Terjerat Hutang | Part 14 | Bebas?

477 3 0
                                    

Ketika kami akhirnya sampai di pintu keluar, aku menatap pintu tua yang kusam itu dengan harapan yang besar. Rasanya seperti satu langkah terakhir yang harus kami lewati untuk bebas. Namun, begitu Dewi mencoba membukanya, pintu itu terkunci rapat. Tubuhku seketika tegang, tapi tidak ada waktu untuk panik. Itu bukan masalah besar, kami punya kunci. Segera, aku menyerahkan kunci pada Dewi dan menyuruhnya membuka pintu itu.

Dewi dengan cepat memasukkan kunci ke dalam lubangnya dan mencoba memutarnya. Tangannya gemetar, entah karena kegugupan atau rasa takut, tapi kunci itu tidak mau berputar dengan mudah. "Cepat, Dewi," bisikku dengan nada mendesak, pandanganku terus menerawang ke lorong di belakang kami. Suara langkah kaki yang berat mulai terdengar dari kejauhan, tanda bahwa kami tak punya banyak waktu lagi.

Dewi berusaha lagi, memutar kunci dengan kedua tangannya kini, berusaha sekuat tenaga. Aku bisa melihat butiran keringat yang mulai mengalir di dahinya, wajahnya memucat karena tekanan yang kami rasakan semakin meningkat. Langkah-langkah itu kini semakin jelas, lebih banyak dan lebih dekat. Degup jantungku semakin cepat seiring suara derap langkah yang terus mendekat.

"Ayo, Dewi! Mereka udah makin dekat!" suaraku bergetar, penuh dengan ketegangan. Aku mencoba tetap tenang, tapi hatiku sudah berdegup kencang, penuh ketakutan bahwa kami mungkin tidak akan sempat keluar dari sini.

Dewi terus mencoba, namun kunci itu tampak membandel, tidak mau bekerja seperti yang kami harapkan. Aku bisa merasakan keputusasaan mulai merayap ke dalam diriku, tetapi aku tahu bahwa kami harus tetap fokus. Tidak ada waktu untuk panik. Aku menatap Rina yang masih terkulai lemas di pelukanku, dan itu memberiku kekuatan baru. Aku tidak bisa menyerah sekarang.

Langkah-langkah itu semakin mendekat, setiap detik terasa seperti bilah tajam yang mengiris harapan kami. Rasanya dunia bergerak terlalu cepat, sementara kami terjebak dalam perlombaan melawan waktu yang terus berlari. Namun, Dewi masih bergumul dengan kunci yang tampaknya membangkang, belum juga berhasil membukanya. Napas kami tertahan, tercekik oleh kegelisahan dan ketakutan yang kian mencekam.

Aku terus menatap pintu, berharap ada keajaiban yang bisa mempercepat segalanya. Namun, suara derap langkah itu akhirnya berhenti. Dengan ngeri, aku menyadari apa artinya—orang-orang itu telah tiba, mereka tepat di belakang kami.

"Mau kabur ya?" Sebuah suara terdengar.


Baca selengkapnya di https://karyakarsa.com/auliashara atau klik link di bio. 

Terjerat HutangTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang