Kaiden Bageswara, hanya anak kecil yang mendambakan kasih sayang orang tuanya.
Sedari kecil, Bageswara dan istrinya hanya sibuk bekerja dan mengeruk harta untuk memuaskan sifat tamak nya, apapun akan mereka lakukan.
Sekalipun harus menjadikan anak kandung mereka sebagai objek untuk mendapatkan nya.
Kaiden, sedari kecil sudah lahir dengan sendok emas, banyak yang ingin berteman dengan nya demi terikat kerja sama bisnis yang bagus di masa depan.
Sekalipun demikian, dalam hati nya ia hanya ingin ketulusan.
Ketulusan cinta dan kasih sayang orang tua nya.
Ketulusan pertemanan tanpa memandang apapun.
Ketulusan cinta dalam hidupnya dari pasangan.
Demi mendapatkan ketulusan tersebut, maka Kaiden menerima keinginan orang tua nya untuk mendekati gadis kecil yang sekarang sedang tersenyum menatapnya.
Gadis kecil ini yang akan menjadi target orang tua nya, Kaiden tak mengerti apa yang di rencanakan orang tua nya, namun Kaiden hanya berharap bahwa setelah semua yang akan ia lakukan untuk mereka, akan mendapatkan cinta tulus yang ia dambakan selama ini.
Gadis ini yang menolong nya dari amukan sang ayah setelah hal yang baru saja ia lakukan benar-benar tidak terkendali.
“terimakasih sudah menolong ku, siapa nama mu?”
Tangan ku terulur untuk berjabat tangan, namun gadis itu masih diam.
Mata coklat nya terlihat menatap ku begitu kagum, respon nya sangat lucu.
“Kayshiel,” akhirnya aku mengetahui nama nya, tak di sangka ada sedikit kemiripan dengan ku.
Sepertinya ia tidak masalah melihat tangan ku yang kotor di penuhi darah, dan jadi menempel juga pada tangan mungil nya itu akibat tautan tangan kami.
“nama yang cantik, salam kenal Kayshiel,” remaja itu sempat menjeda ucapan nya, nampak ragu, tapi akhirnya melanjutkan ucapan nya, “aku Kaiden.”
Gadis yang malang, padahal aku baru saja melukai kakaknya yang begitu ia sayangi itu.
Akan ku buat kau seperti boneka ku yang akan aku kendalikan, seperti keinginan orang tua ku.
Memasuki masa putih biru, Kaiden remaja tak menampik bahwa gadis yang di jodohkan nya secara kecil mampu membuatnya selalu terpukau.
Gadis itu memang sulit ia kendalikan, tapi dengan segala cara dirinya pasti bisa mengendalikan nya.
Apalagi harus bersandiwara dengan memberikan kasih sayang penuh dan cinta, maka siapa pun pasti akan luluh juga di hadapkan dengan dua hal tersebut.
Dirinya melihat Kayshiel yang sedang tertawa kecil sembari melambaikan tangan ke arah teman nya.
“ayo kita pulang, aku punya hadiah buat kamu.” ujar ku sambil menggandeng tangan nya.
“oh ya? Aku penasaran kamu ngasih apa.”
Baru saja Kaiden ingin membalas ucapan Kayshiel, tiba-tiba saja perjalanan mereka terhenti begitu melihat beberapa teman bersekolah yang sama mencegah mereka.
Wajah Kaiden berubah datar, di lihatnya sekumpulan cowo itu sedang mendorong satu di antara mereka kearah kedua nya.
Lebih tepatnya pada gadis di samping nya.
“hai, nama ku Jean Bumintara, aku suka sama kamu. Kamu mau-” Kaiden tak ingin mendengar lebih banyak lagi, segera ia mengalihkan pandangan kearah lain.
Di tambah melihat teman-teman nya yang mulai mengeluarkan hasil yang mereka buat agar semakin meromantisasi keadaan.
Mereka buta ya? Apa tidak melihat tautan tangan yang terjalin di antara kami?
Apa-apaan cowo itu? Menembak Kayshiel dengan seperti itu? Sangat-sangat tidak effort dan menggelikan sekali.
Lagipula, kenapa gadis ini selalu di sukai orang lain sih? Ia muak melihat pemandangan seperti ini.
