BAB 7. Sebuah Konflik

5 3 0
                                        

Dunia Titin masih baik-baik saja setelah mendapatkan undangan pernikahan yang Ira berikan kepadanya. Tidak ada rasa sedih atau marah yang Titin rasakan saat ini. Rasanya biasa-biasa saja. Perempuan itu hanya sedikit terkejut jika Ira yang dulu sempat menjadi temannya ternyata masih mengingat Titin di dalam hidup perempuan itu.

Dua hari lagi pernikahan mereka akan diadakan. Titin masih belum tahu kado apa yang akan perempuan itu berikan kepada Ira dan calon suaminya.

“Seandainya ada Bian versi nyata, gue mau satu deh!”

Titin menoleh ke arah meja  yang ada di sampingnya. Ada empat orang di sana, Titin tebak mereka adalah pegawai dari toko baju yang ada di samping kantor percetakan tempat kerjanya.

“Menurut gue Sigit brengsek banget sih. Kalau dia gak cinta sama Tina kenapa ngasih harapan ke dia dan malah nikah sama sahabat Tina!”

“Menurut gue tindakan Sigit gak brengsek, sih. Dia dari awal udah ngasih tahu kalau dia suka sama sahabat Tina dan Tina juga menurut gue dia dewasa banget. Cara dia berpikir juga keren karena Tina gak marah sama Sigit maupun Indah, dia juga paham kalau namanya perasaan gak bisa dipaksakan dan berpikir mungkin aja Sigit bukan yang terbaik buat dia. Toh, juga kalau emang jodoh gak akan kemana,” balas perempuan yang sedang mengenakan hijab.

“Jadi Tina emang sakit sih. Tapi itu yang terbaik buat dia. Buktinya diakhir cerita Tina bisa mewujudkan mimpinya dan dia bisa mendapatkan laki-laki yang benar-benar cinta sama dia.”

Lalu obrolan itu berganti dengan topik lain. Titin yang sedari tadi mencuri dengar hanya bisa diam. Isi kepalanya terasa penuh memikirkan obrolan tadi.

Lalu dia bergumam, “Jadi gue emang sakit, tapi diakhir cerita apakah gue bisa seperti Tina?”

“Tina siapa?” tiba-tiba saja Wina datang. Menghampiri Titin yang sedang sibuk dengan pikirannya.

Wina baru saja memesan Mie ayam, tadi sewaktu jam kerja tiba-tiba Wina ingin makan mie ayam. Katanya sedang ngidam. Si jabang bayi dari kemarin rewel ingin makan mie ayam. Wina memang baru mengetahui bahwa dirinya hamil beberapa hari lalu setelah perempuan itu ditemukan tidak sadarkan diri di mushola kantor.

Titin menggelengkan kepalanya, lalu dia menerima mangkok mie ayam yang baru saja dibawa oleh penjual. “Bukan siapa-siapa.”

Wina menerima mangkuk mie ayam yang Titin berikan padanya. Lalu wanita hamil itu melupakan pertanyaannya tadi yang wanita itu lontarkan kepada Titin. Fokus Wina saat ini seratus persen kepada mie ayam incarannya.

🧡

Wina sudah kembali ke mejanya dan sedangkan Titin, perempuan yang kini sedang menguncir rambut keritingnya dengan asal itu sekarang sedang berjalan menuju toilet dengan langkah yang terburu-buru.

Setelah selesai dengan urusannya, Titin yang berniat kembali ke mejanya pun dibuat terkejut saat melihat kehadiran Mas Bos yang sedang berdiri di depan toilet perempuan.

“Bisa kita bicara sebentar?”

Satu pertanyaan itu berhasil membawa Titin menuju ruangan Mas Bos. Bos yang sudah hampir dua tahun ini menjadi atasannya dan selama dua tahun itu tidak ada yang melebihi batasan. Hanya sekedar profesional saja.

“Ada apa Mas Bos?” tanya Titin langsung, enggan berlama-lama di ruangan atasannya berduaan saja. Takut timbul fitnah yang iya-iya.

