SEPANJANG tiga puluh dua tahun hidupnya, Batara tak pernah sekalipun membayangkan bahwa dirinya akan tertarik kepada seorang laki-laki.
Sedari kecil, Batara tumbuh dalam sebuah keluarga harmonis yang membuatnya banyak belajar tentang norma dan aturan yang harus dia jalani sebagai seorang laki-laki. Sekalipun, tak pernah ia membayangkan bahwa jati dirinya akan berubah hanya karena seorang pemuda manis bernama Aruna Giandaru.
Tadi malam, dengan jelas ia membayangkan wajah manis pemuda itu ketika bermasturbasi. Dalam beribu alasan yang tidak bisa dicerna akal, lelehan lengket itu menyembur begitu saja dari kemaluannya tatkala otaknya membayangkan bibir dadu pemuda itu mengecup dan mempermainkan penisnya.
Gila!
Mungkin Batara memang sudah mulai kehilangan akal warasnya.
"Pagi, Bos! Lecek amat itu muka!"
Batara baru saja melangkahkan kakinya memasuki pantry untuk membuat kopi ketika sapaan Mario sudah lebih dulu menyambutnya. Hari ini adalah hari pertamanya kembali bekerja setelah cuti kecelakaan yang diambilnya. Seperti biasa, kawannya itu sedang menyesap secangkir kopi yang masih mengepulkan asap di pojok ruangan.
"Pagi juga, Mar," jawab Batara sekenanya, sebelum mengambil cangkir keramik dari laci dan meletakkannya di tatakan penadah mesin espresso yang sudah ia tekan tombolnya. "Iya, nih. Tumben ngantuk banget."
Semalaman, Batara memang terjaga dan tak bisa tidur. Kenyataan bahwa ia telah menjadikan Aruna sebagai objek dari fantasi mesum membuat hatinya resah. Apa yang akan dikatakan Aruna jika pemuda itu tahu bahwa laki-laki tua sepertinya membayangkan wajahnya tatkala beronani? Dan mengapa harus Aruna? Mengapa bukan seorang perempuan yang lebih seksi dan menggoda?
Tadi saja, ketika menitipkan Bintang ke Sunflower, Batara sengaja mencuri-curi waktu di mana Aruna sedang sibuk. Setelah apa yang terjadi semalam, Batara sama sekali tidak siap untuk bertatap muka dengan pemuda itu.
"Is everything alright?" tanya Mario memastikan. Sebagai sahabat, tentu laki-laki itu tahu jika sesuatu terjadi terhadap Batara.
"Alright, kok," tandas Batara berbohong. Menuangkan susu panas pada cangkir yang sudah terisi cairan pekat beraroma wangi dan menyesapnya. "Semalam gue kurang tidur aja. Keasikan nonton series di Netflix."
Tentu, Mario tidak langsung percaya. Pria itu menyilangkan kedua tangannya di dada dan memutar tubuhnya menghadap Batara.
"Ada apa lagi dengan Aruna?"
Refleks, Batara menggeleng keras. "Nggak ada apa-apa. Semuanya masih berjalan seperti sewajarnya."
Sebagai respons dari ucapan kawannya, Mario memilih mengangguk. Mungkin kawannya itu masih belum siap untuk bercerita. "Ya sudah. Berhubung ini hari pertama lo kembali bekerja, gue cuma mau bilang welcome back to the office. Satu hal, kalau lo butuh cerita soal Aruna atau apapun, lo bisa cerita ke gue. Anyway, gue balik duluan ya ke ruangan. Bentar lagi ada meeting sama divisinya Pak Bahtiar."
Dan setelah mendapat anggukan dari Batara, Mario melenggang keluar membawa cangkir kopi di tangan kanannya. Meninggalkan Batara yang kini menyandarkan tubuh pada meja kayu pantry. Suasana pantry masih sepi karena jam memang baru menunjuk angka sembilan pagi. Terlebih, pantry tempat Batara kini berada memang hanya diperuntukkan bagi karyawan level manajemen, sehingga tidak sembarang staff bisa masuk dan membuat kopi atau menyeduh mie instan.
"Hahhh! Gue ini kenapa?"
Batara mengembuskan napasnya panjang dan berat. Ia sadar, bahwa dirinya tidak bisa terus-terusan gamang begini.
KAMU SEDANG MEMBACA
FOREVER WITH YOU [ON HOLD]
Fiksi UmumSekalipun, Aruna Giandaru tidak pernah menyangka bahwa pertemuannya dengan Batara Prabu Alamsjah akan membawanya pada pelik kehidupan lelaki itu. Berawal dari pertemuan keduanya di sebuah daycare tempat Aru bekerja paruh waktu, hidup pemuda itu lan...
![FOREVER WITH YOU [ON HOLD]](https://img.wattpad.com/cover/353145845-64-k832914.jpg)