Terjerat Hutang | Part 7 | Kembali Bersama

1.7K 11 0
                                    

Kami berdua duduk dalam keheningan, saling menggenggam tangan, mencari kekuatan dari satu sama lain. Rina menceritakan lebih banyak tentang penderitaannya, tentang pria-pria yang memaksanya melakukan hal-hal yang tidak manusiawi, tentang malam-malam yang penuh dengan rasa takut dan hina. Aku mendengarkan dengan hati yang berat, merasakan setiap kata yang diucapkannya sebagai luka baru di dalam hatiku.

"Aku merasa hidup ini nggak adil," kata Rina dengan suara pelan. "Setiap hari aku berharap ini semua cuma mimpi buruk yang suatu saat akan berakhir."

Aku merasakan air mataku kembali mengalir. "Aku juga, Sayang. Setiap hari aku berharap bisa bangun dan nemuin kalau semua ini cuma mimpi buruk. Tapi kita harus tetap kuat. Kita harus percaya kalau suatu hari nanti kita bakal bebas."

Rina mengangguk, mencoba menahan air matanya. "Iya, Mas. Kita harus tetap berjuang. Buat kita, buat masa depan yang lebih baik."

Dalam keheningan yang penuh dengan rasa sakit, kami saling berjanji untuk tidak menyerah, untuk terus berjuang meskipun jalan di depan terasa begitu sulit. Meskipun dunia di sekitar kami penuh dengan kegelapan, kami berdua tahu bahwa cinta kami adalah cahaya yang akan memandu kami keluar dari neraka ini.

Di tengah kesedihan kami, tiba-tiba pintu terbuka dengan kasar. Wanita itu masuk bersama seorang pria. Mereka memandang kami dengan tatapan penuh penghinaan dan mengejek. "Gimana, udah selesai reuni sama nangis-nangisnya?" katanya dengan nada sarkastis, senyum sinis mengembang di wajahnya.

Aku dan Rina hanya bisa diam saja, terlalu takut untuk mengatakan apa pun. Wanita itu kemudian memberi isyarat pada pria yang bersamanya. "Pasang kamera menghadap ke kasur," perintahnya tanpa emosi. Pria itu segera melaksanakan perintahnya, memasang tiga kamera di sudut-sudut ruangan, memastikan bahwa setiap sudut terlihat jelas.

Saat pria itu selesai dengan tugasnya, wanita itu mendekat, matanya menatap kami dengan intensitas yang menakutkan. "Tau kenapa kalian aku pertemukan lagi?" tanyanya dengan nada dingin.

Aku dan Rina tetap diam, jantungku berdebar kencang. Aku merasakan tangan Rina gemetar dalam genggamanku, dan aku berusaha memberikan sedikit kekuatan dengan menggenggamnya lebih erat.

Wanita itu melanjutkan, suaranya penuh dengan kebencian yang tertahan. "Khusus malam ini, kalian bakal ngelakuin sesuatu yang spesial," katanya dengan senyuman licik.

Aku merasa dingin menjalar di seluruh tubuhku. "Apa maksudmu?" tanyaku dengan suara bergetar.

Wanita itu tertawa kecil, suaranya penuh dengan kejam. "Kalian bakal tampil bareng. Para pelanggan kita sangat antusias lihat pasangan kaya kalian ngelakuin pertunjukan. Ini bakal jadi hiburan yang sangat mahal dan menguntungkan."

Kami terkejut, wajah kami semakin pucat. "Apa?" ucap kami bersamaan, suara kami terdengar penuh ketakutan dan ketidakpercayaan.


Baca selengkapnya di https://karyakarsa.com/auliashara atau klik link di bio. 

Terjerat HutangTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang