Terjerat Hutang | Part 12 | Harapan Baru

572 6 0
                                    

Saat kakiku melangkah keluar dari kamar untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, aku langsung merasa seolah berada di panggung, menjadi pusat perhatian dari tatapan-tatapan liar pria-pria hidung belang yang berkeliaran di sepanjang koridor. Tatapan mereka tajam, seperti binatang yang mengintai mangsa. Beberapa dari mereka mulai bersiul pelan, suara mereka berbisik-bisik, namun jelas mengarah kepadaku. Ada yang tersenyum licik, senyum-senyum menjijikkan yang menunjukkan apa yang ada dalam pikiran mereka. Aku bisa merasakan mataku perih, menahan emosi yang membuncah.

Salah satu dari mereka, pria dengan wajah kasar dan janggut berantakan, mengedipkan mata ke arahku dengan gaya yang sok akrab. Tubuhku menegang, tapi aku tahu, aku tak boleh terpancing oleh provokasi murahan ini. Mereka terus menggodaku, melontarkan kata-kata tak senonoh tanpa rasa malu.

"Hei, cantik!" teriak salah satu dari mereka dengan suara yang terdengar seperti lolongan serigala. Di sekelilingnya, pria-pria lain menimpali dengan gesture-gesture kotor, mengisyaratkan gerakan tubuh yang tak sopan. Aku mencoba untuk mengabaikan semua itu, meskipun hatiku terasa diiris-iris oleh rasa jijik dan marah. Setiap kali mereka berbicara atau memanggilku, rasanya seperti menusuk harga diriku.

Dalam batinku, ada keanehan yang semakin meresahkan. Aku dulu seorang pria—sama seperti mereka. Aku tahu bagaimana pikiranku bekerja saat itu, tapi tak pernah terlintas sedikit pun dalam pikiranku untuk merendahkan wanita seperti ini. Aku selalu menjaga kehormatan dan harga diri orang lain, tak peduli dalam situasi apa pun. Sekarang, berada di sisi lain dari tatapan penuh nafsu ini, aku bisa merasakan betapa kejamnya dunia yang penuh dengan kebejatan seperti ini.

Namun, momen yang paling mengejutkan datang ketika seorang pria berbadan besar, dengan rambut kusut yang terlihat seperti belum dicuci selama berminggu-minggu, tiba-tiba mendekat. Tubuhnya besar dan berotot, tampak menyeramkan dalam setiap langkahnya yang mendekatiku. Tanpa peringatan, sebelum aku sempat bereaksi, tangannya yang besar langsung meremas pantatku dengan kasar. Aku terperanjat, tubuhku seketika membeku karena syok dan ketakutan. Rasa marah yang membara naik dengan cepat, bercampur dengan perasaan takut yang mencengkeramku.

Seketika itu juga, darahku mendidih. Aku ingin memukul pria itu, ingin berteriak dan melawannya. Tapi aku tahu, melakukan itu hanya akan memperparah keadaan. Matanya menatapku dengan penuh ejekan, seolah-olah aku hanyalah mainan baginya, tak lebih dari sekadar hiburan murah. Sambil meremas pantatku, dia berkata dengan suara serak, "Mau ke mana sih, cantik? Sini, main dulu sama om."


Baca selengkapnya di https://karyakarsa.com/auliashara atau klik link di bio. 

Terjerat HutangTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang