Play lagu di atas, dan selamat membaca.
Apakah aku akan selalu yang kau pilih menjadi pameran utama dalam cerita mu?
Di satu ruangan yang gelap, gorden menutupi semua akses cahaya pada kamar itu, di dalam nya terdapat seorang perempuan yang duduk di lantai dengan kedua tangan memeluk lututnya.
Sudah satu hari terlewati setelah kejadian kemarin, sampai saat ini ia tidak di perbolehkan untuk keluar sedikitpun dari kamar.
Yang lebih menyedihkan nya lagi, orang tua nya sedang berpesta ria merayakan ke suksesan mereka.
Dengan di temani keheningan yang begitu lama, terdengar suara kunci seolah membuka pintu, cahaya sedikit masuk dari luar kamar sebelum gelap kembali menyelimuti sebab pintu di tutup.
Kayshiel tak peduli siapa yang datang ke kamarnya, ia hanya menunduk di depan kasur dan duduk di ubin lantai yang dingin.
"makan." titah seseorang dengan harum khas nya mendorong nampan makanan hingga menabrak kaki Kay.
Gadis itu tak merespon apapun, sebelum suara Kaiden kembali berbicara.
"turuti perintah gue, sebelum gue cekokin lo racun disini juga" ucap Kaiden tak main-main, kaki nya melangkah dan berdiri tepat di depan Kayshiel.
Perlahan rambut berwarna coklat itu terangkat untuk menatap objek di depan nya, dengan mata sayu ia berucap, "mana?"
Kaiden kembali mendorong nampan makanan itu menggunakan kaki nya, bermaksud agar gadis itu melihat nampan yang ia taruh.
"mana racun nya?"
Saat itu juga kaki nya berhenti mendorong, bola mata segelap malam itu mengarah pada objek di bawahnya, menatap bola mata coklat itu dengan diam.
Genggaman dalam saku celana nya mengeras, dengan wajah datar ia kembali berucap, kata-kata yang Kayshiel benci.
"makan atau lo mau kakak lo di pukulin lagi?"
Dengan tangan bergetar Kayshiel menarik nampan berisi makanan, rasa dingin yang menusuk dari kemarin lantaran ia tidak tertidur.
Sedangkan Kaiden melangkah menuju gorden, membuka nya agar cahaya bisa masuk, mata nya sakit melihat kegelapan seperti ini.
Saat berbalik dan duduk di sofa yang berada di kamar, mata nya mengamati aktivitas yang di lakukan Kayshiel.
Tangan putih itu bergetar mengangkat sendok untuk memasukan makanan ke mulut nya, walaupun terpaksa, ia lebih tak bisa menerima kembali apabila kakak nya di pukuli.
Menunduk dengan rambut nya yang beruraian menutupi wajah nya, tangan nya terus menyuap nasi ke dalam mulutnya tanpa henti.
Ia sudah merelakan semuanya, asalkan kakaknya baik-baik saja di luar sana.
Karena mungkin, sudah saatnya Kayshiel berhenti untuk mendorong dirinya agar tetap kuat dan baik-baik saja.
Sudah saatnya ia memilih untuk menyerah dan menerima kebahagiaan orang-orang atas kematian nya.
"uhuk uhuk"
Kayshiel mengambil sebotol air putih yang di sediakan dan meneguknya.
Tenggorokan nya terasa sakit, di tambah rasa nyeri di dada yang membuat nya kesulitan untuk menurunkan makanan itu ke perut.
Saat itu juga Kaiden akhirnya menatap wajah gadis itu, pucat hingga seperti mayat hidup.
Setelah tersisa sedikit, gadis itu mendorong jauh nampan tersebut, lalu berdiri dan menutup gorden yang terbuka, hingga semua kembali gelap.
Sedangkan Kaiden hanya diam menatap apa yang di lakukan Kayshiel hingga gadis itu kini berdiri di depan nya.
"keluar." bibir pucat itu mengeluarkan satu kata yang mampu membuat Kaiden menatap seluruh wajah gadis itu.
Walaupun gelap, Kaiden merasakan setetes air mata jatuh di tangan nya yang memang bertengger di atas lutut.
Setelah mengambil nampan makanan yang sudah hampir habis, Kaiden menutup pintu pelan sebelum suara isak tangis yang nyaring terdengar oleh telinga nya.
Melihat pintu yang sudah tertutup, Kayshiel tak mampu menahan nya lagi.
Kayshiel tak mampu menopang tubuhnya, dengan luruh tubuh nya terjatuh ke lantai, bahu nya bergetar hebat menahan tangis nya.
"hiks hiks"
Satu tangan nya memukul-mukul dada nya, rasa nya sakit sekali, padahal Kayshiel sudah makan lumayan banyak, kenapa di bagian dada nya seperti kosong?
Satu tangan yang membekap mulutnya ia lepas, ia tak bisa menahan lebih lama lagi, suara tangisan yang nyaring itu memasuki pendengaran Kaiden.
"Ini cuma sementara, " isak nya sambil menghapus air mata nya.
/ <><> \
Penebusan untuk kemarin yang telat update, dan terimakasih untuk vote nya.
Jangan bosan ya untuk menjadi saksi kisah hidup mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kayshiel (END)
Roman pour Adolescents"buka selalu mata kamu, sampai aku dikebumikan." Kayshiel begitu mencintai Kaiden, tunangan hasil perjodohan orang tua nya. Mereka tidak saling membenci atau bahkan berusaha untuk memutuskan perjodohan itu, keduanya saling mencintai. Namun, itu semu...