“Aku kangen kamu manggil aku ... Alien.”

Kedua alis Titin sudah menyatu, perempuan itu menatap sang atas dengan tatapan bingung sekaligus terkejut.

“Maaf Mas Bos, kalau tidak ada yang penting lebih baik saya kembali ke meja saya dan merampungkan pekerjaan,” tutur Titin, berharap Mas Bos mengerti bahwa jarak yang ada pada saat ini diantara mereka tidak lebih dari hubungan profesional.

Laki-laki itu menghela napas panjang. Titin mengalihkan pandanganya ke arah lain, enggan menatap atasannya yang kini sedang menatapnya intens.

“Aku sudah baca karya kamu, Aku suka karakter Sigit yang tegas dan tahu tujuannya siapa. Cuman aku harap diakhir cerita nanti ... Sigit bersatu dengan Tina. Bukan dengan Indah.”

Laki-laki itu terdiam setelah menyelesaikan pendapatnya mengenai novel yang saat ini sedang on going di aplikasi online.

“Sepertinya kurang etis membicarakan hal pribadi di jam kerja bapak Ali Endaro Sigit. Sudah hampir setengah jam dan anda hanya membahas hal tidak penting?” Titin menatap tajam ke arah laki-laki yang ada di depannya ini. Menekan suaranya agar pria itu paham jika Titin tidak menyukai pembicaraan yang saat ini mereka berdua bicarakan.

Selama ini dia berusaha untuk tetap bersikap profesional meski perempuan itu menekan dirinya untuk tidak bersikap yang tidak-tidak terhadap atasannya ini.

Beberapa kali Titin mati-matian menahan hasratnya untuk tidak menampar atau membunuh pria yang ada di depannya saat ini.

Ali Endaro Sigit. Pria yang sudah hampir dua tahun ini menjadi bosnya di tempat kerja Titin adalah pria yang dulu pernah Titin cinta sekaligus pria yang pernah mempermalukannya di depan semua angkatan dengan pernyataan yang menyayat hati.

Titin Martina, cewek kribo dekil yang bisa-bisanya bermimpi jadi pacar gue! Padahal semua orang tahu kalau gue udah punya pacar yang jelas lebih cantik. Indira Gandhi. Menurut kalian gue lebih layak sama siapa?”

Titin menahan napasnya beberapa saat ketika ingatan itu muncul, kedua tangan perempuan itu mengepal di bawah meja. Menekan dadanya yang terasa sesak setiap kali ingatan itu kembali muncul tanpa permisi.

Titin memang tidak bisa melupakan perilaku pria itu di masa lalu, tetapi ketika ingatan itu kembali muncul, perempuan itu tidak dapat mencegah rasa sesak yang tiba-tiba menyerang.

Tatapan Ali begitu sendu. Rasa penyesalan itu terlihat di kedua bola mata yang Ali pancarkan.

“Aku minta maaf. Baik di masa lalu maupun di masa sekarang. Jujur aku menyesal dan aku juga tidak memaafkan aku yang dulu.” Ali menarik napasnya berat. Lalu kembali melanjutkan ucapannya.

“Kamu harus tahu satu fakta yang sedari dulu aku simpan, Tin. Sebelum aku menjadi milik orang lain.”

Titin bergeming, tidak membuka suara sedikit pun. Perempuan itu tidak tahu harus berkomentar apa.

“Dari dulu sampai saat ini, hatiku masih jadi milik kamu. Kamu adalah pemiliknya.”

Percakapan itu sudah selesai beberapa jam yang lalu, tetapi Titin masih terus memikirkan ucapan Ali yang sangat menganggu pikirannya. Pertanyaan-pertanyaan timbul di benak Titin. Jika Ali memang mencintainya lalu kenapa laki-laki itu lebih memilih Indira ketimbang dia?

Lalu apa tujuan Ali yang sebenarnya? Kenapa pria itu mengungkapkan perasaannya di detik-detik pernikahan pria itu yang sebentar lagi akan dilaksanakan?

Besok nyambung lagi ....

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jul 08, 2024 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Dialog dini hariTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang