Terjerat Hutang | Part 3 | Permulaan

2.7K 13 0
                                    

Tak lama kemudian, pintu terbuka. Wanita itu kembali lagi, memperhatikanku dengan tatapan dingin. "Kamu sudah bangun," katanya tanpa ekspresi. "Bagus. Kita masih punya banyak pekerjaan yang harus dilakukan."

Aku mencoba berbicara, tetapi suaraku serak dan hampir tidak terdengar. "Apa yang kamu lakukan padaku?"

Wanita itu mendekat, mengelus pipiku dengan sentuhan yang membuatku merasa semakin jijik. "Hanya memastikan kamu tetap patuh, Arman. Kalung itu akan memastikan kamu nggak bisa melawan. Kalau kamu melawan, kalung itu akan nyetrum kamu. Dan alat-alat lainnya... yah, itu bagian dari pelatihanmu."

"Apa... apa maksudmu dengan pelatihan?" tanyaku dengan suara gemetar.

Wanita itu tersenyum tipis, senyuman yang penuh dengan kebencian dan kekejaman. "Kamu akan belajar bagaimana melayani tamu-tamu kita dengan baik. Setiap kali kamu melawan atau coba kabur, kalung itu akan melakukan tugasnya. Dan alat-alat lainnya akan memastikan kamu tetap dalam kondisi terbaik untuk melayani."

Aku merasakan ketakutan menjalar di seluruh tubuhku. "Tolong, aku nggak bisa melakukan ini. Biarkan aku pergi," pintaku dengan suara yang hampir nggak terdengar.

Wanita itu hanya tertawa kecil. "Oh, Arman, atau seharusnya aku panggil Arani sekarang? Kamu nggak ngerti, ya? Nggak ada jalan keluar dari sini." Dia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih dingin, "Oh ya, cairan yang aku suntikkan kemarin adalah hormon estrogen dengan dosis tinggi yang akan mengubah kamu. Kamu akan mulai merasakan perubahan dalam tubuhmu, perubahan yang nggak bisa kamu hentikan."

Kata-katanya membuatku terdiam. "Hormon estrogen? Apa yang kamu maksud?" tanyaku dengan suara yang bergetar.

"Estrogen, Arani. Hormon wanita yang akan bikin tubuhmu berubah. Kulitmu akan jadi lebih lembut, otot-ototmu akan melemah, dan payudaramu akan mulai tumbuh. Sebentar lagi, kamu nggak akan bisa bedain dirimu dengan wanita lain," jawabnya dengan nada puas.

Aku merasa dunia berputar, seolah-olah tidak ada lagi yang nyata. "Nggak, tolong... jangan lakukan ini padaku," bisikku, air mata kembali mengalir di pipiku.

Wanita itu hanya tersenyum. "Ini udah terjadi, Arani. Terima kenyataan ini dan belajar hidup dengan itu. Kamu akan jadi milik kami sepenuhnya, tubuh dan pikiranmu."

Aku terdiam, merasakan beban yang tak tertahankan menimpa pundakku. Setiap kata-katanya menghancurkan sisa-sisa harapan yang kumiliki. Bagaimana aku bisa bertahan dalam kondisi ini? Bagaimana aku bisa menerima kenyataan bahwa tubuhku akan berubah menjadi sesuatu yang bukan diriku?


Baca selengkapnya di https://karyakarsa.com/auliashara atau klik link di bio. 

Terjerat HutangTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang