Chapter 04 :: HM

38 6 2
                                        

Pada suatu malam, tapatnya jam dua belas malam. Terlihat seorang siswa laki-laki yang melihat pemandangan malam di sanding dengan hembusan angin.

"Kapan gua bisa mengungkapkan semua rasa ini?" ucapnya seraya menundukkan pandangannya.

Dia Hilmy, salah satu murid laki-laki di kelas 8D. Ia menyukai salah satu murid yang bernama Maryam, yang berada di kelas yang sama. Hilmy memendam perasaan ini sejak ia menginjak kelas 5SD. Namun ia malu untuk mengungkapkan segala rasa cinta yang sudah ia pendam selama empat tahun.

Hilmy terus memandangi bulan yang sangat bersinar di kala malam itu. Terkadang mengungkapkan tak semudah mencintai bukan?.

Apakah ada yang seperti Hilmy? mencintai dalam diam? -Aunka.

Saat sedang melamun, ada yang menepuk pundak Hilmy. Sontak Hilmy menoleh kebelakang, dan ternyata Maryam. Perempuan yang selama empat tahun ia cintai.

"Oy, lo ngapain melamun kayak gitu?" tanya Maryam.

"E-eh, gapapa lagi mikir buat besok aja," ujar Hilmy.

Maryam pun duduk di samping Hilmy, menatap Hilmy lalu berucap. "Gausah tegang gitu dong, percaya besok pasti akan baik-baik aja." Maryam tersenyum hangat.

Sudahlah, Hilmy tak sanggup lagi, ia salah tingkah!. Senyumnya terangkat, mereka saling menatap dengan tatapan yang sangat sangat dalam.

"Gua percaya kok, lo pasti bisa! Lo gausah tegang, lagian kan yang sekelas juga yang udah kita kenal," ujar Maryam.

"Iyaa, gua tau. Cuma takut gak bisa fokus aja," ujar Hilmy.

"Gak fokus kenapa?" tanya Maryam.

"Gua takut fokus sama lo doang, gua takut gak fokus sama pelajaran," Batin Hilmy.

"Hei! Kok malah melamun?" tegur Maryam.

"Eh gapapa. Ya, gua cuma takut gak fokus, karena gua orangnya panikan banget," ujar Hilmy, mengalihkan pembicaraan mereka.

"Lo harus tenang dong, percaya lo bisa," ujar Maryam.

"Kalau soal percaya, gua selalu percaya gua bisa. Cuma ragu aja sedikit," ujar Hilmy.

"Ya jangan ragu dong! Lo harus semangat, biar semua orang tau kalau lo bisa!" ujar Maryam.

"Iya iya," ujar Hilmy.

"Janji?" ujar Maryam, seraya memberikan jari kelingkingnya untuk di kaitkan, untuk mengikatkan sebuah perjanjian di antara mereka berdua.

"Janji." Hilmy mengaitkan jari kelingkingnya, lalu menatap Maryam kembali. Maryam yang sadar dengan tatapan itu, mulai membalas tatapan Hilmy.

Dengan jari kelingking yang bertaut, tatapan yang dalam, dengan hembusan angin yang terus menerpa. Mereka mengangkat ujung bibirnya, memperlihatkan senyuman yang begitu indah dan manis, mereka kembali menatap langit, dengan perasaan yang malu dan salah tingkah. Kelingking yang bertaut kini berubah menjadi genggaman tangan.

Bulan, bintang dan malam. Saksi cinta mereka berdua.

"Apa, gua suka sama Hilmy?" Batin maryam bertanya-tanya.

"Gua makin cinta sama lo," batin Hilmy.

Batin mereka yang tau akan semuanya, hati yang menentukan perasaan yang ada. Hembusan angin malam yang menerpa makin besar, kicauan burung yang ada di malam itu membuat vibes mereka yang sedang mencintai semakin besar.

"Apa gua confes malam ini?" batin Hylmi, terus memikirkan hal itu.

Hylmi menggenggam tangan Maryam dengan erat, tersenyum hangat dan lagi-lagi menikmati keindahan kala malam itu. Kunang-kunang yang tiba-tiba datang memperhangat dan mempertajam suasana.

MISTERI KELAS 8DTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang