BAB 2. Chapter Kehidupan

13 13 0
                                        

Malam semakin larut, namun Titin masih terjaga sampai dini hari. Perempuan itu sudah kembali ke kostnya tadi sore setelah tiga hari menginap di rumah orang tuanya.

Di dalam kepala Titin terasa begitu berisik dan penuh. Begitu sibuk memikirkan bagaimana cara untuk mendapatkan uang lima puluh juta dalam satu bulan.

“Masa iya gue harus jadi ani-ani dulu biar bisa dapet duit dengan cara instan,” ceplos Titin. Namun setelahnya perempuan dengan rambut keriting itu segera menggeleng. “Idih ogah! Masa demi bisa dapet duit gue harus jual harga diri gue sih? Astaghfirullah!”

Titin membaringkan tubuhnya di atas kasur. Dia melirik kalender berukuran kecil yang ada di atas meja, tepat di samping ranjang miliknya.

“Gaji gue aja gak ada setengahnya utang Papa. Gue harus nyari duit lima puluh juta ke mana coba?” Titin mendengus, kepalanya semakin pusing. Bagaimana caranya untuk bisa mendapatkan uang lima puluh juta itu?

Tabungan yang Titin punya saat ini saja tidak menyampai angka dua puluh juta, gaji Titin yang perempuan itu dapatkan setiap bulannya hanya menyampai angka empat juta itu pun harus dia potong untuk kebutuhan kost dan lainnya.

Titin merubah posisi tidurnya menjadi terlentang, pandangannya langsung ke arah langit-langit kamar kostnya. Berusaha memutar otak, mencari cara agar bisa mendapatkan uang sebanyak itu dalam sebulan. Ada terlintas ide untuk ia berjualan sesuatu agar pendapatannya bertambah.

Kantuk seketika menyerang setelah jam dinding berbentuk bulat bewarna putih kini menunjukkan pukul dua belas malam, rasa lelah pada tubuhnya membuat Titin ingin mengarungi mimpi  dan dalam sekejap dia sudah terlelap. Membiarkan waktu berputar begitu cepat.

🧡

Sebuah postingan dari akun milik Kumara membuat Titin terpaku. Sudah hampir lima belas menit perempuan itu memandang sebuah postingan milik teman semasa sekolahnya dulu.

Kumaransi_ Bersama @Suarabook

abadikan dia dalam karya.

Pemenang juara satu mendapatkan uang 50JT! Buruuuuu! Daftar sekarang juga!

Melihat angka lima puluh juta membuat Titin menjadi tergiur untuk mendapatkannya. Postingan milik Kumara seolah memberikan solusi dari permasalahannya saat ini. Dia bisa mendapatkan uang lima puluh juta selama satu bulan tanpa harus menjual harga dirinya seperti pemikiran absurd yang sempat terlintas semalam.

Seharusnya Titin dapat bernapas lega karena sudah memiliki jawaban atas permasalahannya saat ini. Namun sayangnya rasa lega itu harus sirna karena dia baru saja menyadari bahwa Titin tidak bisa menulis sebuah novel!

Jangankan mengarang cerita, atau menyusun kata menjadi sebuah paragraf. Titin saja tidak suka baca! Buku yang Titin baca bisa dihitung dengan jari!

Buku novel milik Kumara saja dia baca hanya untuk memastikan apakah benar ada namanya di dalam sana dan ternyata ada! Setelah mengetahui jika ada secuil kisah miliknya di sana, Titin sudah tidak lagi membaca buku tersebut. Ya, sekali lagi ... Titin sangat tidak menyukai membaca buku.

Namun, Titin sedang membutuhkan uang saat ini. Jadi, dia harus menerima tantangan atau semacamnya itu. Anggap saja ini sebuah hal baru yang sebelumnya belum dia mencobanya.

Tidak ingin tiba-tiba berubah pikiran, Titin segera mendaftarkan diri sebagai peserta dengan cara meng-klik sebuah link yang baru saja dikirim oleh admin penerbit. Mengisi formulir hingga selesai.

Mengikuti lomba menulis selama satu bulan dengan modal nekat demi uang lalu kini langkah selanjutnya yang harus perlu Titin pikirkan adalah bagaimana cara mendapatkan ide untuk menulis dan Titin harus memulai dari mana? Karena ini benar-benar untuk pertama kalinya untuk dia.

“Ini kisah mana yang harus gue tulis, woy!” jerit Titin frustasi yang kini masih mengenakan baju kerjanya. Dia baru saja pulang tiga puluh menit lalu dan langsung merebahkan diri di atas kasur sembari bermain ponsel.


Besok nyambung lagi ....

Yang udah pernah baca Buku: Bumi untuk Kumara pasti tahu siapa si Titin ini. Yups, aku bikin spin off dan Titin menjadi tokoh yang aku bikin ceritanya sendiri.



Dialog dini hariTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang