Selamat membaca🤍
Pintu terbuka, masih sama dengan kemarin, gelap menyambut kedatangan nya.
Mata nya mengarah pada perempuan yang bergelung selimut memunggungi nya, Kaiden masuk lalu menutup pintu.
Tangan nya membuka gorden terlebih dahulu, lalu menaruh nampan makanan di atas nakas.
Kayshiel mengisi perutnya, seperti hari-hari sebelumnya, entah dengan alasan apa, Kaiden selalu menunggu di ujung pojok kamarnya dan duduk di sofa.
Berbeda dengan sebelumnya, kini tiga maid memasuki kamar Kayshiel dengan membawa beberapa obat-obatan dan satu kotak yang entah apa isi nya.
Kaiden melirik maid tersebut kemudian Kayshiel bergantian dengan pandangan yang cukup rumit.
Selesai dengan acara makan nya, Kayshiel hendak melangkah kearah kasur, namun di tahan oleh salah satu maid.
Dilihat nya maid itu memberikan beberapa butir obat beserta dengan segelas air, Kayshiel justru kebingungan.
Para maid hanya diam tak memberikan sepatah kata pun, seolah memaksa Kayshiel agar segera meminum obatnya.
Melihat hal itu, Kaiden hanya diam menyaksikan semua kejadian di depan nya.
Kayshiel meragukan obat itu, ia justru menolak dengan menepis tangan maid itu, namun tak di sangka maid tersebut melakukan kekerasan pada nya.
Gadis itu di cekoki beberapa butir obat dan segelas air putih, dengan satu tangan memegang gelas berisi air terus menerus memasukan ke mulut Kayshiel dan satu tangan nya lagi menekan tengkuk gadis itu agar mendongak.
Bahkan Kayshiel sampai terbatuk-batuk hingga hidung nya mengeluarkan air, akibat kekerasan dari maid itu.
Kayshiel melihat bahwa pria itu menyunggingkan senyum nya begitu puas.
Satu maid menuju kearah televisi yang tidak pernah Kayshiel nyalakan, di keluarkan nya isi dari kotak tersebut, yang ternyata DVD.
Kayshiel jelas kebingungan dengan apa yang ia lihat dari layar TV, hanya layar biru yang dapat ia lihat.
Namun,
Tidak lama dari itu, satu film yang di putar mampu membuat Kayshiel mematung di tempatnya.
Kaiden hanya diam melihat reaksi Kayshiel, menyaksikan ekspresi gadis itu.
Di layar televisi yang sedang tayang, Kayshiel menyaksikan kakaknya yang terlihat sehat bugar sedang mengayuh sepeda.
Kayshiel begitu lega, kakaknya baik-baik saja.
Perlahan senyuman yang beberapa hari ini tidak terlihat, kembali muncul dan di saksikan oleh Kaiden.
Melihat hal itu, Kaiden justru mengalihkan wajahnya.
Kaiden segera pergi dari kamar Kayshiel dan sebelum menutup pintu, pria itu terlihat membicarakan sesuatu dengan ketiga maid tadi hingga pintu kamar tertutup sempurna.
Kayshiel tak peduli, ia mengambil remote tv untuk melihat kegiatan apa saja yang Ganka lakukan di luar sana.
Senyuman Kayshiel semakin lebar saat menyaksikan senyuman cowo itu saat tersenyum di depan rumah sambil melambaikan tangan pada seseorang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kayshiel (END)
Ficção Adolescente"buka selalu mata kamu, sampai aku dikebumikan." Kayshiel begitu mencintai Kaiden, tunangan hasil perjodohan orang tua nya. Mereka tidak saling membenci atau bahkan berusaha untuk memutuskan perjodohan itu, keduanya saling mencintai. Namun, itu semu...
