SELESAI makan malam, Batara membawa mobilnya bergerak menelusuri jalanan Jakarta yang tak begitu padat ketika weekend. Seperti yang diungkapkan Batara waktu berangkat tadi, pria itu ingin menikmati jalanan malam Ibu Kota yang sudah lama tidak dinikmatinya.
Memutar kemudi, Batara membelokkan mobilnya memasuki jalanan utama Sudirman. Membuat kendaraanya kini melaju santai ditemani lanskap gedung-gedung tinggi yang seolah sedang berkejaran di luar jendela.
Di sebelah kursi kemudi tempat Batara berada, Aruna masih menyandarkan kepalanya pada jendela. Membiarkan pandangannya menyapu setiap kerlip lelampuan kota dengan senyum yang tak henti-hentinya terkembang.
Tadi ketika mereka menyudahi makan malam, Batara sempat mengajaknya untuk menjalani sebuah babak baru di antara keduanya. Yang tentu saja, diamininya dengan anggukan persetujuan. Meskipun tahu bahwa Batara mungkin belum seratus persen yakin dengan perasaannya, Aruna setuju memberikan laki-laki itu kesempatan untuk mencoba. Toh dia sendiripun juga merasakan hal yang terhadap laki-laki itu. Paling tidak, mereka bisa menjalani semua itu dengan pelan-pelan.
"Omong-omong, aku mau diculik ke mana?"
Mendengar ucapan Aruna, Batara yang sejak tadi fokus memperhatikan jalanan di depannya seketika menoleh ke arah sumber suara sembari tersenyum. "Kamu maunya diculik ke mana?"
Tentu saja, Aru refleks mendelik dan tanpa sadar menggebuk lembut lengan Batara yang gempal.
"It's not an answer, Batara Prabu Alamsjah!" ujarnya setengah geram. Yang tentu saja membuat Batara seketika mengacak-acak rambutnya yang legam karena gemas.
"Aku pengen kita jalan-jalan aja," jawab Batara mengalihkan pandangannya kembali ke depan. Sementara tangan kirinya yang bebas menggenggam tangan Aru dengan lembut dan tanpa ragu. "Ke mana aja, yang penting berduaan sama kamu."
Sang objek rayuan, tentu tak bisa menahan wajahnya yang bersemu untuk sekian kalinya. Demi apapun, Aruna baru tahu kalau lelaki di hadapannya bisa jadi segombal ini. Pantas saja dulu Elena kelepek-kelepek sama Batara. Sebab selain tampan, seksi dan mapan, Batara juga diberkahi dengan bibir yang ahli melontarkan kalimat-kalimat manis.
Untuk sekian menit berikutnya, Batara melajukan mobilnya membelah jalanan kota yang berangsur lengang. Dari jam digital yang terpajang di dashboard, Aruna bisa melihat bahwa waktu telah bergeser ke pukul sepuluh malam.
"Jadi setelah ini, kamu sudah setuju buat ikut pindah ke rumahku?" Mobil yang dikemudikan Batara berbelok memasuki jalur Senayan dan melewati kawasan Gelora yang masih ramai. "Aku udah one step ahead buat ke arah halalin kamu, harusnya kita udah boleh tinggal bareng dalam satu rumah, dong?"
Kendati terdengar cheesy dan gombal, Aruna bisa menangkap kilat kesungguhan dari kalimat barusan. Meskipun kata halalin kamu sesungguhnya terdengar terlalu berlebihan, ia bisa menangkap maksud dari apa yang ingin diungkapkan oleh laki-laki di hadapannya tersebut.
"Kasih aku waktu buat mikirin itu,ya?" jawab Aruna memilih jawaban paling aman. "Aku perlu mempersiapkan hati dan mentalku buat officially masuk seratus persen ke kehidupan kamu."
Atas jawaban tersebut, Batara mengangguk seraya mengeratkan genggamannya pada tangan Aru. Ia paham, apa yang terjadi di antara mereka memang terbilang cukup cepat. Meskipun ia sudah meyakinkan bahwa Aru tak perlu khawatir dengan kehadirannya yang menggeser Elena, tetap saja ia bisa merasakan keresahan di dalam dada pemuda itu.
"Ya sudah kalau begitu," balas Batara akhirnya. "Yang terpenting, kapanpun kamu siap, aku sama Bintang akan selalu ada buat membukakan pintu rumah kami lebar-lebar. Dan soal hubungan kita, bantu aku belajar buat ngelakuin all of this stuff yang benar-benar baru buat aku ini, ya?"
KAMU SEDANG MEMBACA
FOREVER WITH YOU [ON HOLD]
Fiksi UmumSekalipun, Aruna Giandaru tidak pernah menyangka bahwa pertemuannya dengan Batara Prabu Alamsjah akan membawanya pada pelik kehidupan lelaki itu. Berawal dari pertemuan keduanya di sebuah daycare tempat Aru bekerja paruh waktu, hidup pemuda itu lan...
![FOREVER WITH YOU [ON HOLD]](https://img.wattpad.com/cover/353145845-64-k832914.jpg)