Aku melirik diam-diam untuk melihat respon apa yang diberikan Kay pada cowo bernama jelek itu.
Kaiden mendengus membuang muka begitu melihat senyuman gadis itu yang ia lihat.
Daripada semakin muak dan ingin menendang muka jelek cowo itu, lebih baik dirinya memisahkan diri dan menunggu di mobil jemputan saja.
Ya walaupun langkah yang ia ambil sangat kecil sekali agar masih bisa mendengarkan percakapan mereka.
Sayup-sayup Kaiden mendengar suara Kayshiel yang berbicara dengan Jean.
“maaf, Jean. Tapi aku tidak bisa menerima mu, orang di samping ku barusan adalah kekasih ku.”
Oh, bagus! Harusnya memang sedari awal kau berucap begitu!
“oh jadi itu pacar mu, jelek sekali. Oh ini, aku ada hadiah untuk mu, sekalipun kamu menolak ajakan ku, tapi aku memang berniat memberikan ini untuk mu.”
HEI! KAU YANG JELEK!
“oh, wow! Ini kan coklat kesukaan ku, sekarang produksi di Indonesia sudah sedikit, terimakasih banyak, aku benar-benar menyukai nya.”
“walaupun kau tidak menyukai pemilik coklatnya, setidaknya kau menyukai pemberian nya, kalau kau ingin lagi, datang saja pada ku, keluarga ku menjalin kerja sama dengan perusahaan coklat itu.”
HEI SIALAN!! APA-APAAN COWO ITU!
“apa sekarang aku bongkar tabungan ku saja ya untuk merebut perusahaan coklat itu dari mereka?” batin Kaiden.
Memasuki masa SMA, Kaiden mulai merasakan semua hal yang ia rencanakan tidak berjalan sesuai yang ia inginkan.
Kaiden tidak menyangka akan merasakan hal ini, cinta dan takut kehilangan.
Dirinya terlihat begitu menyedihkan, apa yang ia dambakan, justru di berikan oleh gadis yang dirinya khianati selama ini.
Ketulusan cinta dalam hidupnya.
Cewe yang sekarang sedang tertidur dalam pelukan nya ini, adalah cewe yang selama ini korban dari rencana mereka.
Cewe yang ia khianati.
Cewe yang akan menjadi boneka untuk mendapatkan keinginan nya.
Cewe yang akan ia tinggalkan setelah semua nya selesai.
Cewe bodoh yang rela melakukan apa saja untuk nya.
Cewe yang justru memberikan apa yang ia inginkan selama ini dalam hidup nya.
Cewe yang tulus tanpa memiliki keinginan tersembunyi di baliknya.
Melihat kekasihnya tersebut hanya akan menambah rasa bersalahnya, melihat senyuman tulusnya setiap pagi, melihat ia memperlakukan dirinya sebaik mungkin.
Yang bahkan, Kaiden rasanya tidak pernah memberikan hal yang tulus pada gadis itu.
Semua yang ia lakukan hanya lah topeng untuk melancarkan semua rencana dirinya dan orang tuanya.
Tapi sayangnya, karma memang ada nyata nya.
Justru kepura-puraan yang ia lakukan selama ini murni karena ada perasaan yang tumbuh dalam hati nya.
Perasaan cinta dan takut kehilangan.
Maka dari itu, Kaiden berdiri di sini, di depan pintu rumah seseorang.
Perempuan di depan nya terlihat kebingungan, meski tetap saja ada rasa senang yang hinggap melihat pentolan sekolah yang sangat populer berada tepat di depan nya.
“gue pengen lo jadi pacar pura-pura gue.”
Demi menyadarkan Kayshiel atas sandiwara yang mereka buat, maka Kaiden akan membuat semua rencana nya berantakan.
Kaiden hanya ingin, Kayshiel baik-baik saja, meskipun tidak bersama nya.
Perempuan itu, layak mendapatkan yang lebih baik.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kayshiel (END)
Fiksi Remaja"buka selalu mata kamu, sampai aku dikebumikan." Kayshiel begitu mencintai Kaiden, tunangan hasil perjodohan orang tua nya. Mereka tidak saling membenci atau bahkan berusaha untuk memutuskan perjodohan itu, keduanya saling mencintai. Namun, itu semu...
