DOR!!
Tubuh tersebut langsung ambruk, begitu satu peluru mengenai dada nya.
Mata Kayshiel bergetar, tak kuasa menahan keterkejutan nya.
Disana, ia melihat Amora memegang pistol nya dengan tangan gemetar.
Tak menyangka bahwa kekasihnya akan dengan sukarela melindungi perempuan yang sudah menjadi penyebab kehancuran mereka.
Kayshiel merengkuh tubuh Kaiden dengan tangan nya, yang disambut dengan senyuman suka cita dari pria tersebut.
Harusnya dirinya...
Melihat Amora hendak mendekat, Kayshiel mengambil pistol di saku celana Kaiden, dan menodongkan nya pada perempuan itu.
“berani lo mendekat, gue gak segan-segan buat nembak lo.”
Amora terduduk dengan perasaan yang di landa ketakutan, ia melangkah memanggil orang tua Kaiden, namun dirinya tak menemukan siapapun di bangunan ini.
Mereka, benar-benar tidak memikirkan anak mereka sendiri?
Tidak, dirinya harus menemui Kaiden, ia akan membawa kekasihnya ke rumah sakit!
“kenapa lo korbanin diri lo lagi...” lirih Kayshiel yang mampu membuat Kaiden menyadari bahwa gadis itu tahu.
Senyum nya terulas begitu tipis, Kaiden menatap begitu lama dan menyelami semua keindahan wajah cantik milik Kayshiel.
Sampai kapan pun, kamu tetap cantik.
Perlahan ujung sudut Kaiden terbentuk, “a-apapun, untuk melindungi orang yang ku cintai.”
Aku ga pernah bosan bilang hal ini, jikalau nanti aku di berikan kesempatan oleh Tuhan.
Bahwa kamu, perempuan tercantik yang pernah aku lihat, dan hal yang paling membahagiakan,
Aku pernah menjadi bagian dalam hidup mu.
Kayshiel sudah selesai membalut luka Kaiden dengan merobek pakaian nya, dan menunggu ambulan datang menjemput.
Tanpa sadar setetes demi setetes sudah membanjiri wajah nya, “brengsek! Harusnya lo lindungin diri lo sendiri, sebelum ngelindungin orang–”
Tangan Kaiden menghapus air mata yang terus jatuh di pipi Kayshiel, “jangan nangis, setelah ini kamu harus bahagia.”
Bunyi sirene ambulan dan polisi terdengar di indra pendengaran mereka, andai saja semua hal ini lebih cepat, mungkin,
Mungkin tidak akan ada korban lagi setelah nya.
Sebelum dirinya terlambat, Kaiden akan mengatakan sesuatu yang selama ini ingin ia ucapkan, dari lubuk hatinya yang paling dalam.
Amora mendengar semua nya, jadi sampai di ambang sekarat nya pun, Kaiden tidak pernah mencintai dirinya sekali pun?
Amora bahkan rela masuk kedalam rencana orang tua Kaiden, demi, demi untuk Kaiden benar-benar melihat nya, dan melupakan semua hal yang berkaitan dengan perempuan tersebut.
Tangan Amora terkepal erat, tidak! Tidak akan ia biarkan siapapun memiliki Kaiden.
Apabila dirinya tidak bisa memiliki cowo itu, siapapun tidak akan bisa memilikinya juga!
Bunyi pintu di banting membuat Kayshiel yang awalnya tertegun, langsung menyadari Amora yang bergelagat aneh.
Cewe itu berlari menuju pistol yang awalnya tergeletak di lantai, melihat hal itu, Kayshiel langsung bersiaga akan menembak perempuan itu duluan.
Sebelum peluru itu menembus kearah dada Amora, Kaiden di sisa-sisa kesadaran nya, merebut pistol di tangan Kayshiel dan tanpa ragu menembak Amora.
Setelah nya para medis dan polisi masuk dan segara mengevakuasi mereka. Kayshiel menemani Kaiden di dalam mobil ambulan.
Kaiden yang sudah di beri pertolongan pertama hanya bisa menatap Kayshiel dengan teduh, sungguh, ini pertama kali nya Kayshiel melihat sisi berbeda cowo itu.
Tangan Kayshiel yang menggenggam erat tangan Kaiden merasakan tangan pria itu mengusap punggung tangan nya, berusaha membuat gadis itu tetap tenang dan tidak perlu panik.
Dengan tiba-tiba pria itu membuka alat bantu pernapasan nya, mengucapkan beberapa kata yang mampu membuat Kayshiel terpaku.
"berbahagia lah, seperti sebelum mengenalku" lirihnya dengan senyum terulas tipis, di tengah sekarat nya, Kaiden tak lepas menatap wajah cantik pujaan hatinya.
Akhirnya.
Akhirnya aku berhasil menebus rasa bersalah ini.
Kayshiel tak bisa menghentikan air mata nya yang turun tanpa henti, "bertahan, aku hanya minta kamu tetap bertahan" ujar Kayshiel
Kaiden hanya tersenyum tanpa membalas apa-apa, tangan nya tak lepas mengusap tangan Kayshiel dengan lembut.
Mungkin saja, setelah ini ia tidak akan pernah bisa menyentuh gadis itu lagi.
Kayshiel hanya bisa berdoa untuk keselamatan pria itu, berharap semuanya akan baik-baik saja.
Perlahan usapan dari Kaiden semakin tak Kayshiel rasakan, mata pria itu juga dengan perlahan menutup.
Melihat hal itu Kayshiel dengan emosi yang tak terkendali memukul bagian depan mobil yang memberi sekat antara dirinya dan pengemudi agar mobil lebih cepat.
Tangis Kayshiel tak terkendali saat melihat Kaiden terpejam, Kayshiel takut, Kayshiel tak berani menyentuh urat nadi pria itu.
Kayshiel takut kehilangan Kaiden.
Ia takut tak akan bisa pernah melihat pria itu lagi.
Ia takut akan kehilangan orang-orang yang ia sayang lagi.
/ <><> \
Teman-teman ku tercintaaaa, maafkan aku yang suka telat iniiiiii. Karena ulangan udah selesai, jadi akhirnya baru bisa kepegang hp nya.
Doakan nilai aku tinggi yaa, Amiiinnn. Dan buat yang ulangan juga, kita doakan sama-sama.
Btw tebak ending dong hehe.
Besok tamat lhoooo.
See you part selanjutnya, dadahhhhhh🤍
KAMU SEDANG MEMBACA
Kayshiel (END)
Teen Fiction"buka selalu mata kamu, sampai aku dikebumikan." Kayshiel begitu mencintai Kaiden, tunangan hasil perjodohan orang tua nya. Mereka tidak saling membenci atau bahkan berusaha untuk memutuskan perjodohan itu, keduanya saling mencintai. Namun, itu semu...
