Pukulan demi pukulan mengenai seluruh tubuh Kaiden, dengan tali yang mengikat tubuhnya di kursi, pria itu terlihat tak berdaya di keroyok beberapa preman.
Termasuk Gerri, yang paling membenci Kaiden.
Gerri tidak menyangka, tunangan pria itu lah yang datang dan dengan sukarela meminta bantuan untuk membunuh tunangan nya sendiri.
Benar-benar luar biasa.
Saat ini tangan Gerri bahkan tak berhenti menyentuh wajah Kaiden yang sudah berdarah-darah, ia belum puas sampai laki-laki didepan nya mati.
Sedangkan Kayshiel,
Ia hanya diam menonton film action atau film pembunuhan? Yang ia buat sendiri.
Andai saja semua nya tidak seperti ini, semua orang di sekitarnya yang mengkhianati kepercayaan Kayshiel sendiri, dirinya tidak mungkin sampai melakukan ini semua.
Melihat Kaiden terduduk lemah di atas kursi dengan luka lebam dan darah yang mengucur dari tubuhnya, hanya kekosongan yang ia rasakan.
“berhenti.” titahnya.
Gerri menoleh hendak protes, “tapi gue belum bikin dia mati!”
“berhenti atau lo yang jadi giliran dia selanjutnya!” balas Kayshiel dengan mata menyorot dingin kearah Gerri, yang kini hanya mendengus kasar mengalihkan tatapan nya.
“keluar!”
Setelah hanya tersisa dirinya dan Kaiden di ruangan ini, Kayshiel dengan perlahan berjongkok di depan Kaiden.
Meneliti seluruh luka di tubuh pria itu.
Kekehan nya terdengar mengisi ruangan yang hening, “dahulu, gue yang ngobatin luka-luka lo,” ucapnya sembari menatap mata Kaiden yang terpejam.
“siapa yang menyangka seseorang yang dulunya mengobati justru pada akhirnya melukai?”
Tidak mendengar respon Kaiden, gadis tersebut menoleh untuk memastikan apakah pria tersebut masih bernafas apa tidak.
Setelah memastikan Kaiden masih bernafas, Kayshiel hanya bisa terduduk di sofa single di samping kursi yang Kaiden duduki.
Mata nya menatap telivisi yang sedang menyiarkan berita, lagi dan lagi nama keluarga Kaiden kembali muncul di tambah dengan orang tua nya yang kini sedang tersenyum sembari bergabung menghadap perkumpulan kelas atas yang di sorot oleh kamera.
Layar televisi seketika hitam begitu Kayshiel menekan tombol off, mata nya menyorot ke samping, mungkin saja sekarang Kaiden sudah tak sadarkan diri.
Lima menit telah berlalu, dan Kay masih tidak beranjak dari tempat nya yang hanya memperhatikan wajah Kaiden.
Bola mata Kaiden perlahan terbuka, mata nya melirik Kay dengan begitu dingin.
Wajah Kayshiel tersenyum lebar, seolah-olah baru saja bermain dengan teman, “gimana? Seru? Suka ga?”
Kaiden hanya diam tak lepas menatap Kayshiel dengan raut wajah menahan amarah.
Kayshiel bukan nya takut malah semakin menjadi-jadi, wajahnya ia ubah menjadi seolah ketakutan, “seremm, jangan marah dong, kan kita lagi main-main.” ucapnya menunduk takut, namun berbeda dengan senyuman nya yang menyeringai.
Sekian lama diam, akhirnya Kaiden membuka suara dan berucap lirih penuh penekanan.
“sekarang masih bisa main-main, tapi habis ini hidup lo berada di tangan gue, kapan pun, bisa saja giliran lo yang gue lenyapin.”
Kayshiel hanya tersenyum mendengarnya, tak lama suara dobrakan pintu dan langkah kaki mendekati mereka.
Kayshiel sudah mengira ini semua akan terjadi, kemungkinan-kemungkinan yang sudah ia perkirakan memang akan terjadi akhirnya.
Maka dari itu,
“baiklah, bakal gue wujudkan keinginan lo itu nanti, jadi alangkah baiknya...”
“tetap lah hidup, sampai kamu melihat aku di kebumikan.”
Ucapan Kayshiel yang terakhir kali dirinya dengar, sebelum kesadaran gadis itu terenggut begitu satu pukulan yang sangat keras menghantam kepala nya.
/ <><> \
Hai semua!
Part selanjutnya sudah mulai memasuki bab menuju ending.
Mungkin sekitar 10-15 part lagi akan tamat, dan aku bakal double up besok apabila teman-teman semua bisa mencapai target 50 vote dan 10 comment ya🤍
KAMU SEDANG MEMBACA
Kayshiel (END)
Novela Juvenil"buka selalu mata kamu, sampai aku dikebumikan." Kayshiel begitu mencintai Kaiden, tunangan hasil perjodohan orang tua nya. Mereka tidak saling membenci atau bahkan berusaha untuk memutuskan perjodohan itu, keduanya saling mencintai. Namun, itu semu...
