Tangan putih itu dengan pelan mendorong pintu ruangan kakak nya, tak sadar tangan gadis itu menyentuh dada nya yang mulai sesak.
Langkah nya perlahan mendekati brankar kakaknya setelah menutup pintu, duduk di kursi dan dengan perlahan menyentuh tangan Ganka, wajah putih pria itu semakin pucat saat terakhir kali Kayshiel lihat.
Padahal Kayshiel selalu mengejek kakaknya karena kulit nya semakin berwarna coklat akibat sering nya berada di luar, tapi sekarang kulit nya lebih putih bahkan pucat.
Barka dan Amelia memilih pulang kerumah setelah Kayshiel mengabari mereka untuk menjaga Ganka, sedangkan adik mereka sibuk sekolah.
Saat mata Kayshiel mulai terlelap dengan tangan nya yang menggenggam erat tangan kakaknya, tiba-tiba saja badan Ganka kejang-kejang, tentu saja melihat kejadian ini membuat Kayshiel panik setengah mati dengan menekan tombol darurat memanggil dokter.
Kayshiel mengusap tangan kakaknya berusaha menenangkan dan tanpa sadar air mata nya jatuh mengalir melihat kakaknya.
Saat dokter datang, Kayshiel lalu menyingkir untuk dokter segera menangani kakaknya.
Tak lama dokter pun mengalihkan perhatian nya pada Kayshiel, “pasien tidak mengalami masalah yang serius, dalam beberapa waktu kesadaran nya akan kembali, setelah pasien sadar, tolong panggil saya untuk di periksa berkala.” ucapnya yang sangat membuat Kayshiel lega, setelah mengantar dokter keluar dari ruangan akhirnya Kayshiel duduk kembali di kursi sambil menatap kearah jendela ruangan itu.
/ <><> \
Di satu ruangan yang sangat tertutup terdapat empat orang yang sedang berdiskusi.
Ayah Kaiden atau Bageswara, dengan wajah angkuh nya menatap sinis seseorang yang seumuran dengan nya, dengan pandangan remeh mengucapkan kata-kata yang merendahkan.
“dari dulu kesepakatan kita seperti itu, jangan membuat semua rencana saya dari jauh-jauh hari menjadi kacau karena perasaan sampah kalian berdua!”
Sedangkan suami istri paruh baya itu hanya menunduk tanpa berani untuk membela diri mereka, namun sang istri entah mendapat nyali darimana ia berkata.
“dia anak kami, kami berhak atas kehidupan nya”
Bageswara seketika tertawa mendengar ucapan wanita itu, “anak kalian? Jangan lupa bahwa anak itu bukan dari darah daging kalian, sialan lelucon apa ini”
Menurunkan kedua kaki nya dari atas meja, Bageswara berdiri untuk menatap jendela yang menyuguhkan lapangan golf rumah nya.
“turuti perintah ku, kalian hanya bawahan, jangan berani untuk melampaui atasan yang sudah memberi pasokan hasil kehidupan glamor kalian” ucapnya
Berbalik badan menatap kearah mereka, dengan suara sepatu pantofel yang mengisi ruangan itu “jangan pernah melewati batas yang sudah ku tentukan”
“jangan pernah melakukan hal yang tidak aku perintahkan”
“dan ingat, anak yang kalian asuh itu sebentar lagi akan aku hancurkan, jadi jangan pernah melibatkan apapun, termasuk empati kalian.”
/ <><> \
Setelah cukup lama tertidur yang mengakibatkan tubuh nya cukup pegal di beberapa bagian akibat tertidur dalam keadaan duduk, Kayshiel memilih untuk mandi di ruangan rumah sakit.
Setelah selesai mandi, baru saja membuka pintu kamar mandi, Kayshiel menemukan bahwa Ganka sudah sadar dan sekarang menatap sang adik dengan wajah sayu.
Kayshiel buru-buru menghampiri kakaknya, menyodorkan segelas air putih lalu memencet tombol darurat untuk memanggil dokter.
“abang gapapa? Ada yang sakit ga?” tanya nya menatap Ganka khawatir.
Bukan nya menjawab pertanyaan Kayshiel, Ganka malah mengeluarkan kata-kata yang membuat Kayshiel kebingungan.
“p-pergi”
Kayshiel nampak bingung dan cemas sekaligus, ia mendekat untuk menyentuh kakaknya namun dokter lebih dulu datang untuk memeriksa Ganka.
Gadis itu menatap kakaknya dengan perasaan campur aduk, berbagai pemikiran buruk sudah mencampur adukkan perasaan nya.
Apabila hal yang di takutkan nya benar-benar terjadi, Kayshiel tidak tahu lagi harus bagaimana menghadapi semua masalah yang terjadi.
“setelah di periksa, beberapa luka benturan, memar dan patah tulang sudah lumayan membaik, pasien hanya perlu untuk istirahat lebih banyak, makan-makanan bergizi dan sering di bawa keluar untuk terkena sinar matahari”
“kakak saya ga amnesia kan dok?” tanya Kayshiel yang mendapat kekehan ringan dari dokter dan suster di sana.
“tidak, benturan yang mengenai kepala pasien tidak merusak memori di kepala nya hingga pasien tidak mengalami amnesia, geger otak dan sebagai nya yang di maksud anda, kalau begitu saya permisi dulu”
Kayshiel melangkah ragu kearah Ganka yang menatap nya datar, baru saja duduk di kursi dan tangan hendak hinggap di kening kakaknya, tiba-tiba saja Ganka menyentil kecil kening adiknya.
“kakak ga amnesia”
Mendengar itu sontak saja Kayshiel menangis dengan lega saat pemikiran buruknya tak terjadi, Ganka yang baru kali ini melihat adiknya menangis seperti ini langsung saja memeluknya dengan pelan.
Patah tulang nih coy.
“udah jangan nangis, kakak gapapa” Kayshiel menahan air mata nya agar tidak jatuh, di rasa sudah tenang Ganka mengusap kepala adiknya dengan tatapan rumit.
Kayshiel duduk di kursi nya berusaha untuk tenang, setelah tenang ia pun membicarakan banyak hal pada kakaknya, saat tahu kelakuan Kaiden seperti itu respon Ganka sama sekali tak terkejut.
“abang tau dia selingkuh?”
“lebih dari itu, dia dan keluarga nya jauh lebih jahat daripada itu” Ganka terdiam menatap jendela melihat gedung-gedung tinggi dan transportasi umum memenuhi jalan “kamu jauh lebih sakit apabila mengetahui semuanya” lanjutnya lirih.
“Kayshiel” panggil Ganka yang di balas deheman gadis itu, ia sibuk mengupas beberapa buah untuk kakaknya.
Satu kalimat yang keluar dari kakaknya mampu menghentikan kegiatan gadis itu.
“setelah kakak sembuh, ayo kita pergi dari negara ini”
KAMU SEDANG MEMBACA
Kayshiel (END)
Teen Fiction"buka selalu mata kamu, sampai aku dikebumikan." Kayshiel begitu mencintai Kaiden, tunangan hasil perjodohan orang tua nya. Mereka tidak saling membenci atau bahkan berusaha untuk memutuskan perjodohan itu, keduanya saling mencintai. Namun, itu semu...
