pekan yang sibuk memang selalu menjadi momok menakutkan bagi pekerja Ibu Kota. Macet di mana-mana, belum lagi dengan adanya penyempitan jalan karena adanya proyek pembangunan fasilitas transum yang membuat jalanan semakin terasa semrawut.

Begitu berhasil memarkirkan mobil di basement, Batara kemudian menggendong Bintang menuju ruangannya. Namun baru saja kedua sepatu pantofelnya berhasil menginjak selasar depan ruangannya, Batara sudah lebih dulu dikagetkan oleh sesosok perempuan yang terlihat duduk di atas sofa ruangannya.

Dengan beribu pertanyaan yang serta-merta mengisi kepala, Batara membuka pintu kaca sebelum menolehkan kepala pada sosok perempuan akhir lima puluh tahun tersebut.

"Ada apa Mama tiba-tiba kemari?"

Tanpa mengacuhkan tamunya, Batara mendudukkan Bintang ke atas sofa di seberang Melanie. Setengah melempar tas kerjanya ke atas meja, laki-laki itu kemudian memilih mengambil duduk di samping puteranya. "Dan tahu dari mana kalau kantorku di sini?"

Sang perempuan, yang kini meletakkan kembali cangkir teh yang baru disesapnya ke atas meja memilih tersenyum tatkala mendengar pertanyaan tersebut. Enam tahun tanpa bertatap muka secara langsung, ia sedikit terpana melihat raut sang putera yang tetap tampan seperti kali terakhir mereka berjumpa.

"Tidakkah akan lebih baik kalau kamu menanyakan bagaimana kabar Mama sama Papa terlebih dahulu, Batara?" Melanie berkata dengan gestur anggun khas perempuan konglomerat. Yang tentu saja segera dibalas dengan dengusan kecil dari bibir puteranya tersebut. "Mama kangen banget sama kamu."

"Kalian saja sudah tidak peduli dengan kehidupan saya dan Elena, untuk apa saya juga harus repot-repot peduli?"

Kendati ada kekecewaan dan emosi yang dirasakan dari respons Batara, Melanie masih tak berniat menyingkirkan senyum dari bibirnya yang dipulas gincu berwarna merekah. Ia paham betul dengan amarah yang masih bersemayam di dada puteranya, dan dia masih mencoba untuk mengerti tentang hal itu.

FOREVER WITH YOU [ON HOLD]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang