BAB 4. Sebuah Alur

11 12 0
                                        

"Bagus ya! Bukannya kerja malah molor!" Titin terbangun saat dia mendengar teriakan dari sebelah kubikelnya. Lebih tepatnya seseorang yang tengah berdiri sembari bersedekap dada tepat di kubikel milik Wina dengan tatapan yang begitu tajam.

Titin tahu kali ini dia tidak dapat menghindari amukan dari Mas Bos, pemilik Kita Media, sebuah percetakan yang tidak begitu besar dengan karyawan yang saat ini berjumlah lima belas orang yang termasuk Titin di dalamnya.

"Gak heran kalau klien banyak yang protes. Kerjaan kamu aja cuman tidur terus. Kalau mau tidur mending kamu pulang aja dan gak usah datang lagi besok." Mas Bos berujar dan jika diartikan dengan cara ringkas dan menyayat hati kurang lebih seperti ini, "Kamu dipecat!" Titin meringis mendengarnya dan malu karena tertangkap basah sedang tidur di jam kerja.

Meski Mas Bos adalah bos yang tidak kaku dan mau diajak diskusi juga jarang marah-marah tetapi pria itu sangat tegas dan tidak segan-segan mengeluarkan orang-orang yang menurut pria itu kurang cocok dengannya.

Setelah mendapat komplenan yang begitu banyak dari customer dan semprotan dari Mas Bos, mata Titin seketika segar. Tidak ada rasa kantuk yang sempat hadir di tengah-tengah riwehnya pekerjaan yang tidak ada habis-habisnya.

Semprotan dari Mas Bos sungguh berefek dan bisa menghilangkan rasa kantuknya yang bahkan dapat mengalahkan dua cangkir kopi yang beberapa waktu lalu dia minum.

Titin segera membereskan pekerjaannya yang sempat berantakan sebelum jam pulang tiba, karena dia tidak bisa lembur. Waktunya harus dibagi untuk hal-hal lain. Termasuk melanjutkan menulisnya yang semalam belum kelar.

"Lo akhir-akhir ini kenapa jadi sering tidur di kantor, Tin? Emang Mas Bos ngasih lu lemburan?" Wina bertanya. Jelas perempuan itu merasa heran dengan Titin yang tidak biasanya tertidur di jam kantor. Titin adalah satu-satunya rekan kerja Wina yang tidak pernah neko-neko. Berangkat dan pulang tepat waktu, tidur tidak pernah melewati jam sembilan malam kecuali ada acara kantor yang mengharuskan Titin pulang telat. Titin juga bukan tipe orang yang suka pergi malam lalu pulang ke kost waktu subuh. Perempuan itu benar-benar orang yang lurus.

Jadi jangan heran jika Wina merasa ada yang tidak beres dengan Titin. Titin sudah merampungkan pekerjaannya dengan benar, sudah dia cek ulang untuk memastikan tidak adanya komplain dari customer. Perempuan itu mematikan komputernya setelah yakin jika hasil desain yang ia buat tadi sudah dia save. Lalu menoleh ke arah Wina yang ada di sebelah kanannya.

"Gak ada lemburan dari Mas Bos, sih. Tapi, akhir-akhir ini gue emang lagi susah tidur malam dan alhasil paginya gue ngantuk." Titin sengaja tidak memberi alasan mengapa dia bisa tertidur di kantor dan sialnya ketahuan oleh Mas Bos.

"Kenapa? Lo ada masalah? Masalah percintaan? Atau lo kelilit pinjol?" tanya Wina.

Mata Wina tiba-tiba saja memicing, menatap Titin dengan tatapan menggoda. "Jangan-jangan lo lagi jatuh cinta, ya?"

"Siapa yang lagi jatuh cinta?" Suara itu berasal dari pintu, membuat Titin dan Wina menoleh ke arah sumber suara.

Titin masih terus menatap ke arah laki-laki itu. Laki-laki yang tadi pagi memarahinya. Pria itu mendekat ke arah mereka.

"Si Titin, Mas. Titin lagi jatuh cinta sama ... Mas Bos!"

Kedua mata Titin langsung mendelik ketika mendengar ucapan Wina yang kelewat ngawur!

"Oh, gitu." Mas Bos mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu menatap Titin dengan senyum manis. "Terimakasih sudah jatuh cinta."

Mendengar itu jelas membuat Titin panik. Takut omongan ngawur Wina dianggap serius oleh bosnya.

"Jangan dengerin omongan Wina, Mas! Ngawur dia!" ucap Titin. Dengan cepat dia klarifikasi kepada Mas Bos.

"Beneran juga gak apa-apa."

Besok nyambung lagi ....

Dialog dini hariTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang