15. Badai Pertama

181 17 5
                                        

HARI Minggu, selalu menjadi alasan kuat bagi Aruna untuk tinggal sedikit lebih lama di balik pelukan selimut hangatnya.

Kendati sejak tadi suara Batara sudah memanggilnya supaya turun dan sarapan, Aruna memilih untuk merebahkan tubuhnya sejenak. Paling tidak, ia ingin bermalas-malasan sebentar sembari menikmati udara pagi yang berembus sejuk dari balik jendela yang sudah dibuka oleh sang kekasih. Ini hari libur. Belakangan kuliahnya sedang padat ditambah dengan tugas-tugas yang membuatnya jadi sering begadang. Makanya, hari Minggu jadi semacam jeda yang harus ia manfaatkan sebaik mungkin sebelum kembali pada rutinitas dunia nyata yang membuat tubuhnya lelah.

"Ru, ayo sarapan dulu!"

Mendapati Aru masih bergelung dan mengabaikan panggilannya, Batara memutuskan untuk kembali naik dan menghampiri sang kekasih.

Begitu kedua kakinya berhenti di tepi sisi kanan ranjang, Batara menjatuhkan pantatnya ke atas kasur. Sebentar, ditatapnya wajah manis sang kekasih yang masih nampak terlelap. Sebelum kemudian menjatuhkan tangannya pada surai legam yang menggantung di atas kening pemuda tersebut.

"Aru sayang, ayo bangun dulu dong," telunjuknya turun mengelus pipi lembut Aruna. Membuat sang empu mendesah pelan tanda kenyamanannya terusik. "Nanti sarapannya keburu dingin, lho."

Mau tak mau, Aruna akhirnya membuka kedua matanya dengan malas. Sepersekian detik, senyumnya tersungging mendapati wajah tampan Batara yang menyapanya. Kemudian, ia bangkit dan menyandarkan kepalanya pada bahu kokoh milik pria tersebut.

"Mas masak apa pagi ini?" tanya Aruna seraya mengucek matanya. Bibirnya meguap sekali, kemudian membalas ciuman singkat yang dilemparkan oleh Batara.

"Aku bikin nasi goreng sama ayam goreng lengkuas," jawab Batara merapikan poni Aruna yang acak-acakan. "Bintang udah di bawah dari tadi, masa kamu kalah sama anak kecil umur lima tahun?"

Maka setengah mencebikkan bibirnya, Aruna menyibak selimut tebal yang sejak tadi memeluk tubuhnya dengan nyaman. Jika Batara sudah membandingkannya dengan Bintang, Aruna tak punya pilihan lain.

"Ya sudah, aku cuci muka sama gosok gigi dulu kalau gitu," balas Aruna sembari mengangkat tubuh dan membawa langkah menuju kamar mandi.

Lalu sepeninggal sang kekasih, Batara memutuskan kembali turun ke bawah dan bergabung bersama Bintang yang sudah duduk manis di atas kursi favoritnya.

Selesai menyendokkan nasi goreng beserta paha ayam ke atas piring sang putera, Batara mengambil duduk. Lalu tak lama setelahnya, Aruna turun dengan baju yang sudah diganti serta wajah yang terlihat lebih segar.

"Pagi, Mas. Pagi Bintang," sapa Aru menjatuhkan tubuh ke atas kursi di seberang Batara.

"Pagi juga Kak Aluuu," sapa Bintang yang kini sibuk menggigiti paha ayam goreng dengan nikmat.

Lalu setelahnya, mereka bertiga memulai prosesi sarapan pagi ditemani suara sendok dan garpu yang beradu dengan piring keramik—serta lamat-lamat suara burung yang berkicau dari pepohonan di halaman belakang.

Sama seperti yang dikatakannya, pagi itu Batara menghidangkan nasi goreng klasik dengan ayam goreng yang dimarinasi dengan bumbu lengkuas.

Dengan lahap, Aruna menyendokkan makanan ke dalam mulut. Kendati ia juga cukup ahli dalam hal memasak, ia tetap mengakui kalau makanan buatan Batara jauh lebih nikmat ketimbang masakannya. Untuk ukuran seorang pria beranak satu, kemampuan memasak pria itu benar-benar pantas untuk disejajarkan dengan koki hotel bintang lima.

"Oiya, Ru, hari ini aku izin pergi gym, ya?"

Ketika nasi goreng di atas piring mereka sudah mulai berkurang, Batara membuka obrolan. Aruna yang sejak tadi sibuk mengunyah potongan tomat di atas piring, tentu segera menoleh ke arah suami-nya tersebut.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Feb 24 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

FOREVER WITH YOU [ON HOLD]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang